Program MBG Dongkrak Kebutuhan Susu, 75 Persen Masih Impor

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah membawa angin segar sekaligus tantangan besar bagi industri persusuan nasional. Permintaan susu di dalam negeri melonjak tajam seiring mel...

Aug 08, 2026 - 10:44
0 0
Program MBG Dongkrak Kebutuhan Susu, 75 Persen Masih Impor

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah membawa angin segar sekaligus tantangan besar bagi industri persusuan nasional. Permintaan susu di dalam negeri melonjak tajam seiring meluasnya cakupan program tersebut, namun produksi lokal belum mampu mengimbangi. Sekitar 75 persen kebutuhan susu nasional hingga kini masih harus dipenuhi melalui impor.

Kondisi ini menjadi perhatian serius berbagai pihak, mulai dari peternak sapi perah, koperasi susu, hingga pelaku industri pengolahan. Di satu sisi, MBG membuka pasar yang sangat besar dan berkelanjutan. Di sisi lain, keterbatasan pasokan susu segar dalam negeri membuat sebagian besar peluang ekonomi tersebut justru dinikmati oleh produsen luar negeri.

Kebutuhan Susu Melonjak Seiring Perluasan MBG

Susu menjadi salah satu komponen penting dalam menu MBG karena kandungan gizinya yang lengkap, mulai dari protein hewani, kalsium, hingga berbagai vitamin yang dibutuhkan anak-anak pada masa pertumbuhan. Dengan sasaran penerima manfaat mencapai puluhan juta anak sekolah, ibu hamil, dan balita, kebutuhan susu untuk program ini diproyeksikan mencapai jutaan liter setiap harinya.

Perhitungan sederhana menunjukkan, jika setiap penerima manfaat memperoleh satu kemasan susu dalam siklus menu tertentu, maka volume yang dibutuhkan sangat fantastis. Angka ini belum termasuk permintaan dari konsumsi rumah tangga dan industri pengolahan yang selama ini sudah berjalan. Alhasil, total kebutuhan susu nasional terus merangkak naik dari tahun ke tahun.

Pemerintah sendiri menargetkan cakupan MBG terus diperluas secara bertahap hingga menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Perluasan ini otomatis akan mengerek kebutuhan bahan baku susu segar maupun susu olahan dalam jumlah yang semakin besar.

Produksi Dalam Negeri Baru Penuhi Seperempat Kebutuhan

Ironisnya, kemampuan produksi susu segar dalam negeri masih sangat terbatas. Data industri menunjukkan pasokan susu lokal hanya mampu mencakup sekitar 25 persen dari total kebutuhan nasional. Sisanya, sekitar 75 persen, terpaksa didatangkan dari negara lain dalam berbagai bentuk, mulai dari susu bubuk hingga bahan baku olahan.

Negara-negara pemasok utama susu ke Indonesia antara lain Selandia Baru, Australia, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa. Ketergantungan pada impor ini tidak hanya berdampak pada neraca perdagangan, tetapi juga membuat industri dalam negeri rentan terhadap fluktuasi harga global dan gangguan rantai pasok internasional.

Rendahnya produksi domestik disebabkan sejumlah faktor. Populasi sapi perah di Indonesia masih terbatas dan tersebar di kantong-kantong produksi tertentu seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Selain itu, produktivitas sapi perah rakyat tergolong rendah, rata-rata hanya menghasilkan sekitar 10 hingga 15 liter susu per ekor per hari, jauh di bawah produktivitas sapi perah di negara maju yang bisa mencapai lebih dari 30 liter per hari.

Tantangan yang Dihadapi Peternak Rakyat

Peternak sapi perah rakyat menghadapi beragam persoalan klasik. Harga pakan konsentrat yang terus naik menjadi beban terberat karena komponen pakan menyumbang porsi terbesar biaya produksi. Kualitas bibit sapi perah yang belum merata juga membuat hasil perahan sulit ditingkatkan.

Selain persoalan teknis, akses peternak terhadap modal, teknologi pemerahan modern, dan fasilitas pendingin susu masih terbatas. Padahal, susu segar adalah komoditas yang sangat mudah rusak sehingga membutuhkan penanganan cepat dan rantai dingin yang memadai dari kandang hingga pabrik pengolahan.

Kemitraan antara peternak, koperasi, dan industri pengolahan susu juga belum berjalan optimal di semua daerah. Akibatnya, harga susu segar di tingkat peternak kerap tertekan, sementara biaya produksi terus membengkak. Kondisi ini menurunkan minat generasi muda untuk menggeluti usaha peternakan sapi perah.

Pemerintah Genjot Swasembada Susu

Menyadari besarnya kesenjangan antara kebutuhan dan produksi, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah program penambahan populasi sapi perah melalui mendatangkan sapi bibit dari luar negeri untuk dikembangkan di berbagai daerah. Program ini diharapkan mampu menaikkan produksi susu segar nasional secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Selain itu, pemerintah mendorong hilirisasi industri susu dengan memfasilitasi pembangunan pabrik pengolahan di sentra-sentra produksi. Dukungan terhadap koperasi susu juga diperkuat melalui penyediaan sarana pendingin, pelatihan manajemen mutu, serta perbaikan tata niaga agar peternak memperoleh harga yang lebih layak.

Kehadiran program MBG dipandang sebagai katalis yang sangat baik. Dengan adanya kepastian pasar dalam jumlah besar dan jangka panjang, peternak maupun investor memiliki insentif kuat untuk menambah populasi sapi dan membangun fasilitas produksi.

Peluang Besar di Depan Mata

Para pengamat menilai lonjakan permintaan susu akibat MBG seharusnya menjadi momentum kebangkitan industri persusuan nasional. Kebutuhan yang besar membuka ruang investasi luas, mulai dari pembibitan, penggemukan, pabrik pakan, hingga pengolahan dan distribusi produk susu.

Namun, tanpa langkah konkret memperkuat produksi dalam negeri, peluang tersebut berisiko menguap dan justru memperdalam ketergantungan pada impor. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, koperasi, dan peternak menjadi kunci agar tambahan permintaan dari MBG benar-benar dinikmati oleh industri susu Tanah Air, bukan sekadar menjadi berkah bagi produsen asing.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User