Perayaan Sekaten Terbelah, Pemerintah Kota Solo Angkat Bicara

Solo kembali menjadi saksi bisu pertarungan takhta yang mewujud dalam perhelatan budaya tahunan. Untuk pertama kalinya, dua perayaan Sekaten digelar secara serentak di dua lokasi bersejarah berbeda: A...

Jul 28, 2026 - 03:53
0 0
Perayaan Sekaten Terbelah, Pemerintah Kota Solo Angkat Bicara

Solo kembali menjadi saksi bisu pertarungan takhta yang mewujud dalam perhelatan budaya tahunan. Untuk pertama kalinya, dua perayaan Sekaten digelar secara serentak di dua lokasi bersejarah berbeda: Alun-alun Selatan dan Alun-alun Utara. Masing-masing dikomandoi oleh dua figur yang sama-sama mengklaim gelar Pakubuwono XIV, menandai babak baru dalam konflik panjang internal Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Akar Sejarah Sekaten dan Makna Tradisi

Sekaten merupakan tradisi warisan Kerajaan Demak yang telah berusia lebih dari lima abad. Ritual ini menjadi penanda peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus simbol perpaduan antara dakwah Islam dengan kebudayaan Jawa. Puncaknya adalah Grebeg Maulud, ketika gunungan berisi hasil bumi, sayur-mayur, dan aneka penganan diarak dari keraton menuju masjid agung, lalu diperebutkan warga sebagai bentuk berkah. Biasanya, seluruh rangkaian berpusat di kompleks keraton dan Masjid Agung Surakarta, menggerakkan ribuan orang dari berbagai penjuru.

Namun tahun ini, aura sakral itu pecah menjadi dua kutub. Satu kubu menggelar prosesi di Alun-alun Selatan, lengkap dengan gamelan sekati, pasar malam, hingga gunungan yang diperebutkan ribuan warga. Sementara kubu lainnya memilih Alun-alun Utara sebagai panggung utama mereka, tak kalah megah dengan pawai budaya dan pertunjukan seni tradisional. Keduanya mengatasnamakan Keraton Kasunanan yang sah, menciptakan dilema bagi masyarakat yang ingin melestarikan tradisi.

Dua Klaim Atas Satu Singgasana

Pecahnya Sekaten tidak lepas dari sengketa suksesi yang belum terselesaikan. Sepeninggal Pakubuwono XIII (meninggal 2004), dua pihak mengajukan klaim sebagai penerus sah. Pihak pertama dipimpin oleh Purbaya, yang dalam keseharian dikenal sebagai pemimpin tertinggi keraton versi Alun-alun Selatan. Pihak lainnya dikendalikan oleh Mangkubumi, yang mendirikan pusat kegiatan di kawasan Alun-alun Utara. Keduanya telah menjalankan fungsi kebudayaan dan administrasi keraton secara terpisah selama bertahun-tahun, namun perseteruan mencapai puncaknya saat ritual sekaten—yang seharusnya menjadi pemersatu—justru dipentaskan secara terpisah.

Pantauan di lapangan menunjukkan kedua acara berlangsung hampir bersamaan. Di selatan, ribuan orang mengikuti prosesi sejak pagi buta, dimeriahkan penampilan gamelan Kyai Guntur Madu yang diyakini bertuah. Begitu pula di utara, kemeriahan terlihat dari arak-arakan abdi dalem berpakaian kebesaran serta penabuhan gamelan Kyai Guntur Sari. Warga yang hadir mengaku bingung namun tetap antusias. “Kami tidak ingin ikut campur urusan istana, yang penting tradisi tetap hidup,” ujar salah seorang pengunjung.

Pemerintah Kota Ambil Sikap

Menghadapi situasi yang semakin pelik, Pemerintah Kota Surakarta akhirnya menyampaikan pernyataan resmi. Melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, pemkot menegaskan bahwa mereka tidak berpihak pada salah satu kubu, tetapi menekankan pentingnya menjaga ketertiban dan kelancaran kegiatan yang sudah terlanjur mendapat izin keramaian. “Kami memfasilitasi seluruh kegiatan budaya selama sesuai aturan. Namun, kami berharap para pihak bisa kembali duduk bersama, mencari jalan tengah demi kelestarian warisan leluhur,” kata seorang pejabat yang enggan disebut namanya.

Pemkot juga memastikan keamanan di dua lokasi berjalan kondusif. Ratusan personel gabungan dari Satpol PP, TNI, dan Polri disiagakan untuk mencegah gesekan. Mereka ditempatkan di titik-titik strategis, termasuk area parkir dan jalur penghubung antaralun-alun. Selain itu, Dinas Perhubungan merekayasa lalu lintas agar akses warga menuju kedua titik tidak saling berbenturan.

Di sisi lain, sejumlah tokoh masyarakat dan budayawan mendesak agar dualisme ini segera diakhiri. Mereka menilai Sekaten bukan sekadar hiburan, melainkan ritual sakral yang seharusnya menyatukan raja dengan rakyat. Pertarungan klaim justru mengaburkan nilai spiritual dan bisa mengikis kepercayaan publik terhadap institusi keraton.

Dampak Ekonomi dan Pariwisata

Terlepas dari kontroversi, dua perayaan Sekaten justru mendongkrak geliat ekonomi rakyat. Pedagang kaki lima, pengelola parkir, hingga pelaku UMKM meraup berkah dari melubernya pengunjung di dua titik. Bahkan okupansi hotel di sekitar Jalan Slamet Riyadi meningkat tajam dibanding akhir pekan biasa. Seorang pedagang suvenir mengaku omzetnya naik tiga kali lipat karena warga datang ke dua lokasi secara bergiliran. “Sekaten ganda memang aneh, tapi rezeki juga ikut ganda,” kelakarnya.

Dari kacamata pariwisata, fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan dari luar kota penasaran menyaksikan bagaimana tradisi yang sama dihelat dalam dua versi sekaligus. Agregator tur bahkan mulai menawarkan paket wisata “Sekaten Dua Kutub” yang memungkinkan pengunjung mengamati perbedaan prosesi di selatan dan utara dalam satu hari.

Harapan di Tengah Perpecahan

Pengamat budaya dari Universitas Sebelas Maret menyebut situasi ini sebagai refleksi belum matangnya penyelesaian konflik internal keraton. Ia mengingatkan bahwa Kesultanan Yogyakarta pernah menghadapi dualisme serupa sebelum akhirnya rekonsiliasi tercapai lewat mediasi pemerintah. “Solo memerlukan figur penengah yang dihormati kedua belah pihak. Tanpa rekonsiliasi, keraton hanya akan menjadi museum hidup yang kehilangan rohnya,” ujarnya.

Sementara itu, masyarakat Solo berharap pada akhirnya Sekaten kembali ke khittahnya sebagai perayaan tunggal yang memancarkan kharisma raja yang diakui bersama. Dualisme di alun-alun mungkin menghasilkan keramaian, tetapi yang dirindukan adalah kesatuan makna yang telah diwariskan para leluhur. Kini, bola berada di tangan para pemangku kepentingan: apakah mereka mampu mengakhiri kebekuan, atau justru terus membiarkan tradisi terbelah di bawah sinar lampu pasar malam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User