Ketimpangan Melebar, Jurang Kaya-Miskin Menganga dari Jakarta hingga Maluku

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis catatan terbaru yang menunjukkan jurang pemisah antara kelompok berpendapatan tinggi dan rendah di Tanah Air kembali menganga. Pelebaran ketimpangan ini terpantau t...

Aug 08, 2026 - 10:33
0 0
Ketimpangan Melebar, Jurang Kaya-Miskin Menganga dari Jakarta hingga Maluku

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis catatan terbaru yang menunjukkan jurang pemisah antara kelompok berpendapatan tinggi dan rendah di Tanah Air kembali menganga. Pelebaran ketimpangan ini terpantau terjadi secara serentak, baik di kawasan perkotaan maupun wilayah perdesaan, sehingga memupus harapan perbaikan yang sempat terlihat pada periode-periode sebelumnya.

Ukuran yang dipakai untuk memotret kesenjangan tersebut adalah rasio gini, yakni indikator yang bergerak pada rentang nol hingga satu. Angka yang kian mendekati satu menandakan distribusi pendapatan yang semakin timpang. Dalam rilis terbaru, rasio gini nasional tercatat bergeser naik, sebuah sinyal bahwa buah pertumbuhan ekonomi belum dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kota Lebih Timpang Ketimbang Desa

Mengikuti pola yang terbentuk selama bertahun-tahun, tingkat kesenjangan di kawasan perkotaan masih jauh lebih tinggi ketimbang perdesaan. Pusat-pusat ekonomi memang menghadirkan peluang dan penghasilan besar bagi sebagian warganya, namun pada saat yang sama menyisakan kelompok pekerja berupah rendah yang tertinggal jauh di belakang.

Di perdesaan, ketimpangan umumnya lebih rendah karena struktur ekonomi masyarakatnya relatif homogen. Meski demikian, rilis terbaru menunjukkan angka kesenjangan di desa juga ikut merangkak naik. Artinya, persoalan ini bukan lagi masalah kota semata, melainkan tantangan nasional yang menyebar ke seluruh penjuru.

Sejumlah faktor diduga menjadi pendorong pelebaran di kedua wilayah tersebut, mulai dari perbedaan akses terhadap pekerjaan formal, kepemilikan aset produktif, hingga kesenjangan kualitas sumber daya manusia antarlapisan masyarakat.

Dari Jakarta, Jawa Barat, hingga Maluku

Dilihat per provinsi, peta ketimpangan menunjukkan wajah yang beragam. DKI Jakarta konsisten berada di jajaran wilayah dengan kesenjangan tertinggi. Sebagai pusat bisnis dan keuangan, ibu kota mempertemukan kelompok berpenghasilan sangat besar dengan warga yang masih bergantung pada upah minimum dan pekerjaan informal.

Jawa Barat juga mencatatkan tingkat ketimpangan yang menonjol. Provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia ini memiliki wilayah metropolitan penyangga ibu kota yang tumbuh pesat, namun di sisi lain masih menyimpan kantong-kantong kemiskinan di kawasan selatan dan perdesaan.

Di kawasan timur, Maluku termasuk provinsi yang mengalami pelebaran jurang. Keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis kepulauan, serta minimnya diversifikasi ekonomi membuat distribusi kesejahteraan di wilayah ini kerap bergerak tidak seimbang, terutama antara kota-kota utama dan pulau-pulau terpencil.

Sebaliknya, sejumlah provinsi lain tercatat memiliki rasio gini yang relatif rendah, umumnya ditopang struktur ekonomi berbasis pertanian rakyat dan UMKM yang merata. Perbedaan antarwilayah ini menegaskan bahwa ketimpangan bukan sekadar persoalan angka nasional, melainkan juga kesenjangan pembangunan antardaerah.

Akar Persoalan yang Perlu Ditangani

Para pengamat ekonomi menilai pelebaran ketimpangan tidak lepas dari beberapa akar persoalan. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang masih bertumpu pada sektor dan kelompok tertentu sehingga hasilnya tidak menetes secara otomatis ke lapisan bawah. Kedua, kesenjangan akses pendidikan dan keterampilan yang membuat mobilitas sosial warga miskin terbatas.

Ketiga, kepemilikan aset—mulai dari tanah, modal usaha, hingga instrumen keuangan—yang terkonsentrasi pada kelompok atas. Ketika nilai aset meningkat, yang menikmati keuntungan terbesar adalah mereka yang sudah memilikinya, sementara kelompok bawah hanya mengandalkan pendapatan dari upah.

Fenomena ini juga diperparah oleh maraknya pekerjaan informal berproduktivitas rendah. Jutaan warga bekerja tanpa jaminan pendapatan tetap maupun perlindungan sosial yang memadai, sehingga posisi ekonomi mereka rentan setiap kali terjadi guncangan.

Langkah yang Ditunggu Publik

Pelebaran jurang kaya-miskin menuntut respons kebijakan yang lebih serius. Perluasan program perlindungan sosial yang tepat sasaran dipandang penting untuk menjaga daya beli kelompok rentan, terutama di tengah tekanan harga kebutuhan pokok.

Selain itu, pemerataan kualitas pendidikan dan pelatihan kerja menjadi kunci agar warga berpendapatan rendah memiliki bekal untuk naik kelas. Investasi di kawasan timur dan wilayah tertinggal juga dinilai mendesak agar kesenjangan antardaerah tidak semakin lebar.

Di sisi lain, penguatan UMKM, reformasi akses permodalan, serta penciptaan lapangan kerja formal berkualitas diharapkan mampu memperbaiki struktur ekonomi dari hulu. Tanpa langkah-langkah tersebut, angka ketimpangan dikhawatirkan terus bergerak naik pada rilis-rilis berikutnya.

Catatan BPS kali ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi semata tidak cukup. Kualitas dan pemerataan hasil pertumbuhan itulah yang pada akhirnya menentukan apakah jurang antara si kaya dan si miskin akan menyempit, atau justru semakin menganga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User