Palembang — Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Bandara SMB II
Suasana di sekitar landasan pacu Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, tampak diselimuti abu-abu pekat pada
Suasana di sekitar landasan pacu Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, tampak diselimuti abu-abu pekat pada Kamis (17/9/2026). Langit ibu kota provinsi tersebut tidak diselimuti awan mendung pembawa hujan, melainkan gulungan kabut asap tebal yang dipicu oleh bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik wilayah Sumatera Selatan. Fenomena ekologis ini mengancam keselamatan penerbangan dan secara langsung memukul operasional transportasi udara daerah tersebut.
Kondisi udara yang tercemar partikel padat tersebut mengakibatkan penurunan drastis pada aspek keselamatan navigasi. Berdasarkan pengamatan meteorologi penerbangan, jarak pandang (visibility) di sekitar area bandara merosot tajam hingga menyentuh angka 700 meter. Batas pandang yang sangat terbatas ini berada jauh di bawah ambang batas aman untuk proses pendaratan (landing) normal pesawat komersial, sehingga memaksa otoritas penerbangan dan maskapai mengambil tindakan darurat berupa penundaan jadwal terbang demi mengedepankan aspek keselamatan jiwa.
Dampak Langsung pada Operasional dan Rute Penerbangan
Keterbatasan jarak pandang akibat pekatnya kabut asap memberikan dampak langsung terhadap jadwal kedatangan maupun keberangkatan pesawat. Para calon penumpang harus berhadapan dengan rasa cemas dan ketidakpastian saat menunggu kepastian waktu keberangkatan di ruang tunggu bandara. Penundaan jadwal ini dialami oleh maskapai yang melayani rute domestik maupun internasional yang hendak mendarat di Palembang.
Pihak pengelola bandara mencatat sedikitnya ada empat penerbangan utama yang mengalami gangguan keterlambatan secara signifikan. Penerbangan tersebut berasal dari pusat-pusat penerbangan penting, baik dari luar negeri maupun kota-kota besar di Indonesia. Berikut adalah rincian rute penerbangan yang terdampak oleh gangguan jarak pandang tersebut:
| Asal Penerbangan | Jenis Rute | Status Operasional | Dampak Utama |
|---|---|---|---|
| Singapura (SIN) | Internasional | Terlambat (Delayed) | Holding di udara dan penyesuaian pendaratan |
| Jeddah (JED) | Internasional | Terlambat (Delayed) | Penyesuaian jadwal dan penundaan kedatangan |
| Yogyakarta (YIA) | Domestik | Terlambat (Delayed) | Penundaan jadwal keberangkatan awal |
| Jakarta (CGK) | Domestik | Terlambat (Delayed) | Keterlambatan rotasi armada pesawat |
Otoritas Bandara Utamakan Keselamatan Navigasi
Meski gangguan kabut asap Karhutla terus membayangi kawasan udara Palembang, otoritas Bandara Internasional SMB II menegaskan bahwa operasional bandara tidak ditutup secara total. Sistem navigasi dan petugas pemandu lalu lintas udara (Air Traffic Controller) terus bekerja ekstra keras dengan menyesuaikan pergerakan pesawat berdasarkan pembaruan data cuaca secara berkala.
"Keselamatan penerbangan adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar. Penundaan pendaratan maupun keberangkatan dilakukan murni atas pertimbangan teknis keselamatan karena jarak pandang yang merosot hingga 700 meter tidak memenuhi standar minimum pendaratan aman," tegas pihak pengelola bandara dalam koordinasinya bersama instansi terkait.
Dalam prosedur penerbangan standar, ketika jarak pandang berada di bawah ambang batas keselamatan, pilot memiliki opsi untuk melakukan holding (memutar di udara menunggu asap terurai), melakukan pengalihan pendaratan ke bandara terdekat (divert), atau menunda keberangkatan dari bandara asal. Langkah-langkah antisipasi ini diambil untuk menghindari risiko kecelakaan fatal akibat hilang arah atau kegagalan visual saat menyentuh landasan.
Persoalan Menahun Karhutla dan Dampak Sosio-Ekonomi
Bencana kabut asap yang kembali melumpuhkan sektor penerbangan di Sumatera Selatan ini menegaskan kembali tantangan besar penanganan bencana karhutla yang saban tahun mengancam wilayah tersebut. Dampak dari berulangnya peristiwa ini tidak hanya dirasakan oleh industri penerbangan dan transportasi, tetapi juga merembet pada sektor ekonomi yang lebih luas serta ancaman kesehatan masyarakat berupa gangguan saluran pernapasan akut (ISPA).
Para pelaku usaha dan calon penumpang berharap agar penanganan titik api (hotspot) di kawasan lahan gambut dan hutan Sumatera Selatan dapat dilakukan secara komprehensif oleh tim satgas gabungan. Tanpa penanggulangan karhutla yang efektif di titik sumber kebakaran, ketidakpastian operasional di Bandara SMB II Palembang berpotensi terus berlanjut selama musim kemarau berlangsung.
- Penyebab Utama: Asap pekat hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera Selatan.
- Kondisi Ekstrem: Jarak pandang terendah di landasan pacu tercatat hanya mencapai 700 meter.
- Jumlah Terdampak: Minimal 4 penerbangan dari Singapura, Jeddah, Yogyakarta, dan Jakarta mengalami keterlambatan.
- Status Bandara: Beroperasi secara terbatas dan fleksibel menyesuaikan pergerakan angin dan dinamika ketebalan asap.




Comments (0)