SELAT SUNDA — Pencarian Jurnalis Hilang Diperluas hingga Samudera Hindia
Di bawah naungan langit mendung Pantai Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, raut kecemasan menyelimuti seluruh personel Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR)
Di bawah naungan langit mendung Pantai Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, raut kecemasan menyelimuti seluruh personel Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) Gabungan. Operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga anak buah kapal (ABK) yang hilang di perairan Selat Sunda kini telah memasuki masa krusial pada hari kesepuluh, Kamis (17/9). Tanpa petunjuk signifikan mengenai keberadaan bangkai kapal maupun barang peninggalan korban, harapan kini digantungkan pada pergerakan gelombang laut lepas.
Perluasan Operasi Pencarian hingga Samudra Hindia
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menegaskan bahwa luasan area pencarian tidak lagi terbatas pada titik awal koordinat hilang kontak di sekitar Kompleks Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan hasil analisis ilmiah menggunakan sistem SAR Map Prediction, arus laut Selat Sunda terdeteksi kuat mendorong target jauh ke arah barat daya Pulau Sumatra.
"Kalau daerah pencarian, secara perhitungan sistemis sudah menjangkau perairan Bengkulu. Berdasarkan SAR Map Prediction hingga hari kesembilan, pergeseran pergerakan target berada di sebelah barat Bengkulu dan telah mengarah ke Samudra Hindia," ujar Al Amrad saat ditemui wartawan di Posko Utama Marina Carita, Kabupaten Pandeglang.
Sistem pemetaan digital tersebut memperhitungkan variabel kecepatan angin, pola pasang surut, serta arus lintas samudra. Dengan menyebarnya area pencarian hingga ke Samudra Hindia, Tim SAR Gabungan melipatgandakan pengawasan di jalur pelayaran internasional dan memodelkan kemungkinan penyebaran material di perairan terbuka.
| Nama Korban | Instansi / Media | Peran dalam Misi |
|---|---|---|
| Khoirunnas | LKBN Antara | Jurnalis Foto / Tulis |
| Ari Basuki | Merdeka.com | Jurnalis Foto |
| Yudhis | iNews TV | Kamerawan |
| Daus | Anadolu Agency | Jurnalis Multimedia |
| Donal | Jurnalis Lepas (Freelance) | Dokumentator |
| 3 Orang Kru | Pengelola Speedboat Lokal | Nakhoda & ABK Kapal |
Misi Berisiko Tinggi Meliput Erupsi Anak Krakatau
Kejadian berawal pada 7 September lalu saat rombongan wartawan tersebut menyewa sebuah speedboat untuk mendekati perairan Gunung Anak Krakatau. Tugas suci menyajikan informasi tercepat mengenai peningkatan aktivitas vulkanik kawah Krakatau menjadi pendorong utama mereka menembus ombak Selat Sunda. Delapan orang di atas kapal mendadak putus komunikasi hanya beberapa jam setelah lepas jangkar dari pelabuhan masyarakat di Banten.
Sejak sinyal komunikasi terputus total, tim penyelamat langsung dikerahkan secara bergelombang. Namun hingga tenggat waktu standar operasi pencarian tiba, nihil tanda-tanda keberadaan lambung kapal maupun perlengkapan keselamatan laut yang biasanya terapung.
Evaluasi Operasi SAR dan Harapan Keluarga
Masa operasi pencarian sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan umumnya berlangsung selama tujuh hari dan dapat diperpanjang hingga sepuluh hari. Memasuki hari terakhir masa perpanjangan ini, evaluasi menyeluruh terus dilakukan oleh Kantor SAR Banten bersama instansi terkait seperti TNI AL, Polairud, serta potensi SAR masyarakat nelayan setempat.
Al Amrad menambahkan bahwa kendati masa operasi formal mendekati batas akhir, pemantauan pasif akan tetap disiagakan apabila terdapat laporan lanjutan dari kapal-kapal niaga atau nelayan yang melintas di kawasan barat Bengkulu dan Samudra Hindia.
"Kami menyadari duka mendalam yang dialami keluarga para jurnalis dan kru kapal. Setiap detik evaluasi kami lakukan demi memberikan kepastian mengenai keberadaan mereka," tutur Al Amrad dengan nada penuh keprihatinan.
Ketidakpastian kondisi cuaca ekstrem di Samudra Hindia, dipadu dengan gelombang tinggi khas peralihan musim, menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi armada kapal penyisir. Komunitas pers nasional turut memberikan dukungan penuh, berharap adanya mukjizat dan kejelasan nasib bagi para pejuang informasi yang hilang saat menjalankan tugas jurnalistik tersebut.
Hingga hari ke-10, lima wartawan dan tiga kru kapal yang hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau belum ditemukan. Tim SAR Gabungan memperluas jangkauan ke barat Bengkulu dan Samudra Hindia. Baca artikel utuh di Patokan.com.



Comments (0)