Application Name Application Name

Patokan

Hukum & Kriminal

Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.616 per Dolar AS

JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (5/1/2023). Berdasarkan data pasar yang dihimpun, mata u

Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.616 per Dolar AS

JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (5/1/2023). Berdasarkan data pasar yang dihimpun, mata uang Garuda ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada sore hari, melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang masih mendominasi pasar keuangan global.

Suasana aktivitas penukaran mata uang tampak di salah satu gerai penukaran di Jakarta, di mana sejumlah pegawai menunjukkan lembaran uang rupiah kepada para calon penukar. Momen tersebut terabadikan dalam foto Liputan6.com/Angga Yuniar. Kehadiran para penukar valas ini menjadi gambaran nyata bagaimana pergerakan nilai tukar turut mewarnai aktivitas masyarakat sehari-hari di tengah fluktuasi kurs yang masih tinggi.

Kronologi Pelemahan Rupiah Sepanjang Perdagangan

Pelemahan rupiah pada Kamis (5/1/2023) tidak terjadi secara tiba-tiba. Mata uang Garuda bergerak di bawah tekanan sejak awal perdagangan, mengikuti dinamika pasar global yang tengah bersikap hati-hati. Berikut urutan kejadian yang mewarnai pergerakan rupiah pada hari tersebut:

  1. Rupiah dibuka melemah seiring menguatnya indeks dolar AS, yang ditopang ekspektasi pasar bahwa suku bunga tinggi di Amerika Serikat akan bertahan lebih lama.
  2. Tekanan berlanjut setelah risalah rapat (minutes) Federal Reserve yang dirilis awal pekan menunjukkan sikap bank sentral AS yang masih hawkish dalam mengendalikan inflasi.
  3. Sepanjang sesi perdagangan, pelaku pasar cenderung menahan diri sambil menunggu rilis data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan keluar pada Jumat (6/1/2023).
  4. Menjelang penutupan, tekanan jual terhadap rupiah masih mendominasi sehingga mata uang Garuda berakhir di posisi Rp15.616 per dolar AS.
  5. Secara harian, pelemahan rupiah tercatat 34 poin atau minus 0,22 persen dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (4/1/2023).

Pelemahan sebesar 34 poin tersebut memang tergolong tipis, tetapi arah pergerakan rupiah tetap menjadi perhatian serius pelaku pasar. Pasalnya, level Rp15.616 masih berada di dekat titik terendah dalam beberapa waktu terakhir, sehingga sentimen pasar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih rapuh.

Faktor Eksternal Dominasi Pelemahan Rupiah

Analis pasar uang menilai pelemahan rupiah pada perdagangan hari itu didominasi oleh faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS. Kebijakan moneter The Fed yang agresif sepanjang tahun lalu masih membayangi pasar hingga awal 2023. Sepanjang 2022, bank sentral AS menaikkan suku bunga acuannya dari kisaran 0,25 persen menjadi 4,50 persen, level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

"Pelemahan rupiah saat ini lebih banyak didorong faktor eksternal, yakni penguatan dolar AS di tengah kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi. Pasar juga sedang menunggu data ketenagakerjaan AS untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya," ujar analis pasar uang.

Selain faktor suku bunga, pergerakan dolar AS juga dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap perlambatan ekonomi global. Investor cenderung mengalihkan dananya ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat, sehingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang semakin besar.

Respons Bank Indonesia Menjaga Stabilitas

Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam menghadapi tekanan nilai tukar. Sepanjang 2022, bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan secara bertahap mulai Agustus 2022, dari 3,50 persen menjadi 5,50 persen hingga akhir tahun. Kebijakan tersebut ditempuh untuk mengendalikan inflasi sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah derasnya arus modal keluar (capital outflow).

"Bank Indonesia terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, antara lain melalui intervensi di pasar valuta asing dan langkah-langkah stabilisasi di pasar Surat Berharga Negara," demikian sikap yang kerap disampaikan bank sentral dalam menjaga nilai tukar.

Meski demikian, efektivitas kebijakan suku bunga tinggi dalam menahan pelemahan rupiah tetap bergantung pada kondisi global. Jika The Fed terus mempertahankan suku bunga tinggi, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut, sehingga BI dituntut tetap waspada dan responsif terhadap setiap perubahan dinamika pasar.

Katalis Positif dari Pembukaan Ekonomi Tiongkok

Di tengah tekanan tersebut, pasar juga mencermati sejumlah katalis positif yang berpotensi menopang rupiah. Salah satunya adalah pembukaan kembali ekonomi Tiongkok setelah pemerintah setempat melonggarkan kebijakan nol-COVID. Langkah itu dipandang mampu mendorong pemulihan rantai pasok global dan meningkatkan permintaan komoditas, yang pada akhirnya dapat mendukung kinerja ekspor Indonesia serta memperkuat rupiah.

Selain itu, harga komoditas andalan ekspor Indonesia yang masih berada di level relatif tinggi turut menjadi penopang fundamental nilai tukar. Surplus neraca perdagangan yang bertahan berbulan-bulan juga menjadi modal bagi rupiah untuk bertahan di tengah gejolak pasar global.

Proyeksi Pergerakan Rupiah ke Depan

Ke depan, arah pergerakan rupiah akan sangat ditentukan oleh data ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat (6/1/2023). Jika data tersebut lebih lemah dari perkiraan pasar, peluang The Fed memperlambat kenaikan suku bunga semakin besar, sehingga dolar AS berpotensi melemah dan rupiah berpeluang menguat. Sebaliknya, jika data tenaga kerja AS menunjukkan kondisi yang kuat, dolar AS berpotensi kembali perkasa dan rupiah berisiko tertekan lebih dalam.

Untuk diketahui, rupiah sepanjang 2022 mencatatkan depresiasi yang signifikan terhadap dolar AS di tengah pengetatan moneter global, dan kondisi serupa juga dialami sejumlah mata uang negara berkembang lainnya. Berikut sejumlah data kunci yang perlu dicermati:

  • Level penutupan rupiah: Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1/2023).
  • Pelemahan harian: 34 poin atau minus 0,22 persen.
  • Suku bunga acuan BI akhir 2022: 5,50 persen, naik dari 3,50 persen sejak Agustus 2022.
  • Suku bunga The Fed akhir 2022: 4,50 persen, tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Dengan kombinasi faktor tersebut, pergerakan rupiah ke depan tetap akan dipengaruhi oleh kebijakan The Fed, laju inflasi domestik, pertumbuhan ekonomi, serta kinerja neraca perdagangan Indonesia. Pelaku pasar pun diimbau untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi global yang dapat mengubah arah pergerakan nilai tukar secara signifikan.

[SOCIAL_TWEET]: Rupiah ditutup melemah ke Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1/2023), turun 34 poin atau 0,22% di tengah penguatan dolar AS. #Rupiah #NilaiTukar #Ekonomi[SOCIAL_TG]: 📉 Rupiah melemah ke Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1/2023), turun 34 poin (-0,22%). Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan dolar AS.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer3
TENTANG PENULIS writer3

Bacaan Terkait

Comments (0)

User