Waltz Salahkan Biden Soal Stok Senjata Menipis, Serangan Iran Harian Didukung Trump
WASHINGTON — Dua pejabat tinggi Amerika Serikat pada Minggu (8/6) secara terbuka membela rangkaian serangan harian terhadap infrastruktur Iran sekaligus me
WASHINGTON — Dua pejabat tinggi Amerika Serikat pada Minggu (8/6) secara terbuka membela rangkaian serangan harian terhadap infrastruktur Iran sekaligus menyalahkan pemerintahan sebelumnya atas menipisnya persediaan amunisi. Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menuding kebijakan mantan Presiden Joe Biden sebagai penyebab utama berkurangnya stok senjata, namun menegaskan bahwa militer AS tetap memiliki semua yang dibutuhkan untuk melanjutkan operasi. Di saat yang sama, Senator John Kennedy dari Partai Republik menyatakan bahwa Presiden Donald Trump menyukai serangan harian tersebut dengan analogi kontroversial: “Kadang-kadang Anda harus membunuh beberapa ayam untuk menakuti monyet.”
Serangan Dua Pekan Berturut-turut Sempat Jeda Akhir Pekan
Gelombang serangan udara dan laut yang dilancarkan oleh militer Amerika Serikat ke wilayah Iran telah berlangsung hampir dua pekan berturut-turut sebelum akhirnya dijeda menjelang akhir pekan. Selama periode ini, target-target yang dihantam mencakup fasilitas militer, pusat komunikasi, serta infrastruktur strategis yang diduga terkait dengan program persenjataan Iran. Menurut sejumlah pejabat pertahanan yang enggan disebutkan namanya, jeda pada akhir pekan bukanlah penghentian permanen melainkan momen untuk mengevaluasi efektivitas serangkaian operasi tersebut.
Operasi militer intensif ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlangsung antara Washington dan Teheran. Para analis mencatat bahwa skala dan frekuensi serangan kali ini jauh melampaui respons-respons militer sebelumnya, mencerminkan perubahan doktrin di bawah kepemimpinan Trump yang lebih agresif.
Waltz: Stok Menipis karena Biden, tetapi Militer Tetap Siap
Dalam wawancara dengan program berita Minggu pagi, Duta Besar Mike Waltz secara blak-blakan menyebut pemerintahan Joe Biden sebagai pihak yang bertanggung jawab atas menipisnya persediaan amunisi dan peralatan militer. “Kita harus mundur selangkah dan melihat bahwa banyak stok senjata yang habis bukan hanya karena apa yang kami berikan [kepada sekutu], tetapi juga karena pengelolaan yang buruk selama pemerintahan sebelumnya,” ujar Waltz.
“Kita harus mundur selangkah dan melihat bahwa banyak stok senjata yang habis bukan hanya karena apa yang kami berikan, tetapi juga karena pengelolaan yang buruk selama pemerintahan sebelumnya.”
Meski melontarkan kritik pedas terhadap kebijakan pertahanan era Biden, Waltz dengan tegas membantah bahwa kekurangan stok tersebut berdampak negatif pada kemampuan tempur saat ini. Ia menekankan bahwa Amerika Serikat tetap memiliki kapasitas penuh untuk melaksanakan misi-misinya di Timur Tengah. “Militer kita memiliki segala sesuatu yang dibutuhkannya. Tidak ada satu pun komandan di lapangan yang mengatakan sebaliknya,” tambahnya.
Pernyataan ini kontras dengan sejumlah laporan media dan kesaksian di Kongres yang sebelumnya menyebut bahwa laju konsumsi amunisi dalam konflik dengan Iran telah melampaui kapasitas produksi dalam negeri. Namun, kubu Gedung Putih berulang kali meyakinkan publik bahwa rantai pasok sedang diperkuat dan tidak akan menghambat kelanjutan kampanye militer.
Kennedy: Trump Suka Serangan Harian dan Metafora Ayam-Monyet
Senator John Kennedy, yang dikenal dengan gaya bicaranya yang eksentrik dan sering mengundang kontroversi, mengungkapkan pandangannya mengenai dukungan Presiden Trump terhadap strategi pengeboman tanpa henti. Menurut Kennedy, Trump sangat menyukai pendekatan serangan setiap hari karena memberikan tekanan psikologis dan material yang konstan terhadap musuh.
“Saya pikir kita harus terus melanjutkan blokade dan membuat mereka kelaparan. Saya pikir kita harus mengebom Pickaxe Mountain dan mencoba mencapai intinya.”
Namun, pernyataan yang paling mencuri perhatian adalah analogi yang digunakan Kennedy untuk menjelaskan logika di balik serangan beruntun tersebut. “Kadang-kadang Anda harus membunuh beberapa ayam untuk menakuti monyet,” katanya, mengisyaratkan bahwa tujuan serangan tidak hanya bersifat destruktif tetapi juga untuk menimbulkan efek gentar (deterrence) yang lebih luas.
Pickaxe Mountain yang dirujuk oleh Kennedy diduga merupakan sebutan tidak resmi untuk sebuah kompleks pertahanan bawah tanah Iran di wilayah pegunungan Zagros, yang selama ini diyakini menyimpan persediaan senjata dan menjadi pusat komando yang sulit dijangkau. Referensi ini menunjukkan bahwa para pengambil kebijakan di Washington memandang perlunya menghancurkan target-target yang diperkeras (hardened targets) untuk benar-benar melumpuhkan kapasitas militer Iran.
Dinamika Politik Domestik dan Reaksi Internasional
Narasi pembelaan yang dilontarkan oleh Waltz dan Kennedy mendapatkan respons beragam dari kalangan legislator dan pengamat. Sejumlah politisi dari Partai Republik mendukung penuh eskalasi ini sebagai langkah yang sudah lama diperlukan, sementara sebagian kecil menyuarakan kekhawatiran tentang biaya besar dan risiko keterlibatan berkepanjangan.
Di kubu Demokrat, kritik fokus pada tidak adanya otorisasi Kongres yang jelas untuk kampanye militer selama dua pekan tersebut. Beberapa anggota parlemen menuntut diadakannya sesi dengar pendapat darurat untuk membahas legalitas dan kejelasan tujuan strategis AS di Iran. Namun, dengan dukungan mayoritas yang dimiliki kubu pendukung Trump, upaya untuk membatasi operasi militer diperkirakan akan menghadapi jalan buntu.
Sementara itu, komunitas internasional terus memantau dengan cemas. Beberapa negara sekutu, termasuk Inggris dan Prancis, secara hati-hati menyatakan “pemahaman” atas hak bela diri AS tetapi mendesak agar semua pihak segera kembali ke jalur diplomasi. PBB melalui pernyataan resminya menyerukan agar semua pihak menahan diri dan memprioritaskan perlindungan warga sipil.
Kronologi Singkat Operasi “Iron Echo”
- 25 Mei 2026 – Eskalasi dimulai dengan serangan rudal presisi terhadap fasilitas radar dan pertahanan udara Iran di sepanjang Teluk Persia.
- 27 Mei – 4 Juni 2026 – Gelombang serangan harian berlanjut, mencakup serangan udara terhadap pusat pengembangan rudal balistik dan pangkalan angkatan laut.
- 5 Juni 2026 – Pentagon mengonfirmasi bahwa selama operasi, lebih dari 800 ton amunisi telah dijatuhkan, menghantam sedikitnya 47 target terpisah.
- 7 Juni 2026 – Jeda akhir pekan diumumkan; para pejabat menyebutnya sebagai “jeda taktis untuk evaluasi” meskipun spekulasi menyebutkan adanya kekhawatiran internal soal persediaan.
- 8 Juni 2026 – Waltz dan Kennedy tampil di media untuk memberikan pembelaan publik sekaligus mengalihkan isu menipisnya stok kepada pemerintahan sebelumnya.
Prospek Konflik dan Faktor Logistik
Ke depan, perdebatan mengenai sejauh mana persediaan amunisi bisa menopang konflik jangka panjang akan terus menjadi isu kunci. Para perwira logistik di Pentagon mengakui bahwa mempertahankan laju operasi saat ini akan memerlukan peningkatan anggaran darurat dan kemungkinan pengalihan persediaan dari kawasan lain. Namun, seperti ditegaskan oleh Duta Besar Waltz, “Komitmen kami terhadap keamanan nasional dan personel di lapangan tidak akan dikompromikan oleh isu persediaan jangka pendek.”
Publik Amerika sendiri terbelah; jajak pendapat terbaru menunjukkan 52 persen mendukung tindakan militer terhadap Iran, tetapi angka itu turun menjadi 38 persen jika konflik berlangsung lebih dari tiga bulan. Hal ini menempatkan tekanan politik yang signifikan pada Gedung Putih untuk mencapai hasil konkret secepatnya—sebuah realita yang mungkin berada di balik retorika keras dan frekuensi serangan yang dilancarkan setiap hari.
[SOCIAL_TWEET]: Waltz salahkan Biden atas menipisnya stok senjata AS, tapi sebut militer tetap siap tempur. Di saat sama, Kennedy ungkap Trump suka serangan harian ke Iran: “Kadang kita harus bunuh ayam untuk takuti monyet.” #Iran #Trump #MiliterAS[SOCIAL_TG]: Waltz: Stok amunisi AS menipis akibat kebijakan Biden, tetapi militer masih punya “segala yang dibutuhkan”. Kennedy: Trump suka serangan harian ke Iran — “Kadang harus bunuh ayam untuk takuti monyet.” Kampanye militer dua pekan dijeda, siap berlanjut. Detail selengkapnya di sini.
Comments (0)