Roblox Gagal Blokir Orang Dewasa Menghubungi Anak, eSafety Turun Tangan
Regulator pengawas keamanan daring Australia kembali menekan Roblox. Komisioner eSafety, Julie Inman Grant, pada Kamis (20/8/2026) menyatakan bahwa raksasa
Regulator pengawas keamanan daring Australia kembali menekan Roblox. Komisioner eSafety, Julie Inman Grant, pada Kamis (20/8/2026) menyatakan bahwa raksasa platform gim itu masih gagal menghentikan orang dewasa mendekati anak-anak lewat berbagai celah keamanan, kendati Roblox telah menerapkan sejumlah perubahan pada akhir tahun lalu untuk memblokir pengiriman pesan dari orang dewasa kepada anak yang tidak dikenal.
Pernyataan tersebut bukan sekadar teguran biasa. eSafety menandatangani perjanjian yang dapat ditegakkan melalui pengadilan (court-enforceable undertaking) dengan Roblox. Berdasarkan perjanjian itu, Roblox menjadi platform pertama yang menyerahkan diri pada audit independen di bawah Undang-Undang Keamanan Daring (Online Safety Act) Australia — sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah regulasi platform digital di negara itu.
Celah Keamanan yang Terungkap dari Pengujian eSafety
Langkah tegas itu berawal dari kecurigaan eSafety bahwa perlindungan anak di Roblox belum memadai. Sepanjang awal tahun ini, lembaga tersebut melakukan pengujian langsung terhadap sistem platform, menyusul kekhawatiran berkelanjutan soal praktik bujuk rayu daring (grooming) terhadap anak. Hasilnya, kata eSafety, sangat memprihatinkan: orang dewasa yang sama sekali tidak dikenal masih bisa mengirim permintaan koneksi kepada akun anak-anak.
Yang lebih mengkhawatirkan, profil dan biografi anak-anak — mulai dari nama akun, jumlah dan nama koneksi, gambar avatar, hingga informasi biografis yang dianggap non-sensitif seperti minat dan hobi — terlihat oleh siapa pun di platform. Anak-anak bahkan tidak memiliki opsi untuk membatasi visibilitas informasi tersebut, sebuah temuan yang menunjukkan bahwa desain privasi Roblox belum berpihak kepada pengguna termudanya.
"Profil dan biografi anak, termasuk nama akun, jumlah dan nama koneksi, gambar avatar, serta informasi biografis non-sensitif seperti minat, terlihat oleh siapa pun di platform Roblox, tanpa opsi untuk membatasi visibilitas informasi tersebut," demikian temuan eSafety dalam pengujiannya.
Lebih buruk lagi, permintaan koneksi semacam itu tidak memicu notifikasi kepada orang tua. Celah lain yang ditemukan eSafety tak kalah serius: pelaku kejahatan bisa mencari daftar kontak anak yang terbuka untuk umum guna menjaring target-target baru. Artinya, satu akun anak yang terpapar bisa menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk menjangkau lebih banyak korban dalam satu jaringan pertemanan.
Apa Isi Perjanjian Roblox dengan eSafety?
Perjanjian yang disepakati menempatkan Roblox dalam pengawasan yang jauh lebih ketat. Sebagai platform pertama yang tunduk pada audit independen berdasarkan Online Safety Act, Roblox wajib membuka proses internalnya untuk diperiksa oleh pihak ketiga yang independen. Hasil audit itu akan menjadi tolok ukur objektif apakah perbaikan yang dijanjikan benar-benar berjalan di lapangan, bukan sekadar janji di atas kertas.
Yang membuat perjanjian ini berbeda dari sekadar komitmen moral adalah kekuatan hukumnya. Karena berbentuk court-enforceable undertaking, seluruh kewajiban Roblox dapat dibawa ke pengadilan. Jika Roblox terbukti gagal memenuhi ketentuannya, regulator memiliki jalan untuk mengambil langkah penegakan hukum lanjutan, termasuk potensi sanksi. Inilah yang membuat peluncuran audit independen pertama ini begitu dinanti.
Perubahan Sebelumnya Dinilai Belum Cukup
Pada akhir tahun lalu, Roblox sebenarnya sudah berusaha memperbaiki diri. Perusahaan memperkenalkan langkah-langkah untuk menghalangi orang dewasa mengirim pesan kepada anak yang tidak mereka kenal, menyusul peringatan eSafety soal kekhawatiran grooming yang terus berlanjut. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa upaya tersebut hanya menutup satu pintu, sementara pintu-pintu lain tetap terbuka lebar.
Kenyataan ini menegaskan bahwa keamanan anak di ruang digital bukan pekerjaan sekali jadi. Para pengembang platform, menurut pandangan para pegiat perlindungan anak, harus terus menguji produknya dari sudut pandang pelaku kejahatan, bukan hanya dari sudut pandang pengguna biasa. Kecepatan pelaku mencari celah baru hampir selalu melampaui kecepatan platform menambal lubang lama — dan itulah yang coba diputus eSafety lewat mekanisme audit independen yang berkelanjutan.
Relevansi bagi Orang Tua di Indonesia
Meski kasus ini terjadi di Australia, dampaknya terasa jauh melampaui batas negara. Roblox digunakan oleh ratusan juta pemain di seluruh dunia, termasuk jutaan anak Indonesia. Setiap celah keamanan yang ditemukan di satu negara, pada dasarnya adalah celah yang sama bagi anak-anak di negara lain, karena sistem dan infrastruktur platformnya identik.
Bagi orang tua, sejumlah langkah sederhana tetap relevan: aktifkan kontrol orang tua yang tersedia di pengaturan akun, pantau daftar teman dan koneksi anak secara berkala, batasi komunikasi hanya dengan orang yang dikenal di dunia nyata, serta ajak anak berbicara tentang tanda-tanda bahaya perundungan dan bujuk rayu daring. Keterlibatan orang tua tetap menjadi lapisan pertahanan paling efektif di tengah keterbatasan pengawasan regulasi lintas negara.
eSafety sendiri menegaskan akan terus memantau kepatuhan Roblox. Audit independen pertama akan menjadi ujian sesungguhnya apakah perubahan yang dijanjikan berubah dari sekadar dokumen menjadi perlindungan nyata bagi anak-anak. Publik menunggu, dan pengadilan Australia siap menindak jika Roblox kembali lalai menjaga pengguna termudanya.
[SOCIAL_TWEET]: Roblox kembali disorot: eSafety Australia menemukan celah yang memungkinkan orang dewasa menghubungi anak-anak. Kini Roblox menjadi platform pertama yang wajib menjalani audit independen. #Roblox #KeamananAnak[SOCIAL_TG]: eSafety Australia temukan celah keamanan di Roblox: orang dewasa asing masih bisa menghubungi anak-anak, profil anak terbuka untuk umum, dan tidak ada notifikasi ke orang tua. Roblox kini wajib menjalani audit independen pertama dalam sejarah Online Safety Act.
Comments (0)