Sri Edi Swasono Terima Penghargaan Koperasi Awards 2026, Optimis Gerakan Koperasi Bangkit
Suasana puncak Koperasi Awards 2026 berlangsung khidmat ketika nama seorang akademisi senior disebut dari atas panggung. Profesor Sri Edi Swasono, ekonom yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sala...
Suasana puncak Koperasi Awards 2026 berlangsung khidmat ketika nama seorang akademisi senior disebut dari atas panggung. Profesor Sri Edi Swasono, ekonom yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pejuang paling gigih bagi gerakan koperasi di Indonesia, menerima Anugerah Amerta Bakti atas dedikasinya yang tidak pernah padam. Penghargaan itu bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas konsistensi pemikiran dan perjuangan yang ia rawat jauh sebelum isu ekonomi kerakyatan ramai dibicarakan seperti sekarang.
Penghargaan bagi Dedikasi Sepanjang Hayat
Anugerah Amerta Bakti diberikan kepada tokoh yang dinilai memberikan kontribusi luar biasa bagi perkembangan koperasi nasional. Dalam konteks ini, nama Sri Edi Swasono bukanlah nama asing. Sebagai guru besar ilmu ekonomi, ia telah lama menempatkan koperasi sebagai bagian tak terpisahkan dari gagasan ekonomi kerakyatan, sebuah konsep yang meyakini bahwa kekuatan ekonomi bangsa seharusnya berpijak pada partisipasi rakyat banyak, bukan hanya segelintir pemilik modal.
Sepanjang karier akademiknya, ia konsisten menyuarakan pentingnya koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional. Baginya, koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan wadah bagi rakyat untuk mengelola kekuatan ekonominya sendiri secara gotong royong. Pandangan itu ia sampaikan berulang kali di ruang kelas, seminar, hingga forum-forum kebijakan. Penghargaan ini pun dianggap sebagai buah dari perjalanan panjang yang tidak pernah ia lakukan demi popularitas, melainkan demi keyakinan bahwa koperasi bisa menjadi jalan keluar bagi persoalan kesenjangan ekonomi.
Harapan Agar Koperasi Kembali Menjadi Tiang Ekonomi
Di tengah penerimaan penghargaan itu, Sri Edi Swasono menyampaikan harapan yang jernih: koperasi semestinya lebih dihargai dan terintegrasi dalam arsitektur ekonomi Indonesia. Ia menekankan bahwa selama ini koperasi kerap diposisikan sebagai pelengkap, padahal semangat pendirian bangsa sejak awal menempatkannya sebagai pilar utama. Menurutnya, penghargaan yang sesungguhnya tidak cukup berhenti pada seremoni, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan yang memberi ruang lebih luas bagi koperasi untuk tumbuh, berinovasi, dan bersaing.
Harapan itu lahir dari keprihatinan yang telah lama ia sampaikan. Di banyak kesempatan, ia mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia masih terlalu bergantung pada kekuatan modal asing dan konglomerasi, sementara potensi koperasi yang melibatkan jutaan anggota belum tergarap maksimal. Ia percaya, jika koperasi diberi kesempatan setara dan dukungan nyata, gerakan ini mampu menjadi motor pemerataan ekonomi yang selama ini menjadi cita-cita bersama.
Tantangan dan Peluang di Era Digital
Gelaran Koperasi Awards 2026 sendiri berlangsung di tengah babak baru pergerakan koperasi. Di satu sisi, koperasi menghadapi tantangan besar, mulai dari persoalan tata kelola, sumber daya manusia, hingga gempuran platform digital yang mengubah cara orang bertransaksi. Di sisi lain, teknologi justru membuka peluang bagi koperasi untuk menjangkau anggota yang lebih luas, mempercepat layanan, serta meningkatkan transparansi pengelolaan.
Banyak kalangan menilai bahwa masa depan koperasi sangat ditentukan oleh kemampuan beradaptasi. Koperasi modern tidak lagi cukup hanya mengandalkan iuran anggota dan usaha simpan pinjam, tetapi perlu merambah sektor-sektor produktif, memperkuat kelembagaan, serta membangun kemitraan strategis dengan pemerintah dan dunia usaha. Di sinilah pesan yang terus digaungkan oleh tokoh-tokoh seperti Sri Edi Swasono menemukan relevansinya: koperasi harus diperlakukan sebagai kekuatan ekonomi sungguhan, bukan sekadar warisan sejarah.
Bukan Sekadar Seremoni
Penganugerahan Amerta Bakti kepada Sri Edi Swasono menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun ekonomi kerakyatan membutuhkan tokoh yang berani konsisten meski arus zaman berubah. Penghargaan ini juga menjadi cermin bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menepati janji-janji pemberdayaan koperasi yang kerap digaungkan. Jika semangat yang diwakili oleh sosok seperti Sri Edi Swasono benar-benar dihidupkan dalam kebijakan, bukan mustahil koperasi kembali menempati posisi terhormat sebagai tiang perekonomian nasional.
Keyakinan bahwa koperasi bakal maju bukanlah mimpi kosong. Ia berpijak pada kenyataan bahwa gerakan ini memiliki modal sosial yang kuat: kepercayaan, kebersamaan, dan semangat gotong royong yang mengakar di masyarakat. Yang dibutuhkan hanyalah keseriusan untuk merawatnya. Malam itu, saat Anugerah Amerta Bakti diserahkan, publik kembali diingatkan bahwa koperasi bukan masa lalu, melainkan masa depan yang menunggu untuk diperjuangkan bersama.
Comments (0)