Freeport Bidik Produksi Katoda Tembaga 400.000 Ton pada 2026

PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan produksi katoda tembaga sepanjang 2026 berada di kisaran 400.000 ton. Volume tersebut merupakan gabungan keluaran dari dua fasilitas pemurnian yang dioperasika...

Aug 11, 2026 - 17:42
0 1
Freeport Bidik Produksi Katoda Tembaga 400.000 Ton pada 2026

PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan produksi katoda tembaga sepanjang 2026 berada di kisaran 400.000 ton. Volume tersebut merupakan gabungan keluaran dari dua fasilitas pemurnian yang dioperasikan perusahaan, yakni smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur, serta PT Smelting yang berlokasi di kawasan yang sama.

Proyeksi ini menandai babak baru bagi perusahaan tambang tersebut setelah bertahun-tahun mengandalkan ekspor konsentrat. Dengan beroperasinya dua smelter secara bersamaan, Freeport kini memiliki kapasitas pengolahan dan pemurnian hasil tambang di dalam negeri sesuai amanat kebijakan hilirisasi mineral yang digalakkan pemerintah.

Dua Smelter Jadi Tulang Punggung Produksi

Smelter Manyar merupakan fasilitas pemurnian generasi terbaru milik Freeport yang dibangun dengan investasi mencapai miliaran dolar Amerika Serikat. Pabrik ini dirancang mengolah konsentrat tembaga dari tambang Grasberg di Papua menjadi produk bernilai tambah tinggi berupa katoda tembaga, emas, perak, dan sejumlah produk ikutan lainnya.

Sementara itu, PT Smelting telah beroperasi lebih dulu sejak akhir 1990-an dan selama ini menjadi satu-satunya fasilitas pemurnian konsentrat Freeport di Tanah Air. Kombinasi kedua pabrik tersebut membuat total kapasitas pengolahan konsentrat perusahaan meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Manajemen menyebutkan proses ramp-up atau peningkatan produksi bertahap di smelter Manyar berjalan sesuai rencana. Fasilitas tersebut sebelumnya sempat menghadapi kendala teknis pada fase awal operasinya, termasuk insiden kebakaran pada 2024 yang memaksa perusahaan menunda uji coba produksi perdana.

Dampak bagi Hilirisasi Nasional

Target produksi 400.000 ton katoda tembaga memiliki arti penting bagi agenda hilirisasi sumber daya mineral Indonesia. Katoda tembaga merupakan bahan baku utama bagi industri hilir seperti kabel listrik, komponen elektronik, hingga kendaraan listrik yang tengah gencar dikembangkan pemerintah.

Selama ini, sebagian besar konsentrat tembaga Freeport diekspor ke luar negeri untuk dimurnikan di smelter asing. Dengan kapasitas pemurnian domestik yang kini dimiliki, nilai tambah dari sumber daya alam Indonesia dapat dinikmati lebih besar di dalam negeri, mulai dari penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan industri pendukung, hingga penerimaan negara.

Kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) di Gresik, tempat smelter Manyar berdiri, juga diproyeksikan berkembang menjadi pusat industri turunan tembaga. Kehadiran smelter diharapkan menarik minat investor industri hilir untuk membangun pabrik pengolahan lanjutan di sekitar kawasan tersebut.

Tantangan Operasional dan Pasar Global

Meski target telah ditetapkan, sejumlah tantangan masih membayangi. Pasokan konsentrat dari tambang Grasberg menjadi faktor penentu tercapainya produksi, mengingat operasi penambangan bawah tanah memiliki kompleksitas tinggi dan rentan terhadap gangguan teknis maupun faktor cuaca.

Freeport sebelumnya melaporkan penyesuaian rencana produksi menyusul insiden di area tambang bawah tanah Grasberg pada 2025. Perusahaan kemudian menyusun ulang jadwal penambangan serta strategi pasokan agar kebutuhan konsentrat kedua smelter tetap terjaga sepanjang tahun berjalan.

Dari sisi pasar, harga tembaga dunia menunjukkan tren menguat seiring melonjaknya permintaan dari sektor energi terbarukan, pembangunan jaringan listrik, hingga pusat data. Kondisi ini menjadi angin segar bagi produsen katoda karena margin penjualan berpotensi meningkat di tengah pasokan global yang ketat.

Prospek ke Depan

Ke depan, Freeport berencana mengoptimalkan utilisasi kedua smelter hingga mencapai kapasitas terpasang penuh. Bila seluruh fasilitas beroperasi optimal, perusahaan diperkirakan mampu memurnikan jutaan ton konsentrat per tahun, menjadikannya salah satu pemain pemurnian tembaga terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Pemerintah Indonesia sendiri terus mendorong percepatan hilirisasi mineral sebagai strategi memperkuat struktur ekonomi nasional. Keberhasilan Freeport memenuhi target produksi katoda tembaga tahun ini akan menjadi tolok ukur bagi proyek hilirisasi lain yang tengah dibangun di berbagai daerah.

Dengan target 400.000 ton pada 2026, Freeport menegaskan komitmennya bukan hanya sebagai perusahaan tambang, tetapi juga sebagai bagian dari rantai nilai industri tembaga nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User