Fyodor Lukyanov, Ketua Presidium Council on Foreign and Defence Policy sekaligus Pemimpin
Ketegangan Transatlantik dan Sikap Amerika Serikat Lukyanov membuka analisisnya dengan menunjukkan realitas yang tak terbantahkan: tatanan transatlantik l
Ketegangan Transatlantik dan Sikap Amerika Serikat
Lukyanov membuka analisisnya dengan menunjukkan realitas yang tak terbantahkan: tatanan transatlantik lama sedang mengalami erosi. Namun, tegasnya, melemahnya solidaritas Barat bukanlah alasan bagi Rusia untuk menunda penyelesaian konflik. Sebaliknya, situasi tersebut justru menuntut ketegasan strategis dari pihak Kremlin. Menurutnya, Eropa Barat belum juga berhenti menganggap Rusia sebagai ancaman eksistensial, bahkan ketakutan mereka terhadap Moscow sudah mencapai titik di mana konsepsi perang besar kembali dianggap dapat diterima.
Paradoksnya, di tengah ketakutan yang meluas di kalangan elit Eropa, persatuan Barat justru terlihat retak. Amerika Serikat, yang selama ini menjadi tulang punggung keamanan NATO, tampak semakin menjauhkan diri dari krisis Ukraina. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan strategis mendasar: mengapa Barat tidak lagi bersatu? Mengapa Washington memilih pendekatan yang lebih pragmatis bahkan cenderung menepi? Dan mengapa Moscow tidak bisa sekadar menunggu kontradiksi internal Uni Eropa menghasilkan solusi yang menguntungkan bagi Rusia?
Jawaban Lukyanov terhadap pertanyaan terakhir sangatlah tegas. Bagi Rusia, menunggu adalah strategi yang mahal dan berisiko. Perubahan konfigurasi kekuasaan global memang terjadi, namun kecepatan dan arahnya tidak dapat diprediksi. Jika Kremlin membiarkan waktu berlalu tanpa menegaskan syarat-syarat penyelesaian yang jelas, maka inisiatif akan beralih ke pihak lain yang lebih agresif dalam merumuskan agenda pasca-konflik.
Jalur Diplomasi di Balik Tirai: Pertemuan Wina
Sebagai ilustrasi dari kompleksitas lanskap diplomasi saat ini, Lukyanov mengutip laporan Bloomberg mengenai pertemuan tertutup yang berlangsung di Wina pada Juli lalu. Pertemuan tersebut melibatkan pejabat senior mantan perwakilan dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Rusia. Meski bukan negosiasi pemerintahan resmi, konsultasi track-two atau jalur non-resmi itu membahas kemungkinan syarat-syarat penyelesaian konflik di Ukraina. Kehadiran para tokoh dari kedua kubuk menandakan bahwa dialog rahasia tetap berjalan di balik retorika keras yang sering terdengar di depan publik.
Namun, Lukyanov memperingatkan agar tidak terlalu berharap pada mekanisme semacam itu. Diplomasi informal, menurutnya, tidak akan menggantikan kebutuhan Rusia untuk mendefinisikan kemenangannya sendiri. Tanpa posisi tawar yang jelas dan tegas dari Kremlin, diskusi di meja makan malam para diplomat pensiunan akan tetap sekadar wacana akademis tanpa kekuatan mengikat.
“Barat kolektif, sebagaimana kita pahami saat ini, sesungguhnya tidak eksis sebelum tahun 1945. Selama berabad-abad, perdebatan mengenai apa sebenarnya Barat itu—dalam konteks geografi, peradaban, agama, sistem politik, atau kumpulan nilai—terus berlangsung tanpa henti.”
— Fyodor Lukyanov
Makna Barat dan Sejarah Peradaban
Ketika ditanya tentang makna “Barat kolektif”, Lukyanov menawarkan perspektif historis yang menarik. Ia menjelaskan bahwa istilah tersebut sebenarnya merupakan terminologi yang lebih sering digunakan oleh pihak Rusia, sementara sumber-sumber berbahasa Inggris cenderung menggunakan konsep seperti Atlantisisme atau politik Barat. Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Barat kolektif sebagaimana dipahami kini sama sekali tidak eksis sebelum Perang Dunia II berakhir.
Sejarah mencatat bahwa selama berabad-abad, perdebatan mengenai apa sebenarnya Barat itu tidak pernah menemui kesimpulan final. Apakah Barat ditentukan oleh batas geografis? Apakah ia merupakan entitas peradaban? Apakah identitasnya melekat pada agama tertentu, sistem politik demokratis, atau sekumpulan nilai universal? Pertanyaan-pertanyaan ini terus bergulir dan seringkali berujung pada definisi yang saling bertentangan.
Dalam konteks sejarah yang lebih luas, Barat sering dikontraskan dengan Timur. Namun, Lukyanov menunjukkan bahwa definisi “Timur” itu sendiri berganti-ganti. Pada suatu masa, Timur diidentikkan dengan Turki dan Kesultanan Utsmaniyah, atau pada konteks lain merujuk pada dunia Arab-Muslim secara kolektif. Di sisi lain, perdebatan juga sering berpusat pada pecahan internal agama Kristen, yakni perpecahan antara Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Roma. Dalam pemahaman ini, garis pemisah antara Barat dan Timur bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan konstruksi yang terus berubah seiring dinamika kekuasaan.
Menurut Lukyanov, bangsa Prancis dan Anglo-Amerika secara historis menganggap diri mereka sebagai perwujudan Barat yang autentik. Sementara itu, Jerman baru kemudian diakui sebagai bagian integral dari Barat setelah melalui proses panjang. Hal ini menunjukkan bahwa identitas Barat tidak bersifat alamiah atau bawaan, melainkan hasil dari konstruksi politik, kemenangan militer, dan dominasi narasi yang terus berkembang dari masa ke masa.
Implikasi Strategis bagi Rusia
Dari rangkaian analisis historis tersebut, Lukyanov menarik kesimpulan yang sangat praktis. Jika identitas Barat itu sendiri adalah hasil konstruksi yang rapuh dan terus berubah, maka Rusia tidak perlu terjebak dalam narasi bahwa blok Barat adalah entitas monolitik yang abadi. Ketegangan internal antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Eropanya, serta perbedaan visi antara Paris, Berlin, dan London, bukanlah anomali melainkan kelanjutan dari sejarah panjang perbedaan kepentingan yang tertutup oleh retorika solidaritas selama Perang Dingin.
Oleh karena itu, menunggu hingga Barat benar-benar hancur berantakan bukanlah strategi yang cerdas. Lukyanov berargumen bahwa Rusia harus memanfaatkan momen ketidakpastian global ini untuk mengokohkan posisi militer dan diplomatiknya di medan tempur serta di meja perundingan. Syarat-syarat penyelesaian harus ditetapkan oleh Moscow berdasarkan realitas di lapangan, bukan sebagai hasil kompromi yang dipaksakan oleh elit-elit Eropa yang masih dipenuhi ketakutan irasional terhadap ekspansi Rusia.
Dalam pandangan Lukyanov, perang di Ukraina bukan sekadar
Comments (0)