Sopir Travel Ngaku Bunuh karena Dihina, Keluarga Korban Ungkap Pencurian ATM
Penyidik di wilayah Sulawesi Selatan kembali menggali fakta baru terkait kasus pembunuhan seorang wanita muda yang diduga dilakukan oleh sopir travel online. Tersangka, berinisial ABM (37), kini mende...
Penyidik di wilayah Sulawesi Selatan kembali menggali fakta baru terkait kasus pembunuhan seorang wanita muda yang diduga dilakukan oleh sopir travel online. Tersangka, berinisial ABM (37), kini mendekam di tahanan usai ditangkap atas dugaan pembunuhan terhadap Paramita (26), warga asal Kabupaten Wajo. Dalam pemeriksaan awal, pria paruh baya itu mengaku nekat menghabisi nyawa korban lantaran merasa dihina. Namun, klaim tersebut langsung menuai sanggahan keras dari pihak keluarga korban.
Keluarga Paramita menegaskan bahwa alasan yang disampaikan pelaku tidak lebih dari upaya mengaburkan niat sebenarnya. Menurut mereka, korban dikenal sebagai sosok yang lemah lembut dan jarang terlibat konflik dengan orang lain, apalagi dengan sopir travel yang baru pertama kali dikenalnya. Sang ibu, yang ditemui di kediamannya, menangis sejadi-jadinya saat mengingat nasib anaknya. Ia bersumpah tidak pernah mendengar putrinya berselisih dengan siapa pun, terlebih menggunakan kata-kata kasar yang bisa memicu amarah hingga taraf nyawa melayang.
Keluarga Ungkap Dugaan Pencurian ATM
Selain membantah motif penghinaan, keluarga korban menjatuhkan bom waktu baru. Mereka menduga pelaku tidak hanya membunuh, tetapi juga menguras harta benda milik Paramita. Salah satu barang yang dikabarkan hilang adalah kartu ATM milik korban. Dugaan kuat, tersangka mengambil kartu tersebut usai melakukan pembunuhan dengan tujuan menguras tabungan korban. Hal ini memperkuat dugaan bahwa aksi kejahatan yang terjadi bukan semata-mata dipicu emosi sesaat akibat harga diri terluka, melainkan ada niat merugikan secara materi di baliknya.
Informasi dari kerabat dekat menyebutkan, sehari-hari korban bekerja sebagai karyawan swasta dengan penghasilan pas-pasan. Tabungan di rekeningnya merupakan hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun. Kehilangan nyawa putrinya sudah cukup menyiksa, namun mengetahui ada upaya menguras habis rezeki korban membuat luka keluarga semakin berdarah. Mereka pun meminta aparat penegak hukum untuk tidak mudah termakan oleh narasi pelaku dan menyelidiki jejak transaksi keuangan korban pasca kematiannya.
Kronologi Pertemuan Berujung Maut
Paramita diketahui menggunakan jasa travel untuk keperluan pribadinya pada hari tragis tersebut. ABM yang bertugas menjemput langsung mendapat kepercayaan penuh dari korban. Perjalanan yang seharusnya biasa-biasa saja berubah menjadi mimpi buruk ketika mobil tersebut melaju ke lokasi sepi. Di sanalah, nyawa Paramita direnggut dengan keji. Jasadnya kemudian dibuang di area terpencil yang jauh dari pemukiman warga, sehingga butuh waktu cukup lama bagi keluarga untuk menyadari bahwa putri mereka telah tiada.
Setelah ditangkap, ABM berkilah bahwa korban sempat melontarkan kata-kata menyakitkan yang membuat amarahnya meluap hingga tak terkendali. Ia mengklaim tidak berniat membunuh sejak awal, melainkan emosi yang mendadak meluap. Namun, narasi tersebut dianggap keluarga terlalu dibuat-buat dan tidak masuk akal. Mereka menilai seorang sopir profesional seharusnya mampu menahan diri, bukan justru melampiaskan amarah dengan cara yang sangat keji.
Penyidikan dan Tuntutan Keadilan
Kepolisian setempat saat ini tengah mengorek lebih dalam terkait motif sebenarnya di balik pembunuhan ini. Tim penyidik telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk rekan kerja korban dan pihak penyedia layanan travel. Pihak berwenang juga memeriksa catatan transaksi perbankan untuk memastikan dugaan pencurian ATM yang diungkapkan keluarga. Apabila bukti menunjukkan adanya pengurasan rekening, maka tersangka bisa terjerat pasal berlapis, mulai dari pembunuhan berencana hingga pencurian dengan pemberatan.
Keluarga korban menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga ke pengadilan. Mereka menolak adanya upaya mediasi maupun permintaan maaf yang mengabaikan proses hukum. Bagi mereka, kejadian ini bukan lagi sekadar kesalahan manusiawi yang bisa dimaafkan, melainkan kejahatan serius yang merenggut masa depan seorang anak perempuan yang masih berusia 26 tahun. Mereka juga berharap kejadian serupa tidak menimpa keluarga lain, dengan menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan jasa transportasi online, terutama saat bepergian sendirian.
Duka yang mendalam masih terasa di rumah duka. Foto Paramita yang tersenyum manis kini hanya tinggal kenangan yang disimpan rapi di dalam pigura. Ayah korban, yang sejak kejadian lebih banyak menghabiskan waktu di teras rumah sambil merokok, hanya bisa pasrah kepada hukum yang sedang berjalan. Ia berharap hakim kelak dapat melihat dengan jelas bahwa putrinya adalah korban dari kejahatan yang direncanakan dengan licik, bukan sekadar kecelakaan akibat cekcok mulut.
Di sisi lain, masyarakat sekitar juga dibuat geram dengan keberadaan tersangka yang dianggap telah mencoreng nama baik profesi sopir travel. Banyak warga yang mengaku sering menggunakan jasa transportasi serupa dan kini merasa was-was. Mereka berharap polisi segera mengungkap seluruh fakta hingga tuntas, termasuk memastikan apakah tersangka memiliki catatan kriminal sebelumnya atau terlibat dalam kasus serupa.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para pengguna jasa transportasi daring untuk selalu waspada. Membagikan detail perjalanan kepada keluarga, mencatat nomor kendaraan, dan menghindari perjalanan di malam hari sendirian adalah beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan. Sementara itu, pihak penyedia aplikasi travel diminta lebih ketat dalam melakukan seleksi terhadap mitra pengemudi, termasuk pemeriksaan riwayat psikologi dan keamanan secara berkala.
Hingga saat ini, ABM masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres setempat. Penyidik terus menyusun berkas perkara dengan memadukan keterangan saksi, hasil olah tempat kejadian perkara, serta bukti digital yang berhasil dikumpulkan. Keluarga korban bersabar menunggu proses hukum berjalan, meski air mata mereka tak pernah kering. Mereka percaya, seberapa pun pelaku berusaha memutarbalikkan fakta dengan klaim penghinaan, keadilan tetap akan berpihak pada kebenaran yang sesungguhnya, terutama setelah adanya pengungkapan dugaan pencurian ATM yang semakin memperkuat niat jahat sang tersangka.
Comments (0)