Wakapolri Ajak Generasi Muda Jadi Talenta Digital, Bukan Sekadar Penonton
Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol Dedi Prasetyo menegaskan pentingnya peran aktif generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Ia mendorong anak-anak muda I...
Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol Dedi Prasetyo menegaskan pentingnya peran aktif generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Ia mendorong anak-anak muda Indonesia untuk tidak berpuas diri menjadi penonton di ruang digital, melainkan tampil sebagai talenta yang mampu berkarya, berinovasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Seruan ini disampaikan Dedi sebagai bagian dari komitmen Korps Bhayangkara untuk hadir lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Menurutnya, kepolisian tidak bisa lagi hanya berada di ruang-ruang formal, tetapi harus masuk ke wilayah yang selama ini menjadi tempat anak muda beraktivitas, berinteraksi, dan mengekspresikan diri, termasuk ekosistem digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.
Polri Ingin Hadir di Ruang Anak Muda
Dedi menjelaskan bahwa institusi Polri memiliki keinginan kuat untuk membangun kedekatan dengan generasi muda melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman. Kehadiran kepolisian di ruang digital, kata dia, bukan semata-mata untuk mengawasi, melainkan juga untuk membersamai, membimbing, dan memberikan arahan agar anak muda mampu memanfaatkan teknologi secara positif serta produktif.
Ia menilai, generasi muda saat ini merupakan kelompok yang paling intens bersentuhan dengan dunia maya. Hampir seluruh aktivitas mereka, mulai dari belajar, bersosialisasi, mencari hiburan, hingga membangun karier, kini terhubung dengan internet. Karena itu, menurut Dedi, pendekatan kepolisian pun harus menyesuaikan diri agar pesan-pesan keamanan dan ketertiban masyarakat dapat tersampaikan dengan cara yang mudah diterima.
Lebih lanjut, Dedi menuturkan bahwa kedekatan antara Polri dan generasi muda akan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan. Anak muda mendapatkan pendampingan dalam beraktivitas di dunia digital, sementara kepolisian memperoleh masukan dan pemahaman yang lebih baik mengenai dinamika serta tantangan yang dihadapi generasi saat ini.
Dari Konsumen Menjadi Pencipta
Dalam kesempatan itu, Dedi juga menyoroti kecenderungan sebagian anak muda yang hanya menjadi konsumen konten digital. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk menyaksikan karya orang lain tanpa berupaya menciptakan karya sendiri. Padahal, menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar di sektor ekonomi digital yang menanti untuk digarap oleh talenta-talenta muda.
Ia mengajak generasi muda mengubah pola pikir dari sekadar penikmat menjadi pelaku. Keterampilan di bidang teknologi informasi, desain grafis, produksi konten, pemrograman, hingga keamanan siber merupakan bekal berharga yang bisa dikembangkan sejak dini. Dengan kemampuan tersebut, anak muda tidak hanya mampu bersaing di tingkat nasional, tetapi juga di kancah global.
Dedi menambahkan, peluang di industri digital sangat terbuka lebar. Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang terus meningkat membutuhkan banyak sumber daya manusia yang terampil dan kreatif. Jika generasi muda tidak segera mengambil peran, peluang tersebut justru akan diisi oleh pihak lain. Karena itu, ia berharap anak muda berani mengambil langkah, belajar hal baru, dan konsisten mengasah kemampuan.
Tantangan di Ruang Digital
Meski penuh peluang, Dedi mengingatkan bahwa dunia digital juga menyimpan berbagai risiko. Peredaran hoaks, ujaran kebencian, penipuan daring, perundungan siber, hingga kejahatan siber lainnya menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai. Anak muda, sebagai pengguna teraktif, berada di garis terdepan dalam menghadapi tantangan tersebut.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya literasi digital yang kuat. Kemampuan memilah informasi, menjaga etika bermedia sosial, serta melindungi data pribadi harus menjadi keterampilan dasar setiap generasi muda. Dengan bekal literasi yang baik, mereka tidak hanya terlindungi dari kejahatan digital, tetapi juga bisa menjadi agen yang menyebarkan konten positif dan bermanfaat bagi lingkungannya.
Dedi juga mengingatkan agar anak muda bijak dalam bermedia sosial. Setiap unggahan memiliki jejak digital yang sulit dihapus dan dapat berdampak pada masa depan. Karena itu, ia berpesan agar generasi muda selalu berpikir sebelum membagikan sesuatu, menghargai perbedaan pendapat, dan menjauhi perilaku yang melanggar hukum di ruang siber.
Kolaborasi Membangun Ekosistem Digital Sehat
Menutup pesannya, Dedi menegaskan bahwa membangun ekosistem digital yang sehat dan produktif bukan tanggung jawab satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara kepolisian, pemerintah, dunia pendidikan, pelaku industri, keluarga, dan tentu saja generasi muda itu sendiri. Semua pihak memiliki peran dalam menciptakan ruang digital yang aman sekaligus melahirkan talenta-talenta unggul.
Polri, lanjutnya, siap menjadi mitra bagi generasi muda dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Melalui berbagai program pembinaan, edukasi, dan kegiatan yang menyasar anak muda, kepolisian berupaya membuka ruang dialog serta memberikan dukungan agar potensi generasi penerus bangsa dapat berkembang secara maksimal.
Dedi berharap, ajakan untuk menjadi talenta digital benar-benar direspons dengan aksi nyata. Menurutnya, masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya hari ini. Semakin banyak anak muda yang berani berkarya dan mengambil peran di dunia digital, semakin besar pula peluang Indonesia menjadi kekuatan ekonomi digital yang disegani di kawasan maupun dunia.
Comments (0)