Tren Baru di Korea Selatan, Bayi-Bayi Kini Tercatat sebagai Investor Saham
PATOKAN — Cara orang tua menyiapkan masa depan anak di Korea Selatan tengah berubah. Bukan lagi sekadar menabung di bank atau membeli emas, banyak orang tua di Negeri Ginseng kini membuka rekening i...
PATOKAN — Cara orang tua menyiapkan masa depan anak di Korea Selatan tengah berubah. Bukan lagi sekadar menabung di bank atau membeli emas, banyak orang tua di Negeri Ginseng kini membuka rekening investasi atas nama buah hati mereka, bahkan ketika sang anak masih berusia hitungan bulan.
Hasilnya, jumlah investor cilik di pasar modal Korea Selatan terus membengkak. Sebagian dari mereka bahkan tercatat sebagai pemegang saham perusahaan-perusahaan raksasa sebelum menginjak usia sekolah. Fenomena ini mencerminkan pergeseran besar dalam cara masyarakat Korea memandang uang, warisan, dan pendidikan finansial.
Bermula dari Demam Investasi Ritel
Akar tren ini bisa ditelusuri ke masa pandemi Covid-19, ketika jutaan warga Korea Selatan ramai-ramai terjun ke pasar saham. Gelombang investor ritel yang dikenal dengan sebutan "semut donghak" itu mengubah lanskap pasar modal setempat secara permanen. Investasi saham, yang dulu dianggap wilayah orang kaya dan berpengalaman, mendadak menjadi aktivitas sehari-hari lintas generasi.
Ketika euforia itu mereda, kebiasaan berinvestasi justru mengendap menjadi budaya. Para orang tua muda yang merasakan langsung dinamika pasar mulai berpikir lebih jauh: mengapa tidak memulai lebih awal untuk anak-anak mereka? Dari sanalah lahir gelombang pembukaan rekening efek untuk anak di bawah umur.
Insentif Pajak yang Menggiurkan
Faktor lain yang membuat tren ini melesat adalah aturan perpajakan. Di Korea Selatan, orang tua dapat menghibahkan sejumlah dana kepada anaknya dengan pembebasan pajak hingga batas tertentu. Untuk anak di bawah umur, batas hibah bebas pajak mencapai 20 juta won atau setara sekitar Rp230 juta per sepuluh tahun. Angka itu lebih besar lagi, yakni 50 juta won, untuk anak yang sudah dewasa.
Dengan skema ini, membuka rekening investasi atas nama anak bukan sekadar langkah finansial, melainkan juga strategi perencanaan warisan yang sah dan efisien. Orang tua bisa memindahkan kekayaan secara bertahap tanpa terbebani pajak hibah, sekaligus membiarkan dana itu bertumbuh lewat pasar modal dalam jangka panjang.
Samsung, Saham Favorit Para Investor Cilik
Lantas, saham apa yang diborong untuk para bocah ini? Jawabannya nyaris seragam: Samsung Electronics. Raksasa teknologi kebanggaan Korea itu menjadi pilihan utama orang tua karena dianggap stabil, likuid, dan merepresentasikan masa depan ekonomi negara.
Saking populernya, jumlah pemegang saham Samsung Electronics yang berusia di bawah umur diperkirakan mencapai ratusan ribu orang. Artinya, sebagian anak Korea secara harfiah telah menjadi pemilik sebagian kecil perusahaan terbesar di negaranya sejak usia dini. Selain Samsung, sejumlah orang tua juga memilih saham perusahaan global seperti Apple dan Tesla, hingga produk reksa dana serta exchange-traded fund (ETF) yang lebih terdiversifikasi.
Panggung Pendidikan Finansial Sejak Dini
Di luar pertimbangan pajak dan keuntungan, banyak orang tua memandang rekening investasi anak sebagai alat pendidikan. Dengan memiliki portofolio sungguhan, anak-anak diharapkan belajar memahami konsep menabung, risiko, kesabaran, dan kekuatan bunga majemuk sejak kecil.
Sejumlah keluarga bahkan menjadikannya ritual. Uang hadiah tahun baru, angpau dari kakek-nenek, atau tabungan saku anak disetorkan ke rekening investasi, lalu dibahas bersama perkembangannya. Bagi keluarga-keluarga ini, grafik naik-turun harga saham adalah materi belajar yang jauh lebih hidup ketimbang buku teks ekonomi mana pun.
Industri keuangan pun sigap menangkap peluang. Perusahaan sekuritas dan aplikasi finansial di Korea berlomba meluncurkan fitur rekening anak dengan antarmuka ramah keluarga, proses pembukaan yang mudah, serta konten edukasi untuk investor pemula berusia belia.
Bukan Tanpa Risiko dan Kritik
Meski terdengar menarik, tren ini tidak lepas dari sorotan. Sejumlah pengamat mengingatkan bahwa pasar saham tetap mengandung risiko kerugian. Dana yang diniatkan untuk pendidikan anak bisa menyusut jika ditempatkan pada aset yang salah atau ditarik di momen yang keliru.
Ada pula kekhawatiran dari sisi psikologis. Jika tidak dibimbing dengan benar, anak justru bisa menyerap budaya spekulasi alih-alih investasi yang sehat. Apalagi di Korea Selatan, demam perdagangan jangka pendek dan aset kripto sempat menjerat banyak investor muda dalam kerugian besar.
Karena itu, para perencana keuangan menyarankan orang tua memperlakukan rekening investasi anak sebagai instrumen jangka panjang. Pilih aset yang fundamental, hindari keputusan emosional, dan jadikan prosesnya sarana dialog tentang uang, bukan sekadar mengejar cuan.
Pelajaran untuk Indonesia
Fenomena di Korea Selatan ini menyimpan pelajaran menarik bagi negara lain, termasuk Indonesia. Kesadaran berinvestasi sejak dini, ditopang kebijakan yang ramah keluarga dan infrastruktur keuangan digital yang mudah diakses, terbukti mampu menumbuhkan budaya investasi lintas generasi.
Di Indonesia sendiri, minat masyarakat terhadap pasar modal terus naik dan jumlah investor muda kian dominan. Bukan tidak mungkin, dalam beberapa tahun ke depan, pemandangan bayi memiliki portofolio saham juga akan menjadi hal lazim di Tanah Air. Yang jelas, pesan utamanya universal: semakin dini seseorang mengenal investasi, semakin panjang waktu yang dimiliki uang untuk bertumbuh.
Comments (0)