Tingkat Dukungan PM Sanae Takaichi Jatuh ke Level Terendah Sejak 2025

Tokyo – Kekecewaan publik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terus menggunung seiring dengan melonjaknya biaya kehidupan sehari-hari. Sejumlah survei terbaru menunjukkan tin...

Jul 27, 2026 - 20:06
0 0
Tingkat Dukungan PM Sanae Takaichi Jatuh ke Level Terendah Sejak 2025

Tokyo – Kekecewaan publik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terus menggunung seiring dengan melonjaknya biaya kehidupan sehari-hari. Sejumlah survei terbaru menunjukkan tingkat kepuasan warga terhadap kabinet pimpinan Takaichi ambruk ke posisi paling rendah sejak tahun 2025, menandakan bahwa tekanan ekonomi telah menggoyahkan pijakan politik sang pemimpin.

Kondisi perekonomian Jepang yang belum sepenuhnya pulih ditambah gelombang inflasi global membuat harga-harga kebutuhan pokok, mulai dari bahan pangan hingga energi, merangkak naik tanpa ampun. Masyarakat merasakan himpitan yang semakin berat, terutama menjelang kuartal terakhir tahun ini. Beberapa lembaga riset mencatat bahwa indeks biaya hidup di kota-kota besar melonjak hingga lebih dari tujuh persen dalam dua belas bulan terakhir, sebuah angka yang belum pernah terjadi sejak periode stagflasi beberapa dekade silam.

Inflasi dan Tekanan pada Rumah Tangga

Harga bahan bakar minyak, listrik, dan gas rumah tangga menjadi sorotan utama. Subsidi yang dipangkas secara bertahap membuat pelanggan merasakan langsung beban kenaikan. Tidak hanya itu, harga beras, sayur-mayur, dan produk susu juga ikut melambung akibat gangguan rantai pasok global serta pelemahan nilai tukar yen. Para ibu rumah tangga harus semakin pandai mengatur anggaran, sementara pekerja muda mengeluhkan daya beli yang terus tergerus.

Meski Bank Sentral Jepang berupaya menahan laju inflasi dengan kebijakan moneter yang ketat, intervensi tersebut belum menunjukkan hasil signifikan di tingkat konsumen. Banyak warga merasa bahwa pemerintah tidak cukup sigap dalam menyediakan bantalan sosial bagi kelompok rentan. Protes kecil-kecilan bahkan mulai bermunculan di beberapa distrik di Tokyo dan Osaka, di mana massa menyuarakan kekecewaan atas mahalnya kebutuhan pokok.

Sentimen Publik Berbalik Arah

Survei yang dilakukan oleh koran nasional ternama beberapa hari lalu mengungkap bahwa tingkat persetujuan terhadap Kabinet Takaichi kini hanya berada di kisaran 31 persen, turun drastis dari posisi 48 persen pada awal tahun. Bukan hanya angka turun, tetapi juga intensitas ketidakpuasan yang meningkat. Responden yang menyatakan “sangat tidak puas” naik hampir dua kali lipat dibanding periode sebelumnya. Para analis politik menyebut lonjakan ketidakpuasan ini sebagai “efek dapur” — di mana penilaian terhadap pemimpin sangat dipengaruhi oleh isi kantung belanja rumah tangga.

Sanae Takaichi, yang sebelumnya diharapkan dapat membawa stabilitas setelah pergantian beberapa pemimpin dalam lima tahun terakhir, kini menghadapi ujian berat. Meski ia dikenal sebagai figur tegas dan vokal dalam kebijakan keamanan, rapor ekonominya justru menjadi bumerang. Pemilih dari kalangan menengah ke bawah, yang dahulu menjadi pendukung setianya, mulai mempertanyakan kapasitasnya mengelola krisis biaya hidup.

Tanggapan Istana dan Oposisi

Dalam keterangan persnya, Juru Bicara Pemerintah menegaskan bahwa kabinet terus bekerja keras merumuskan paket stimulus ekonomi tambahan. Rencana bantuan langsung tunai bagi keluarga berpenghasilan rendah dikabarkan akan dipercepat pencairannya. Namun, oposisi tak tinggal diam. Mereka menyebut langkah tersebut sebagai “obat bius sementara” yang tidak menyentuh akar masalah. Partai-partai berseberangan mendesak agar Takaichi melakukan reformasi struktural, termasuk mendorong investasi produktif dan mengevaluasi kebijakan perdagangan yang dinilai merugikan petani lokal.

Para ekonom yang diwawancarai sejumlah media menilai, meskipun inflasi Jepang masih lebih rendah dibanding beberapa negara maju lainnya, dampaknya terhadap rumah tangga tetap signifikan karena pertumbuhan upah yang stagnan. “Perpaduan antara inflasi tinggi dan upah riil yang tidak bergerak inilah yang memicu amukan publik,” ujar Profesor Keio dari Universitas Tokyo. Ia menambahkan bahwa jika Takaichi tidak segera menunjukkan terobosan, bukan tidak mungkin mosi tidak percaya akan mencuat di parlemen dalam beberapa bulan mendatang.

Ke depan: Ujian Kepercayaan

Jatuhnya popularitas ini menempatkan Takaichi dalam posisi rentan menjelang pemilu sela yang dijadwalkan akhir tahun. Retakan di koalisi pendukungnya mulai terlihat, terutama dari mitra junior yang khawatir basis suara mereka ikut tergerus. Di sisi lain, faksi-faksi internal partai disebut-sebut sudah mulai menjajaki figur alternatif yang dianggap lebih mampu mengatasi gejolak ekonomi.

Sementara itu, warga di pelosok terus merasakan dampak langsung. Seorang pedagang sayur di pasar tradisional Kyoto mengungkapkan, “Setiap hari harga dari pemasok berubah. Pelanggan saya sering mengeluh dan membeli lebih sedikit. Saya tidak tahu harus berbuat apa.” Kisah serupa bergema di banyak sudut negeri, memperkuat tragedi keseharian yang menjadi latar turunnya pamor sang perdana menteri.

Dengan situasi yang belum menunjukkan tanda-tanda membaik, panggung politik Jepang diperkirakan akan terus bergolak. Sanae Takaichi harus secepatnya menerjemahkan keprihatinan publik menjadi kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan mereka, atau bersiap menghadapi gelombang penolakan yang lebih besar. Waktu yang tersisa tidaklah banyak, dan rakyat telah mengirimkan sinyal jelas melalui angka-angka survei yang jatuh bebas ke titik nadir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User