Karhutla Kalsel Hanguskan 20 Ribu Hektare, Kabupaten Banjar Terparah
BANJARBARU — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Selatan terus meluas hingga mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
BANJARBARU — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Selatan terus meluas hingga mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan, total luas area terdampak karhutla telah menembus angka 20.206,06 hektare sepanjang periode 1 Januari hingga 10 September 2026. Dari belasan kabupaten dan kota di wilayah Kalimantan Selatan, Kabupaten Banjar tercatat sebagai daerah dengan tingkat kerusakan terparah akibat amukan si jago merah.
Peningkatan drastis luas lahan yang terbakar ini terjadi seiring memuncaknya musim kemarau yang diperparah oleh fenomena cuaca ekstrem. Ribuan hektare lahan gambut dan semak belukar yang mengering dengan cepat menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar, sehingga mempercepat penyebaran titik api ke berbagai wilayah. Kondisi geografis Kalimantan Selatan yang didominasi oleh lahan gambut dalam membuat upaya pemadaman di lapangan menghadapi kendala teknis yang cukup berat dan berisiko tinggi.
Dampak Karhutla dan Wilayah Terparah di Kalimantan Selatan
Data pemantauan lapangan menunjukkan bahwa lonjakan kasus titik panas (hotspot) meningkat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kabupaten Banjar memegang rekor tertinggi untuk cakupan area yang hangus terbakar, disusul oleh beberapa wilayah penyangga seperti Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Barito Kuala, serta kawasan sekitar Kota Banjarbaru.
Bencana ini tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati dan ekosistem lokal, tetapi juga mulai menekan stabilitas kesehatan masyarakat serta roda ekonomi daerah. Kepulan asap pekat kerap menyelimuti wilayah permukiman warga dan jalan poros lintas provinsi, yang mengakibatkan jarak pandang berkurang drastis terutama pada pagi dan malam hari.
| Wilayah / Kabupaten | Tingkat Kerusakan | Faktor Dominan Terdampak |
|---|---|---|
| Kabupaten Banjar | Sangat Tinggi (Terparah) | Lahan Gambut Dalam & Semak Belukar |
| Kota Banjarbaru | Tinggi | Area Ring Bandara & Lahan Tidur |
| Kabupaten Tanah Laut | Sedang - Tinggi | Perkebunan & Padang Savana |
| Kabupaten Barito Kuala | Sedang | Lahan Pertanian Pasang Surut |
Analisis Penyebab dan Penanganan Darurat BPBD
Pengamat lingkungan dan penanggulangan bencana menilai bahwa kombinasi faktor kondisi iklim kering dan aktivitas manusia menjadi pemicu utama masifnya pemusnahan lahan tahun ini. "Karakteristik lahan gambut di Kalimantan Selatan sangat rentan saat mengalami kekeringan panjang. Api di permukaan dapat dengan mudah merembet ke bawah tanah, membuat pemadaman darat menjadi rumit jika tidak diimbangi perbasahan secara masif," ungkap salah satu analis kebencanaan daerah.
BPBD Kalsel bersama Satuan Tugas (Satgas) Karhutla yang melibatkan unsur TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan masyarakat terus mengintensifkan penanganan. Berikut adalah urutan langkah darurat yang ditempuh tim gabungan di lapangan:
- Intensifikasi Patroli Udara dan Water Bombing: Helikopter pemadam difokuskan menyiram titik api di lokasi terisolir yang sulit ditempuh jalur darat, terutama di kedalaman gambut Kabupaten Banjar.
- Operasi Pemadaman Darat dan Penyekatan: Tim gabungan melakukan pembasahan (wetting) di area perbatasan permukiman warga dan objek vital nasional guna mencegah perambatan api.
- Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC): Koordinasi dengan pemerintah pusat dan BMKG dilakukan untuk melakukan penyemaian awan hujan di wilayah-wilayah krusial.
- Penegakan Hukum Strict: Kepolisian lokal memperketat pengawasan dan menindak tegas oknum yang sengaja melakukan pembakaran lahan secara ilegal.
Ancaman Kesehatan dan Jalur Transportasi Publik
Eskalasi karhutla yang menembus angka 20.206,06 hektare ini berdampak langsung pada penurunan kualitas udara di berbagai sudut Kalimantan Selatan. Dinas Kesehatan provinsi mencatat adanya kenaikan grafik kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Langkah antisipasi seperti pembagian masker medis terus digalakkan di fasilitas umum.
Selain sektor kesehatan, area strategis di sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarbaru turut mendapatkan pengawalan ekstra. Kabut asap tebal mengancam keselamatan penerbangan akibat terganggunya jarak pandang landasan pacu. Tim Satgas khusus telah disiagakan 24 jam penuh untuk memastikan kawasan di sekeliling bandara aman dari ancaman kebakaran.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Kesadaran bersama dan respons cepat seluruh elemen masyarakat menjadi faktor penentu agar krisis lingkungan ini dapat segera diatasi sebelum memasuki puncaknya.




Comments (0)