Bima Arya Tekankan Sinergi Daerah Jadi Kunci Pengendalian Inflasi
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor di tingkat daerah merupakan fondasi utama dalam mengendalikan laju inflasi nasional. Ia menyampaikan hal tersebu...
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor di tingkat daerah merupakan fondasi utama dalam mengendalikan laju inflasi nasional. Ia menyampaikan hal tersebut dalam sebuah forum koordinasi yang mempertemukan para kepala daerah, perwakilan kementerian, dan pemangku kepentingan ekonomi strategis di Jakarta. Menurutnya, tanpa adanya gerakan terpadu dari seluruh pemerintah daerah, target pertumbuhan ekonomi yang ambisius akan sulit tercapai.
Stabilitas Harga sebagai Prasyarat Pertumbuhan
Bima Arya menguraikan bahwa kestabilan harga barang dan jasa, khususnya kebutuhan pokok masyarakat, bukan sekadar indikator ekonomi biasa. Ia menyebutnya sebagai prasyarat mutlak bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi menuju angka delapan persen. Ketika harga-harga melambung tak terkendali, daya beli masyarakat langsung terpukul. Kondisi ini menciptakan efek domino yang merembet ke sektor produktif, memperlambat perputaran uang, dan akhirnya menggagalkan target makroekonomi yang telah ditetapkan.
Dalam paparannya, ia menyoroti bahwa inflasi yang terjadi di daerah bukan semata persoalan pemerintah pusat. Setiap wilayah memiliki karakteristik tekanan harga yang berbeda-beda. Ada daerah yang rentan terhadap gejolak harga pangan akibat distribusi yang timpang, ada pula yang bergulat dengan inflasi musiman saat hari besar keagamaan atau tahun ajaran baru. Keragaman ini menuntut pendekatan spesifik yang hanya bisa dirancang oleh pemerintah daerah yang memahami betul dinamika lokalnya.
Memperkuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah
Salah satu instrumen kunci yang disinggung Bima Arya adalah penguatan peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID. Forum ini, yang selama ini telah terbentuk di seluruh provinsi dan kabupaten/kota, harus bertransformasi menjadi lebih responsif dan taktis. Ia mendorong agar TPID tidak hanya menjadi ajang rapat rutin, melainkan berfungsi sebagai pusat komando yang mampu membaca data secara real-time dan mengambil keputusan cepat ketika indikator harga menunjukkan anomali.
Bima Arya juga menekankan pentingnya kerja sama antar-daerah yang bertetangga. Banyak komoditas strategis yang rantai pasoknya melintasi batas administratif, sehingga pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan secara terisolasi. Ia memberi contoh, surplus produksi di satu kabupaten seharusnya bisa segera diserap oleh kabupaten lain yang sedang kekurangan melalui mekanisme kerja sama antardaerah. Hal ini akan memangkas biaya logistik sekaligus menjaga harga tetap wajar di tingkat konsumen.
Ketahanan Pangan dari Hulu ke Hilir
Ketahanan pangan menjadi pilar yang tak terpisahkan dari upaya menekan inflasi. Bima Arya mengajak pemerintah daerah untuk serius membenahi sektor pertanian dari hulu, mulai dari penyediaan pupuk, benih, hingga akses air irigasi. Persoalan klasik seperti kelangkaan pupuk bersubsidi dan rusaknya jaringan irigasi sering kali menjadi biang keladi anjloknya produksi, yang pada gilirannya mendorong harga pangan merangkak naik. Ia meminta setiap dinas terkait untuk turun langsung ke lapangan dan memastikan petani tidak berjuang sendirian.
Di sisi hilir, ia menyoroti pentingnya menjaga kelancaran distribusi. Jangan sampai hasil panen melimpah di satu tempat tetapi membusuk karena tidak terserap pasar, sementara di tempat lain masyarakat mengeluhkan harga yang selangit. Bima Arya menekankan perlunya pemetaan jalur distribusi yang efisien serta pemanfaatan teknologi informasi untuk mempertemukan produsen dan konsumen secara lebih transparan. Pasar murah dan operasi pasar juga tetap menjadi instrumen jangka pendek yang efektif jika dilaksanakan dengan koordinasi yang rapi.
Komitmen Bersama Menuju Pertumbuhan Delapan Persen
Dalam kesempatan itu, Bima Arya menggarisbawahi bahwa target pertumbuhan ekonomi delapan persen bukanlah angka yang bisa dicapai hanya dengan mengandalkan investasi besar atau ekspor semata. Faktor dalam negeri, terutama konsumsi rumah tangga yang berkontribusi dominan terhadap Produk Domestik Bruto, harus dijaga kesehatannya. Inflasi yang rendah dan stabil akan memberikan kepastian bagi dunia usaha untuk berekspansi, sekaligus melindungi pendapatan riil masyarakat. Dengan kata lain, inflasi bukan hanya soal harga, melainkan soal kepercayaan.
Ia menutup arahannya dengan seruan agar seluruh jajaran pemerintah daerah mengedepankan pola kerja kolaboratif dan lintas sektor. Tidak ada satu dinas atau instansi pun yang bisa menyelesaikan persoalan inflasi sendirian. Dinas perdagangan, dinas pertanian, dinas perhubungan, hingga satuan kerja perangkat daerah lainnya harus duduk bersama, berbagi data, dan menyusun strategi bersama. Sinergi tanpa sekat birokrasi inilah yang diyakini Bima Arya akan menjadi kekuatan fundamental dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dari level paling akar rumput hingga ke panggung nasional.
Comments (0)