Tambang GBC Freeport Ditargetkan Beroperasi Penuh pada Akhir 2027
PT Freeport Indonesia memproyeksikan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, baru dapat kembali berproduksi secara penuh pada akhir 2027. Perkiraan waktu pemul...
PT Freeport Indonesia memproyeksikan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, baru dapat kembali berproduksi secara penuh pada akhir 2027. Perkiraan waktu pemulihan tersebut menjadi konsekuensi dari insiden longsoran material basah yang melanda area penambangan pada September 2025 dan menewaskan sejumlah pekerja.
Manajemen perusahaan menyebut proses pemulihan akan dilakukan bertahap dengan mengedepankan aspek keselamatan kerja. Kapasitas produksi diharapkan meningkat perlahan seiring selesainya pembersihan material, perbaikan infrastruktur bawah tanah, serta penguatan sistem pemantauan di seluruh level tambang.
Pemulihan Dilakukan Bertahap
Berdasarkan rencana yang disusun perusahaan, kegiatan produksi akan dimulai dari blok-blok yang tidak terdampak langsung oleh insiden. Tahap awal difokuskan pada pengeringan area, evakuasi lumpur dan material basah, serta penilaian ulang terhadap kestabilan struktur tambang bawah tanah.
Setelah itu, perusahaan akan mengaktifkan kembali panel-panel produksi secara berurutan. Pada 2026, tambang GBC diperkirakan baru mampu beroperasi pada sebagian kapasitasnya, sebelum akhirnya mencapai tingkat produksi normal sekitar 80 juta ton bijih per tahun pada akhir 2027.
"Keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pemulihan. Kami tidak akan mengambil risiko apa pun sebelum seluruh sistem dinyatakan aman," demikian penjelasan manajemen.
Dampak terhadap Produksi
Terhentinya operasional GBC berdampak signifikan terhadap kinerja produksi perseroan. Tambang bawah tanah tersebut selama ini menjadi tulang punggung produksi tembaga dan emas Freeport Indonesia, menggantikan tambang terbuka Grasberg yang telah habis cadangannya.
Akibat insiden itu, perusahaan terpaksa menyatakan force majeure kepada para pembeli konsentrat. Proyeksi produksi tembaga dan emas untuk 2025 hingga 2026 pun direvisi turun cukup dalam, yang turut menekan pasokan tembaga global dan sempat mengangkat harga komoditas tersebut di pasar dunia.
Selama masa pemulihan, perusahaan mengandalkan kontribusi dari tambang bawah tanah lain seperti Deep Mill Level Zone (DMLZ) serta Big Gossan untuk menjaga pasokan bijih ke fasilitas pengolahan, meskipun volumenya jauh lebih kecil dibandingkan GBC.
Investigasi dan Penguatan Keselamatan
Insiden September 2025 terjadi ketika ratusan ribu ton material basah meluncur masuk ke area tambang dan menimbun sejumlah titik kerja. Tim gabungan dari perusahaan dan pemerintah kemudian melakukan investigasi menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab serta merumuskan langkah pencegahan.
Hasil evaluasi itu menjadi dasar bagi perusahaan untuk memperkuat sistem manajemen risiko, mulai dari pemasangan sensor pemantau pergerakan material, perbaikan saluran drainase bawah tanah, hingga penyusunan ulang prosedur evakuasi darurat bagi para pekerja.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga terus mengawasi proses pemulihan agar seluruh aktivitas sesuai dengan kaidah teknik pertambangan yang baik. Setiap tahapan pembukaan kembali area tambang wajib mendapat persetujuan dari inspektur tambang sebelum aktivitas dilanjutkan.
Implikasi bagi Ekonomi dan Hilirisasi
Gangguan produksi di GBC tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga pada penerimaan negara. Freeport Indonesia merupakan salah satu penyumbang royalti, pajak, dan dividen terbesar bagi kas negara, mengingat pemerintah Indonesia menguasai mayoritas saham perseroan melalui holding BUMN tambang MIND ID.
Penurunan produksi juga berpengaruh terhadap pasokan bahan baku bagi smelter tembaga milik perseroan di Gresik, Jawa Timur, yang baru saja beroperasi. Fasilitas pemurnian bernilai investasi besar itu membutuhkan pasokan konsentrat yang stabil agar dapat berproduksi optimal dan mendukung agenda hilirisasi mineral nasional.
Sejumlah analis menilai, kepastian jadwal pemulihan GBC menjadi kunci bagi kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Cadangan tembaga dan emas di kawasan Grasberg masih termasuk yang terbesar di dunia, sehingga keberhasilan pemulihan akan menentukan kontribusi tambang ini hingga beberapa dekade ke depan.
Komitmen Jangka Panjang
Manajemen menegaskan komitmennya untuk terus berinvestasi di Indonesia meski menghadapi tantangan berat pascainsiden. Selain pemulihan GBC, perusahaan juga tengah mengkaji pengembangan blok cadangan baru di sekitar kawasan Grasberg untuk memperpanjang umur tambang.
Dengan target operasi penuh pada akhir 2027, perusahaan berharap seluruh lini produksi, mulai dari penambangan, pengolahan, hingga pemurnian, dapat kembali berjalan normal. Keberhasilan pemulihan ini dinilai penting tidak hanya bagi perseroan, tetapi juga bagi perekonomian Papua dan ketahanan pasokan mineral strategis nasional.
Comments (0)