Dinkes Kalsel Pastikan Layanan RSUD Optimal di Tengah Lonjakan ISPA
BANJARBARU — Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Selatan mengonfirmasi bahwa seluruh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di wilayahnya tetap memberikan
BANJARBARU — Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Selatan mengonfirmasi bahwa seluruh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di wilayahnya tetap memberikan pelayanan kesehatan secara optimal meski terjadi lonjakan tajam kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Fenomena bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai wilayah di Kalimantan Selatan dalam beberapa pekan terakhir menjadi pemicu utama memburuknya kualitas udara dan tingginya angka gangguan pernapasan di masyarakat.
Meskipun grafik kunjungan pasien bergejala pernapasan di fasilitas kesehatan mengalami kenaikan hingga 35 persen dalam satu bulan terakhir, kapasitas tempat tidur (bed occupancy rate), ketersediaan logistik oksigen medis, serta obat-obatan di RSUD rujukan dipastikan berada dalam kondisi aman dan terkendali. Pemerintah daerah mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan tanpa perlu panik secara berlebihan.
Dampak Karhutla dan Eskalasi Kasus ISPA di Kalimantan Selatan
Paparan kabut asap pekat yang menyelimuti kawasan Banjarbaru, Banjarmasin, hingga Kabupaten Tanah Laut telah memperburuk Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Berdasarkan pemantauan Dinkes Kalsel, akumulasi kasus ISPA di seluruh kabupaten dan kota telah menembus angka 42.500 kasus sejak masuknya musim kemarau ekstrem. Lonjakan kasus ini paling banyak mendera kelompok rentan, terutama balita, anak-anak, dan lansia.
Menurut Dr. H. Diauddin, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, eskalasi tersebut telah diantisipasi melalui aktivasi status siaga darurat kesehatan. "Kami telah menginstruksikan seluruh manajemen RSUD untuk melakukan redesain alur pelayanan emergensi agar pasien dengan keluhan ISPA berat langsung mendapatkan penanganan terapi oksigen tanpa harus melalui proses administrasi yang berbelit," tegasnya dalam evaluasi penanganan Karhutla.
| Wilayah Terdampak | Estimasi Kasus ISPA | Status Kualitas Udara (ISPU) | Kapasitas Bed RSUD |
|---|---|---|---|
| Kota Banjarbaru | 12.400 kasus | Sangat Tidak Sehat (210) | Aman (Terisi 65%) |
| Kota Banjarmasin | 15.100 kasus | Tidak Sehat (165) | Aman (Terisi 70%) |
| Kab. Tanah Laut | 8.500 kasus | Sangat Tidak Sehat (195) | Aman (Terisi 58%) |
| Kab. Banjar | 6.500 kasus | Tidak Sehat (155) | Aman (Terisi 50%) |
Tindakan Mitigasi dan Urutan Penanganan Pasien
Dinkes Kalsel menerapkan skema respons cepat terpadu untuk memastikan penanganan medis dari tingkat pertama hingga fasilitas rujukan lanjutan berjalan secara sinergis. Berikut adalah urutan langkah strategis yang diterapkan dalam menanggulangi krisis kesehatan akibat asap karhutla:
- Penguatan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP): Seluruh Puskesmas diinstruksikan menyiagakan posko oksigen gratis selama 24 jam untuk memberikan pertolongan darurat bagi warga yang mengalami sesak napas ringan hingga sedang.
- Triase Ketat di UGD RSUD: Pasien rujukan yang tiba di RSUD langsung menjalani triase ketat berdasarkan tingkat saturasi oksigen guna mencegah komplikasi infeksi paru-paru berat (pneumonia).
- Mobilisasi Stok Obat dan Logistik Medis: Pemerintah menyalurkan bantuan tambahan sebanyak 500.000 masker medis, tabung oksigen portabel, dan obat anti-inflamasi ke wilayah-wilayah dengan krisis udara terparah.
- Monitoring ISPU Secara Real-Time: Penyesuaian jumlah personel medis di RSUD dilakukan secara dinamis dengan merujuk pada pemantauan ISPU harian yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Rekomendasi Kesehatan dan Proteksi Masyarakat
Mengingat prakiraan cuaca menunjukkan tren kemarau kering masih akan berlangsung, potensi ancaman ISPA diprediksi tetap tinggi dalam beberapa pekan mendatang. Dinkes Kalsel menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan mandiri.
"Pencegahan paling efektif dimulai dari proteksi diri. Penggunaan masker standar N95 atau masker medis ganda sangat dianjurkan apabila warga terpaksa melakukan aktivitas di luar ruangan," ujar Dr. H. Diauddin.
Masyarakat juga diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan pada pagi dan malam hari saat konsentrasi kabut asap mencapai titik tertinggi. Warga diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas atau RSUD terdekat jika mulai merasakan gejala keluhan pernapasan yang memburuk.




Comments (0)