Gelombang Panas Landa Korut, Warga Didorong Santap Sup Daging Anjing

Korea Utara tengah menghadapi terjangan gelombang panas ekstrem yang membuat suhu di sejumlah wilayah melonjak drastis dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah kondisi cuaca yang kian menyengat, media...

Aug 10, 2026 - 05:21
0 0
Gelombang Panas Landa Korut, Warga Didorong Santap Sup Daging Anjing

Korea Utara tengah menghadapi terjangan gelombang panas ekstrem yang membuat suhu di sejumlah wilayah melonjak drastis dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah kondisi cuaca yang kian menyengat, media pemerintah justru mengampanyekan cara unik untuk menjaga stamina tubuh, yakni dengan menyantap sup daging anjing dan kaldu ayam yang dipercaya mampu mengembalikan energi yang terkuras akibat panas berlebih.

Kampanye tersebut disiarkan melalui berbagai saluran resmi negara, mulai dari surat kabar hingga stasiun televisi. Dalam pemberitaannya, hidangan berbahan daging anjing yang dikenal dengan nama bosintang digambarkan sebagai makanan berkhasiat yang cocok disantap saat musim panas. Selain itu, kaldu ayam ginseng atau samgyetang juga turut direkomendasikan sebagai menu alternatif untuk menjaga kebugaran tubuh selama cuaca panas melanda.

Suhu Udara di Atas Rata-Rata

Badan meteorologi setempat melaporkan bahwa sejumlah kota besar, termasuk Pyongyang, mencatatkan suhu harian yang jauh melampaui rata-rata musiman. Gelombang panas kali ini disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir, dengan temperatur yang menyentuh angka di atas 35 derajat Celsius di beberapa daerah.

Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi warga Korea Utara. Keterbatasan akses terhadap pendingin ruangan dan pasokan listrik yang tidak stabil membuat masyarakat harus mencari cara lain untuk bertahan dari sengatan panas. Pemerintah pun gencar mengimbau warganya untuk menjaga kesehatan, memperbanyak asupan cairan, dan mengonsumsi makanan yang dianggap mampu memulihkan tenaga.

Filosofi Melawan Panas dengan Panas

Anjuran menyantap sup panas di tengah cuaca terik sebenarnya bukan hal baru di Semenanjung Korea. Tradisi tersebut berakar pada filosofi kuno yang dikenal dengan sebutan iyeol chiyeol, yang secara harfiah berarti melawan panas dengan panas. Masyarakat Korea percaya bahwa mengonsumsi makanan panas saat musim panas dapat membantu tubuh menyeimbangkan suhu internal dengan kondisi lingkungan.

Dalam kepercayaan tradisional, hari-hari terpanas dalam kalender musim panas yang dikenal sebagai sambok atau boknal merupakan momen paling tepat untuk menyantap hidangan berkuah panas. Pada masa itu, sup daging anjing dan kaldu ayam ginseng menjadi sajian yang paling diburu karena diyakini mampu mengusir kelelahan serta meningkatkan daya tahan tubuh.

Bosintang sebagai Hidangan Musiman

Bosintang sendiri merupakan sup tradisional yang dimasak dengan daging anjing bersama campuran sayuran dan rempah-rempah seperti daun perilla, bawang, serta cabai. Hidangan ini telah menjadi bagian dari budaya kuliner Korea selama berabad-abad, meskipun popularitasnya kini menurun di kalangan generasi muda.

Di Korea Utara, hidangan tersebut masih mempertahankan posisinya sebagai makanan istimewa yang kerap disajikan saat musim panas tiba. Media pemerintah bahkan menyebutnya sebagai salah satu kuliner kebanggaan nasional yang patut dilestarikan. Sejumlah rumah makan khusus yang menyajikan menu ini juga dilaporkan ramai dikunjungi warga selama periode gelombang panas berlangsung.

Tantangan Ketahanan Pangan

Di balik kampanye kuliner tersebut, Korea Utara sebenarnya masih bergulat dengan persoalan ketahanan pangan yang cukup serius. Gelombang panas berkepanjangan dikhawatirkan dapat mengganggu produktivitas pertanian yang menjadi tulang punggung pasokan makanan negara tersebut. Kekeringan yang menyertai cuaca ekstrem berpotensi merusak tanaman padi dan jagung yang siap dipanen.

Sejumlah pengamat menilai anjuran mengonsumsi sup daging anjing dan kaldu ayam juga dapat dibaca sebagai upaya pemerintah mengalihkan perhatian publik dari keterbatasan pasokan bahan pangan pokok. Dengan menonjolkan kuliner tradisional, pemerintah berusaha menampilkan kesan bahwa kehidupan masyarakat tetap berjalan normal meski diterpa cuaca ekstrem.

Kontras dengan Korea Selatan

Langkah Korea Utara ini terlihat kontras dengan tetangganya di selatan. Korea Selatan baru saja mengesahkan undang-undang yang melarang praktik pembiakan, penyembelihan, dan penjualan daging anjing untuk konsumsi manusia. Kebijakan tersebut lahir dari perubahan pandangan masyarakat yang kini lebih memandang anjing sebagai hewan peliharaan ketimbang sumber makanan.

Perbedaan sikap kedua negara ini mencerminkan jurang budaya dan politik yang semakin lebar di Semenanjung Korea. Sementara Seoul bergerak mengikuti tren global soal kesejahteraan hewan, Pyongyang justru mempertahankan tradisi lama sebagai bagian dari identitas nasionalnya.

Hingga kini, otoritas Korea Utara belum memberikan gambaran pasti mengenai berapa lama gelombang panas ini akan berlangsung. Namun, warga diimbau untuk tetap waspada terhadap risiko dehidrasi dan serangan panas, sembari terus mengikuti arahan kesehatan yang disampaikan melalui media resmi pemerintah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User