Vietnam Bidik Ekonomi 11 Persen, Fitch Ingatkan Risiko Perbankan
Vietnam tengah memasang target besar untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga dua digit pada 2026. Namun, ambisi tersebut mendapat sorotan tajam dari lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings...
Vietnam tengah memasang target besar untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga dua digit pada 2026. Namun, ambisi tersebut mendapat sorotan tajam dari lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings yang mengingatkan bahwa sektor perbankan negara itu bakal menanggung beban berat dari ekspansi ekonomi yang terlalu agresif.
Ambisi Pertumbuhan Dua Digit Hanoi
Pemerintah Vietnam telah menetapkan sasaran pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kisaran 10 hingga 11 persen untuk tahun depan. Target ini jauh melampaui rata-rata pertumbuhan negara-negara Asia Tenggara dan menempatkan Hanoi sebagai salah satu ekonomi paling agresif di kawasan.
Untuk mencapai angka tersebut, pemerintah Vietnam menyiapkan sejumlah strategi. Di antaranya adalah percepatan pembangunan infrastruktur berskala besar, peningkatan investasi asing langsung, serta penguatan sektor manufaktur yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut. Belanja publik juga direncanakan naik signifikan demi mendorong aktivitas ekonomi domestik.
Ekonomi Vietnam sendiri mencatatkan kinerja impresif dalam beberapa tahun terakhir. Negara berpenduduk sekitar 100 juta jiwa ini berhasil memanfaatkan pergeseran rantai pasok global, di mana banyak perusahaan multinasional memindahkan produksinya dari China ke Vietnam. Aliran investasi asing pun terus mengalir deras ke sektor elektronik, tekstil, dan manufaktur berteknologi tinggi.
Meski demikian, mengejar pertumbuhan dua digit bukanlah perkara mudah. Ekonomi yang tumbuh terlalu cepat berisiko mengalami overheating, memicu inflasi, dan menciptakan gelembung di sektor properti serta pasar keuangan.
Peringatan Fitch untuk Sektor Perbankan
Fitch Ratings menilai target pertumbuhan yang sangat tinggi itu akan menekan kondisi bank-bank Vietnam. Pasalnya, untuk mendanai ekspansi ekonomi sebesar itu, penyaluran kredit harus tumbuh jauh lebih cepat daripada pendapatan dan permodalan perbankan itu sendiri.
Lembaga pemeringkat tersebut menyoroti beberapa kerentanan utama. Pertama, pertumbuhan kredit yang terlalu pesat berpotensi menurunkan kualitas aset perbankan. Ketika bank dipacu menyalurkan pinjaman dalam jumlah besar dalam waktu singkat, standar penilaian kelayakan debitur cenderung mengendur, sehingga risiko kredit macet meningkat di kemudian hari.
Kedua, rasio kecukupan modal bank-bank Vietnam tergolong tipis dibandingkan negara-negara tetangganya. Dengan modal yang terbatas, kapasitas bank untuk menyerap kerugian akibat pinjaman bermasalah menjadi rentan. Jika ekonomi tiba-tiba melambat atau terjadi guncangan eksternal, sejumlah bank berisiko menghadapi tekanan likuiditas yang serius.
Ketiga, Fitch juga mengingatkan soal eksposur perbankan Vietnam terhadap sektor properti. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar properti negara itu sempat mengalami gejolak, dan beberapa pengembang besar mengalami kesulitan membayar utang. Keterkaitan erat antara bank dan pengembang properti membuat risiko di satu sektor mudah menjalar ke sektor lainnya.
Pengalaman Pahit Masa Lalu
Kekhawatiran Fitch bukan tanpa dasar. Vietnam pernah mengalami krisis perbankan pada awal 2010-an, ketika kredit yang tumbuh terlalu cepat berujung pada lonjakan utang macet. Pemerintah saat itu terpaksa melakukan restrukturisasi besar-besaran, menggabungkan bank-bank lemah, dan membentuk badan khusus untuk mengelola aset bermasalah.
Lebih baru lagi, publik masih mengingat kasus salah satu bank swasta terbesar di Vietnam yang mengalami penarikan dana besar-besaran oleh nasabah pada 2022. Kejadian itu memaksa bank sentral turun tangan memberikan dukungan likuiditas darurat demi mencegah krisis yang lebih luas. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik terhadap sistem perbankan bisa goyah dengan cepat.
Bank sentral Vietnam sejauh ini berupaya menyeimbangkan dua kepentingan. Di satu sisi, mereka harus mendukung target pertumbuhan pemerintah dengan menjaga ketersediaan kredit. Di sisi lain, stabilitas sistem keuangan tetap harus dijaga agar tidak mengulang kesalahan masa lalu.
Tantangan di Tengah Ketidakpastian Global
Ambisi Vietnam juga menghadapi ujian dari lingkungan eksternal yang tidak menentu. Ketegangan perdagangan global, potensi perubahan kebijakan tarif dari Amerika Serikat, serta perlambatan ekonomi China bisa memengaruhi kinerja ekspor Vietnam yang selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan.
Para ekonom menilai, mengejar angka pertumbuhan setinggi langit tanpa fondasi keuangan yang kokoh justru bisa menjadi bumerang. Pertumbuhan yang lebih moderat namun berkelanjutan dinilai lebih sehat bagi perekonomian jangka panjang, daripada lonjakan sesaat yang berakhir dengan krisis perbankan.
Kendati demikian, sejumlah analis tetap optimistis terhadap prospek Vietnam. Fundamental ekonomi negara itu dinilai kuat, didukung demografi muda, produktivitas yang meningkat, dan posisi strategis dalam rantai pasok global. Kuncinya, menurut mereka, adalah memastikan ekspansi kredit berjalan seiring dengan penguatan permodalan dan pengawasan perbankan yang lebih ketat.
Kini, mata dunia tertuju pada Hanoi. Apakah Vietnam mampu mewujudkan mimpi pertumbuhan dua digit tanpa mengorbankan stabilitas keuangannya, atau justru peringatan Fitch akan terbukti benar, hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Comments (0)