Sopir Travel Ngaku Bunuh Mita gegara Dihina, Keluarga Ungkap ATM Raib

Kasus pembunuhan terhadap Paramita alias Mita (26), perempuan asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, memasuki babak baru. Alber bin Markus Pagga (37), sopir travel yang ditangkap sebagai pelaku, menga...

Aug 12, 2026 - 06:48
0 1
Sopir Travel Ngaku Bunuh Mita gegara Dihina, Keluarga Ungkap ATM Raib

Kasus pembunuhan terhadap Paramita alias Mita (26), perempuan asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, memasuki babak baru. Alber bin Markus Pagga (37), sopir travel yang ditangkap sebagai pelaku, mengaku menghabisi nyawa korban karena tersinggung oleh ucapan yang dianggapnya menghina. Namun pengakuan itu justru dipatahkan keluarga korban yang mencurigai adanya motif lain yang sengaja disembunyikan pelaku dari penyidik.

Di hadapan penyidik, Alber mengklaim emosinya tersulut setelah mendengar perkataan Mita yang dinilai merendahkan dirinya. Menurut versi pelaku, amarah sesaat itulah yang membuatnya kehilangan kendali hingga tega menewaskan perempuan muda tersebut. Pengakuan ini lantas menjadi salah satu bahan aparat kepolisian dalam merangkai kronologi peristiwa berdarah itu.

Meski demikian, keterangan tersangka tidak serta-merta diterima begitu saja. Penyidik tetap mendalami berbagai alat bukti dan petunjuk lain untuk memastikan apakah pengakuan soal penghinaan itu benar adanya, atau hanya sekadar dalih yang dipakai untuk memperingan perbuatannya di mata hukum.

Keluarga Ragukan Pengakuan Pelaku

Keluarga besar Mita di Wajo angkat bicara dan menolak mentah-mentah versi yang disampaikan sopir travel tersebut. Menurut mereka, almarhumah semasa hidup dikenal sebagai pribadi yang santun, ramah, dan menjaga tutur kata. Korban dinilai bukan tipe orang yang gampang melontarkan kata kasar, apalagi menghina orang lain hingga memicu amukan.

Karena itu, klaim soal penghinaan dinilai janggal dan tidak mencerminkan karakter korban yang sesungguhnya. Keluarga menduga pengakuan tersebut sengaja direkayasa untuk menutupi motif sebenarnya. Mereka pun meminta polisi menggali lebih dalam dan tidak terjebak pada satu versi keterangan dari orang yang kini berstatus tersangka.

Dugaan Motif Ekonomi Menguat

Kecurigaan keluarga bukan tanpa dasar. Mereka mengungkap temuan penting berupa hilangnya kartu ATM milik korban seusai peristiwa tragis itu. Tidak berhenti di situ, ada indikasi kuat kartu anjungan tunai mandiri tersebut sempat digunakan pihak tak berhak untuk mengakses rekening almarhumah.

Fakta ini membuat keluarga meyakini pembunuhan terhadap Mita bermotif ekonomi, bukan sekadar tersinggung seperti pengakuan pelaku. Dugaan perampasan harta benda dinilai jauh lebih masuk akal mengingat barang berharga perempuan 26 tahun itu raib dan tabungannya diduga ikut dikuras setelah ia kehilangan nyawa.

Keluarga berharap penyidik menelusuri jejak perbankan, mulai dari riwayat transaksi hingga rekaman kamera pengawas di mesin ATM. Bukti-bukti digital tersebut diyakini mampu mengungkap siapa yang menguasai kartu milik korban sekaligus mematahkan skenario yang coba dibangun pelaku selama pemeriksaan berlangsung.

Proses Hukum Terus Berjalan

Sementara itu, proses penyidikan terhadap Alber bin Markus Pagga masih terus bergulir. Polisi memadukan keterangan tersangka dengan alat bukti yang terkumpul guna memastikan rangkaian kejadian yang sebenarnya. Setiap temuan baru, termasuk dugaan pencurian ATM yang diungkap keluarga, akan menjadi bahan pendalaman lebih lanjut.

Sejumlah pihak berharap aparat penegak hukum bekerja profesional dan transparan. Pengungkapan motif yang jelas dinilai penting agar tidak berkembang spekulasi liar di tengah masyarakat, sekaligus memastikan berkas perkara yang dilimpahkan ke kejaksaan benar-benar kuat dan tidak menyisakan keraguan sedikit pun.

Perkara ini sendiri menyita perhatian publik di Sulawesi Selatan, khususnya warga Kabupaten Wajo. Banyak pihak menanti kepastian hukum atas kematian Mita yang dinilai tragis. Doa serta dukungan moral terus mengalir bagi keluarga yang ditinggalkan agar tetap kuat menghadapi ujian berat ini.

Keluarga menegaskan akan terus mengawal jalannya perkara hingga tuntas. Mereka berharap majelis hakim kelak menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan pelaku sehingga keadilan bagi almarhumah benar-benar tegak. Bagi keluarga, mengungkap motif sesungguhnya bukan sekadar memuaskan rasa penasaran, melainkan juga memulihkan nama baik Mita yang terlanjur tercoreng oleh pengakuan sepihak pelaku.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User