Seleksi Akpol 2026: 350 Taruna-Taruni Lolos, Tes Komputer Berstandar Olimpiade
Proses rekrutmen calon perwira Polri untuk tahun ajaran 2026 telah memasuki babak akhir. Sebanyak 350 orang, terdiri dari 320 pria dan 30 wanita, dinyatakan lolos seleksi Akademi Kepolisian (Akpol). P...
Proses rekrutmen calon perwira Polri untuk tahun ajaran 2026 telah memasuki babak akhir. Sebanyak 350 orang, terdiri dari 320 pria dan 30 wanita, dinyatakan lolos seleksi Akademi Kepolisian (Akpol). Pengumuman ini disampaikan setelah serangkaian tes ketat yang digelar oleh Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) Polri sepanjang beberapa bulan terakhir.
Kuota dan Komposisi Gender
Dari total kuota 350 orang yang ditetapkan, komposisi 320 calon taruna dan 30 calon taruni mencerminkan upaya Polri untuk terus membuka kesempatan bagi perempuan. Meski jumlah taruni masih lebih sedikit, angka ini meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya, menandakan minat dan kemampuan perempuan di bidang kepolisian kian diakui. SSDM Polri menegaskan bahwa seleksi dilakukan murni berdasarkan prestasi tanpa diskriminasi gender.
Inovasi Tes Berbasis Komputer Standar Olimpiade
Salah satu pembeda utama seleksi Akpol 2026 adalah penggunaan sistem ujian berbasis komputer yang mengadopsi standar soal setingkat olimpiade. Langkah ini diambil untuk menguji kemampuan berpikir kritis, logika, dan akademik para peserta secara mendalam. Materi tes meliputi matematika, sains, bahasa, dan pengetahuan umum dengan tingkat kesulitan yang dirancang lebih tinggi dari ujian masuk perguruan tinggi reguler. Teknologi Computer Assisted Test (CAT) yang diterapkan juga memungkinkan transparansi penuh; setiap peserta dapat langsung melihat skor mereka begitu ujian selesai, meminimalkan potensi kecurangan dan intervensi manual.
Menurut Irjen Pol. Drs. Arief Sulistyanto, M.Si., selaku Asisten Kapolri bidang SDM, inovasi ini merupakan respons terhadap tantangan zaman yang menuntut polisi tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas dan adaptif terhadap teknologi. “Kami ingin menghasilkan perwira yang mampu berpikir seperti ilmuwan sekaligus bertindak seperti pelindung masyarakat. Standar olimpiade kami terapkan bukan untuk mempersulit, melainkan untuk menjaring talenta terbaik yang akan menjadi pemimpin Polri di masa depan,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (27/7/2026).
Tahapan Seleksi yang Komprehensif
Seleksi Akpol 2026 tidak hanya mengandalkan tes akademik. Sebelum mencapai tahap ujian komputer, para peserta telah melalui serangkaian penyaringan awal yang meliputi pemeriksaan administrasi, kesehatan, dan psikologi. Tahap administrasi memastikan seluruh persyaratan dokumen terpenuhi, sementara tes kesehatan mencakup pemeriksaan fisik umum, mata, gigi, hingga rekam medis mendalam. Bagi yang lolos, dilanjutkan dengan tes psikologi untuk mengukur kestabilan emosi, integritas, dan kemampuan bekerja dalam tim—kualitas esensial bagi seorang perwira polisi.
Setelah itu, barulah peserta menghadapi tes akademik berbasis komputer dengan soal-soal berstandar olimpiade. Dari ribuan pendaftar, hanya 350 orang yang berhasil mempertahankan konsistensi performa hingga akhir. SSDM Polri mencatat, tingkat keketatan mencapai 1:50, artinya hanya sekitar 2 dari 100 pelamar yang akhirnya lolos. Angka ini menunjukkan betapa selektifnya proses rekrutmen Akpol tahun ini.
Panitia juga menyelenggarakan tes kesamaptaan jasmani yang menguji kekuatan fisik, kecepatan lari, renang, dan ketahanan. Meski demikian, penekanan pada aspek kecerdasan akademik lewat tes komputer menjadi sorotan karena belum pernah digunakan dengan level kesulitan sekompetitif ini pada tahun-tahun sebelumnya.
Transparansi dan Antisipasi Kecurangan
Penerapan CAT dengan pengawasan ketat merupakan wujud komitmen Polri terhadap transparansi. Setiap ruang ujian dilengkapi kamera pengawas dan sistem pendeteksi gerakan mencurigakan. Soal-soal diacak secara otomatis untuk setiap peserta, sehingga peluang kerja sama atau kebocoran jawaban hampir tidak ada. Selain itu, hasil tes langsung terintegrasi dengan pusat data SSDM Polri, memungkinkan evaluasi real-time yang menghindari manipulasi nilai manual. Masyarakat pun dapat mengakses informasi hasil seleksi melalui portal resmi penerimaan Polri secara terbuka.
Harapan untuk Angkatan 2026
Ke-350 calon taruna dan taruni yang lolos ini selanjutnya akan menjalani pendidikan selama empat tahun di Akpol Semarang. Mereka akan ditempa secara akademik, fisik, dan mental untuk menjadi perwira polisi profesional yang siap mengemban tugas di berbagai wilayah Indonesia. Polri berharap, dengan standar rekrutmen yang semakin tinggi, lulusan Akpol angkatan 2026 mampu menjadi agen perubahan yang membawa institusi kepolisian lebih dipercaya publik dan adaptif terhadap perkembangan global.
Prosesi penerimaan resmi dan pelantikan direncanakan akan dilaksanakan pada awal Agustus 2026 di hadapan Kapolri dan pejabat tinggi negara. Masyarakat pun menyambut positif peningkatan kualitas seleksi ini sebagai langkah maju dalam mencetak generasi polisi yang unggul dan berintegritas.
Comments (0)