BMKG Catat 42 Gempa Bumi Guncang Wilayah Kabupaten Bandung
BANDUNG, Patokan.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan peningkatan aktivitas seismik yang signifikan di wilayah Kabupaten B
BANDUNG, Patokan.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan peningkatan aktivitas seismik yang signifikan di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Berdasarkan data hasil monitoring seismologi, tercatat sebanyak 42 rentetan gempa bumi mengguncang kawasan tersebut sejak Rabu, 16 September hingga Kamis, 17 September pukul 05.30 WIB.
Rentetan gempa tektonik ini didominasi oleh gempa bumi dangkal berkecepatan dan magnitudo bervariasi yang berpusat di daratan. Sebagian getaran dirasakan secara nyata oleh masyarakat setempat di sejumlah kecamatan, seperti Kertasari, Pangalengan, Pacet, hingga Ibun, dan memicu kepanikan warga di tengah malam hingga dini hari.
Kronologi dan Distribusi Aktivitas Seismik
Aktivitas kegempaan yang melanda Kabupaten Bandung berlangsung secara beruntun dalam rentang waktu kurang dari 24 jam. BMKG mengelompokkan urutan kejadian sebagai berikut:
- Rabu Pagi (16 September): Rangkaian gempa pembuka (foreshock) mulai terdeteksi oleh seismograf stasiun geofisika lokal dengan kekuatan magnitudo rendah berkisar antara M 1,8 hingga M 2,4.
- Rabu Sore hingga Malam: Terjadi peningkatan intensitas getaran yang memicu gempa utama berkekuatan signifikan, getarannya dirasakan hingga skala intensitas III–IV MMI oleh warga di permukiman lereng perbukitan.
- Kamis Dini Hari hingga Subuh (17 September, 05.30 WIB): BMKG mengidentifikasi puluhan gempa susulan (aftershocks) yang berangsur menurun frekuensi energinya hingga total akumulasi mencapai 42 kali kejadian.
"Rentetan gempa yang terjadi di Kabupaten Bandung merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif di darat. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun tetap waspada terhadap potensi gempa susulan," tulis BMKG dalam keterangan resminya.
Analisis Geologis dan Mekanisme Sesar Aktif
Berdasarkan letak episenter dan kedalaman hiposenternya yang rata-rata berada pada kedalaman kurang dari 10 kilometer, BMKG menganalisis bahwa rangkaian gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif lokal, salah satunya terindikasi bersumber dari segmen Sesar Garsela (Garut Selatan) yang melintasi kawasan Bandung Selatan.
Karakteristik sesar aktif dangkal di wilayah Jawa Barat kerap memicu rangkaian gempa tipe swarm atau rentetan gempa dengan frekuensi rapat sebelum dan sesudah getaran utama. Kondisi topografi Bandung yang berupa cekungan tanah lunak (sedimen danau purba) juga memperkuat amplifikasi rambatan gelombang seismik di permukaan tanah.
Dampak Kerusakan dan Upaya Tanggap Darurat BPBD
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung bersama tim reaksi cepat gabungan langsung diterjunkan untuk melakukan kaji cepat dampak kerusakan fisik di lapangan. Tim asesmen memfokuskan pemantauan pada beberapa poin penting:
- Pengecekan stabilitas struktur bangunan fasilitas publik, sekolah, dan fasilitas kesehatan di kawasan terdampak getaran terkuat.
- Pemeriksaan retakan tanah di area lereng curam guna mengantisipasi risiko bahaya sekunder berupa tanah longsor.
- Pendataan rumah warga yang mengalami kerusakan struktural ringan maupun sedang.
- Penyediaan tenda darurat sementara bagi warga yang khawatir kembali ke rumah pada malam hari.
BMKG dan instansi kebencanaan meminta masyarakat untuk tidak termakan informasi hoaks atau isu tidak bertanggung jawab yang kerap beredar di media sosial. Warga diimbau untuk memastikan jalur evakuasi di lingkungan masing-masing bebas dari hambatan serta memeriksa kekokohan struktur bangunan sebelum memasukinya kembali.
BMKG melaporkan adanya 42 kejadian gempa bumi dangkal di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sejak 16 hingga 17 September 2026 pukul 05.30 WIB. Rentetan gempa ini dipicu oleh pergerakan sesar aktif lokal. Simak laporan lengkap kaji dampak BPBD di Patokan.com.



Comments (0)