Application Name Application Name

Patokan

Sumatera Selatan

PALEMBANG — Kasus ISPA Melonjak Tajam Akibat Kabut Asap Karhutla

Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti wilayah Kota Palembang, Sumatera Selatan, dan sekitarnya. Paparan polusi u

PALEMBANG — Kasus ISPA Melonjak Tajam Akibat Kabut Asap Karhutla

Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti wilayah Kota Palembang, Sumatera Selatan, dan sekitarnya. Paparan polusi udara yang memburuk secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir mulai memicu krisis kesehatan masyarakat. Berdasarkan laporan data medis terbaru pada Selasa (15/9/2026), grafik penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencatatkan kenaikan tajam, dengan kelompok usia anak-anak menjadi korban paling terdampak atas bencana ekologis tahunan ini.

Pemandangan sudut kota yang biasanya cerah kini tertutup kabut tebal berbau menyengat, terutama pada pagi dan malam hari. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palembang sempat menyentuh kategori Kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat akibat konsentrasi partikel mikro PM2.5 yang jauh melebihi ambang batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Eskalasi Kasus ISPA dan Dampaknya Terhadap Kesehatan

Lonjakan kasus pernapasan ini dirasakan langsung oleh berbagai fasilitas kesehatan di Kota Palembang, mulai dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) hingga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Antrean pasien dengan keluhan batuk, pilek, sesak napas, hingga demam tinggi membludak saban hari. Data akumulatif dari Dinas Kesehatan setempat menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus yang amat drastis jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Berikut adalah rincian data perbandingan lonjakan kasus ISPA berdasarkan kelompok umur di Kota Palembang selama dua bulan terakhir:

Kelompok Usia Jumlah Kasus (Agustus) Jumlah Kasus (September) Persentase Kenaikan
Anak-Anak (0–12 Tahun) 3.420 5.890 +72,2%
Remaja & Dewasa (13–59 Tahun) 4.150 5.600 +34,9%
Lansia (Di atas 60 Tahun) 1.800 2.750 +52,7%

Tabel di atas mengonfirmasi bahwa rentang usia anak-anak mengalami lonjakan kasus paling ekstrem, yakni mencapai lebih dari 72 persen. Hal ini dipicu oleh saluran pernapasan anak yang masih dalam tahap perkembangan serta frekuensi bernapas mereka yang lebih cepat dibandingkan orang dewasa, sehingga memicu penyerapan volume polutan yang lebih tinggi.

Vulnerabilitas Anak dan Imbauan Tenaga Medis

Sejumlah dokter spesialis anak di Palembang menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait dampak jangka panjang dari paparan debu dan asap karhutla terhadap paru-paru anak. Risiko komplikasi seperti asma akut, pneumonia, hingga penurunan daya tahan tubuh jangka panjang mengintai anak-anak yang terus terhirup polutan berbahaya tersebut.

"Kami menerima peningkatan pasien anak hingga dua kali lipat dibandingkan bulan lalu. Sebagian besar datang dengan gejala sesak napas akut dan batuk persisten akibat iritasi saluran napas oleh partikel kabut asap. Kami mendesak orang tua untuk memperketat perlindungan mandiri pada anak-anak mereka," tegas Dr. Hendra Wijaya, Sp.A, salah satu dokter spesialis anak di Palembang.

Pemerintah Daerah Kota Palembang kini tengah mengkaji opsi penyesuaian jam belajar mengajar di sekolah, termasuk kemungkinan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau sistem dalam jaringan (daring) jika kualitas udara tak kunjung membaik. Selain itu, pembagian masker medis gratis mulai digencarkan di titik-titik persimpangan jalan dan sekolah-sekolah.

Langkah Penanggulangan dan Imbauan Kesehatan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama tim satgas karhutla terus berupaya melakukan pemadaman darat dan pemadaman udara (water bombing) di titik-titik api yang tersebar di wilayah pinggiran Sumatera Selatan. Namun, kencangnya hembusan angin dan cuaca kering ekstrem memicu kemunculan titik api baru yang menyulitkan proses pemadaman secara total.

Sebagai langkah mitigasi darurat, Dinas Kesehatan mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk memberlakukan langkah perlindungan ekstra. Masyarakat diminta mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak, mengonsumsi air putih dalam jumlah cukup, serta wajib menggunakan masker berstandar filtrasi tinggi seperti N95 atau KN95 saat terpaksa harus keluar rumah. Penanganan dini karhutla dari sumbernya menjadi kunci utama agar generasi muda tidak terus-menerus menjadi korban bencana asap tahunan ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer5
TENTANG PENULIS writer5

Bacaan Terkait

Comments (0)

User