Duka Pilu Selimuti Pemakaman Korban Pengeroyokan Dugaan Pencurian di Tabanan

Suasana haru dan tangis pilu menyelimuti pemakaman seorang pria paruh baya berinisial KD di sebuah desa di Kabupaten Tabanan, Bali. Puluhan kerabat dan tetangga tak kuasa menahan air mata saat peti je...

Jul 28, 2026 - 00:29
0 0
Duka Pilu Selimuti Pemakaman Korban Pengeroyokan Dugaan Pencurian di Tabanan

Suasana haru dan tangis pilu menyelimuti pemakaman seorang pria paruh baya berinisial KD di sebuah desa di Kabupaten Tabanan, Bali. Puluhan kerabat dan tetangga tak kuasa menahan air mata saat peti jenazah korban diturunkan ke peristirahatan terakhirnya, Senin sore. Isak tangis paling keras datang dari istri dan anak-anak almarhum yang meratapi kepergiannya yang mendadak dan tragis.

KD menghembuskan napas terakhirnya setelah menjadi korban pengeroyokan pada Sabtu malam. Ia diduga mengambil seekor ayam milik warga tanpa izin, yang kemudian memicu kemarahan sejumlah orang. Alih-alih diserahkan kepada aparat hukum, KD justru dihakimi hingga tewas di tempat. Peristiwa mengenaskan itu terjadi di kawasan pemukiman padat yang kini tengah diguncang duka dan kekecewaan.

Kepala Desa setempat, yang turut hadir dalam prosesi pemakaman, mengungkapkan penyesalan mendalam atas kejadian ini. “Kami benar-benar menyayangkan tindakan main hakim sendiri yang merenggut nyawa warga kami. Seharusnya, persoalan sekecil apa pun diselesaikan secara hukum, bukan dengan kekerasan,” ujarnya dengan nada getir. Sang kades menegaskan bahwa dirinya akan mendorong warga untuk lebih mengedepankan dialog dan keadilan prosedural.

Keluarga korban sendiri sempat dihantui rasa trauma yang mendalam. Seorang kerabat dekat menuturkan bahwa KD merupakan sosok sederhana yang kadang tersandung masalah ekonomi. “Ia bukanlah penjahat. Kalau memang salah, semestinya diadili, bukan dibunuh seperti ini,” katanya sambil terisak. Keluarga berharap aparat kepolisian bisa segera mengusut tuntas kasus ini dan menghukum para pelaku dengan adil.

Dari pantauan di lapangan, warga sekitar tampak masih syok dan enggan banyak berkomentar. Sebagian menyayangkan emosi massa yang meledak tanpa kendali, sementara yang lain memilih diam karena takut akan tekanan sosial. Beberapa warga mengakui bahwa ayam yang diduga dicuri bukanlah benda berharga besar, namun kemarahan kolektif yang dipicu oleh faktor kelelahan dan ketidakpercayaan pada penegakan hukum membuat situasi lepas kendali.

Kasus ini kembali menyorot potret buram fenomena main hakim sendiri yang masih kerap terjadi di berbagai daerah. Pengamat sosial menilai, rendahnya kepercayaan publik terhadap proses hukum formal seringkali menjadi pemicu aksi balas dendam komunal. Padahal, setiap perbuatan melanggar aturan tetap harus diproses melalui jalur resmi, demi menjamin hak semua pihak dan mencegah keputusan sepihak yang berujung petaka.

Sementara itu, kepolisian setempat telah memulai penyelidikan. Beberapa saksi telah dimintai keterangan, dan petugas masih memburu sejumlah terduga pelaku pengeroyokan. Kapolsek setempat menegaskan tidak akan memberi toleransi kepada siapa pun yang terlibat dalam aksi penghakiman di luar jalur hukum. “Kami imbau warga untuk menahan diri dan menyerahkan segala permasalahan kepada kami. Kekerasan hanya akan menciptakan korban baru dan menyisakan luka berkepanjangan,” tegasnya.

Pemakaman KD yang berlangsung di tengah rintik hujan sore itu seakan menjadi cermin kepedihan masyarakat. Di antara doa-doa yang dipanjatkan, terselip harapan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Banyak pihak berharap musibah ini menjadi pembelajaran pahit bahwa keadilan tidak bisa ditegakkan dengan tangan besi, melainkan dengan hati yang dingin dan prosedur yang bermartabat. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan masyarakat semakin sadar bahwa setiap masalah harus diselesaikan dengan akal sehat, bukan amarah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User