Paul Biya, Presiden 93 Tahun, Disorot karena Lama Tinggal di Jenewa

Presiden Kamerun Paul Biya kembali menjadi perbincangan publik internasional. Pemimpin berusia 93 tahun itu diketahui menghabiskan waktu cukup lama di Jenewa, Swiss, sebuah kebiasaan yang memicu gelom...

Aug 11, 2026 - 17:51
0 0
Paul Biya, Presiden 93 Tahun, Disorot karena Lama Tinggal di Jenewa

Presiden Kamerun Paul Biya kembali menjadi perbincangan publik internasional. Pemimpin berusia 93 tahun itu diketahui menghabiskan waktu cukup lama di Jenewa, Swiss, sebuah kebiasaan yang memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan di negaranya. Banyak pihak mempertanyakan komitmennya menjalankan tugas kenegaraan ketika ia justru lebih sering berada jauh dari tanah air.

Biya bukan sosok baru dalam panggung politik Kamerun. Ia telah memegang tampuk kekuasaan sejak 1982, menjadikannya salah satu presiden dengan masa jabatan terlama di dunia. Selama lebih dari empat dekade, namanya nyaris tak pernah absen dari kancah politik negara Afrika Tengah tersebut. Kini, di usianya yang menginjak 93 tahun, ia juga tercatat sebagai salah satu kepala negara tertua yang masih aktif memimpin.

Namun, usia yang sangat lanjut itu justru menjadi sumber kegelisahan. Kehadirannya di depan publik semakin jarang terlihat, sementara kabar mengenai kondisi kesehatannya kerap menjadi bahan spekulasi. Setiap kali ia tak muncul dalam waktu lama, rumor mengenai keadaannya langsung menyebar luas, baik di dalam negeri maupun di media internasional.

Kritik atas Gaya Kepemimpinan

Kritik terhadap Biya tidak hanya soal usia. Para pengamat dan kelompok oposisi menilai gaya kepemimpinannya semakin jauh dari rakyat. Kebiasaannya berada di luar negeri, khususnya di Jenewa, dianggap mencerminkan pemerintahan yang dijalankan dari jarak jauh. Padahal, Kamerun menghadapi berbagai persoalan serius yang membutuhkan kehadiran langsung seorang pemimpin.

Negara itu masih bergulat dengan konflik separatis di wilayah berbahasa Inggris, ancaman keamanan di sejumlah daerah, serta tekanan ekonomi yang membebani rakyat. Banyak warga merasa aspirasi mereka tidak tersampaikan karena sang presiden jarang terlihat memimpin langsung penanganan krisis. Kritikus menyebut kekosongan kepemimpinan ini membuat kepercayaan publik terhadap pemerintah kian terkikis.

Sejumlah tokoh oposisi bahkan secara terbuka mempertanyakan kapasitas Biya untuk terus memerintah. Mereka menilai negara sebesar Kamerun membutuhkan pemimpin yang hadir secara fisik dan mental, bukan sosok yang hanya muncul sesekali di hadapan publik. Desakan agar pemerintah lebih transparan mengenai kondisi sang presiden pun menguat dari waktu ke waktu.

Kesehatan Jadi Sorotan

Isu kesehatan menjadi bagian tak terpisahkan dari perbincangan mengenai Biya. Di usia 93 tahun, wajar jika publik bertanya-tanya apakah ia masih sanggup menjalankan beban tugas sebagai kepala negara. Pemerintah Kamerun sendiri cenderung menutup rapat informasi mengenai kondisi kesehatan sang presiden, sikap yang justru membuat spekulasi kian berkembang liar.

Beberapa kali beredar kabar simpang siur mengenai keadaannya, dan setiap kali pula istana kepresidenan berusaha meredamnya. Namun, minimnya keterbukaan informasi membuat masyarakat sulit membedakan mana fakta dan mana rumor. Situasi ini menciptakan ketidakpastian politik yang tidak sehat bagi stabilitas negara.

Pengamat politik menilai ketidakjelasan semacam ini berisiko menimbulkan perebutan pengaruh di lingkaran elite kekuasaan. Ketika seorang pemimpin berusia sangat lanjut jarang tampil di depan umum, pertanyaan mengenai siapa yang sebenarnya mengambil keputusan penting negara menjadi tak terhindarkan.

Masa Depan Kamerun dalam Ketidakpastian

Persoalan suksesi kini membayangi Kamerun. Konstitusi negara itu memang mengatur mekanisme penggantian presiden, namun belum ada sosok yang secara terbuka dipersiapkan sebagai penerus Biya. Ketidakpastian ini membuat berbagai faksi, baik di dalam partai berkuasa maupun di luar pemerintahan, mulai memperhitungkan langkah masing-masing.

Bagi rakyat biasa, perdebatan elite politik itu terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Mereka lebih membutuhkan kepastian bahwa negara dijalankan oleh pemerintah yang hadir dan peduli. Harga kebutuhan pokok, keamanan, dan lapangan kerja menjadi perhatian utama, sementara kabar tentang sang presiden yang berlama-lama di Eropa hanya menambah rasa frustrasi.

Kendati demikian, pendukung Biya berpendapat bahwa pengalamannya selama puluhan tahun tetap dibutuhkan untuk menjaga kestabilan Kamerun. Mereka menilai kritik yang muncul lebih didorong oleh kepentingan politik menjelang peralihan kekuasaan. Perdebatan antara kedua kubu ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring bertambahnya usia sang presiden.

Apa pun argumennya, satu hal sulit dibantah: kehadiran seorang pemimpin di tengah rakyatnya tetap menjadi simbol penting dalam pemerintahan. Selama Biya lebih sering terlihat di Jenewa ketimbang di Yaounde, pertanyaan mengenai arah kepemimpinan Kamerun akan terus bergema, baik di dalam negeri maupun di mata dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User