Perwira TNI AL Didakwa Selundupkan 12 Paket Sabu Berlabel 'Selamat Umrah'
Seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut terseret pusaran kasus narkotika yang mencoreng nama institusi. Mayor Laut Faisal Mulia kini duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa atas dugaan keterlibat...
Seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut terseret pusaran kasus narkotika yang mencoreng nama institusi. Mayor Laut Faisal Mulia kini duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa atas dugaan keterlibatannya dalam upaya penyelundupan belasan paket sabu menggunakan pesawat militer di wilayah Kepulauan Riau.
Dalam dakwaan yang dibacakan jaksa, terdakwa disebut berupaya membawa 12 paket berisi narkotika jenis sabu ke dalam pesawat militer. Yang membuat publik geleng-geleng, kemasan paket barang haram itu dibubuhi tulisan bernuansa religi bertuliskan 'Selamat Umrah', seolah-olah isinya adalah perlengkapan ibadah atau oleh-oleh perjalanan suci.
Terungkap dari Pemeriksaan Intensif
Keterlibatan sang perwira terendus setelah aparat melakukan pendalaman terhadap sebuah pengiriman narkotika yang mencurigakan. Proses interogasi terhadap pihak-pihak terkait membuka titik terang mengenai siapa saja yang berperan dalam rantai pengiriman tersebut. Dari situlah nama Faisal Mulia muncul dan ia kemudian diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil penyidikan memperkuat dugaan bahwa terdakwa memiliki peran dalam upaya memasukkan paket sabu ke dalam moda angkutan milik militer. Berkas perkaranya pun dilimpahkan ke meja hijau dan jaksa menyusun surat dakwaan yang kini menjadi dasar persidangan.
Modus Penyamaran Paket Sabu
Penyelundupan narkotika dengan memanfaatkan fasilitas negara bukanlah hal yang bisa dipandang sebelah mata. Dalam perkara ini, pelaku diduga memanfaatkan aksesnya sebagai anggota militer untuk meloloskan paket sabu ke dalam pesawat militer, moda transportasi yang selama ini diasosiasikan dengan pengamanan ketat dan jarang dicurigai.
Label 'Selamat Umrah' pada kemasan paket diduga menjadi bagian dari strategi pengelabuan. Dengan tampilan yang seolah berkaitan dengan perjalanan ibadah, paket diharapkan tidak menimbulkan kecurigaan petugas yang memeriksa barang bawaan. Namun upaya tersebut akhirnya kandas setelah aparat mencium gelagat tidak beres.
Para pengedar narkotika memang kerap menggunakan berbagai cara untuk mengelabui petugas, mulai dari menyembunyikan barang di dalam makanan, barang elektronik, hingga memanfaatkan simbol-simbol keagamaan. Tujuannya satu, yakni membuat paket terlihat biasa dan tidak memicu pemeriksaan mendalam. Dalam perkara ini, penyamaran itu justru menjadi bukti kuat adanya kesengajaan untuk meloloskan barang terlarang.
Proses Hukum di Peradilan Militer
Sebagai anggota TNI aktif, terdakwa menjalani proses hukum melalui jalur peradilan militer. Mekanisme ini memang diperuntukkan bagi prajurit yang diduga melakukan tindak pidana, baik pidana khusus maupun pidana umum, termasuk kejahatan narkotika yang diancam hukuman berat dalam undang-undang.
Dalam persidangan, jaksa membeberkan rangkaian peristiwa yang menjadi dasar dakwaan terhadap terdakwa. Ancaman hukuman dalam kasus narkotika tergolong berat, apalagi jumlah barang bukti mencapai belasan paket. Belum lagi status terdakwa sebagai penegak keamanan negara yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan peredaran gelap narkotika.
Persidangan perkara ini diperkirakan akan berjalan dalam sejumlah agenda, mulai dari pembacaan dakwaan, pemeriksaan saksi-saksi, hingga tuntutan dan putusan. Terdakwa juga memiliki hak untuk didampingi penasihat hukum serta mengajukan pembelaan. Prinsip praduga tak bersalah tetap berlaku hingga ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Narkoba Musuh Bersama
Kasus yang menjerat oknum prajurit ini menjadi tamparan bagi upaya pemberantasan narkotika di Tanah Air. Institusi TNI sendiri selama ini secara tegas menyatakan perang terhadap narkoba dan tidak segan menindak anggotanya yang terbukti terlibat, mulai dari sanksi pidana hingga pemecatan tidak hormat dari kedinasan.
Peredaran sabu sendiri telah lama menjadi momok bagi masyarakat Indonesia. Barang haram ini merusak generasi muda, memicu tindak kejahatan lain, dan menimbulkan kerugian sosial serta ekonomi yang tidak sedikit. Karena itu, keterlibatan aparat dalam jaringan peredaran dipandang sebagai pengkhianatan serius terhadap amanat pemberantasan narkotika yang digaungkan pemerintah.
Wilayah Kepulauan Riau memang kerap menjadi sorotan dalam peta peredaran narkotika nasional. Posisinya yang berbatasan langsung dengan jalur pelayaran internasional menjadikan provinsi kepulauan ini rawan disusupi jaringan penyelundup dari luar negeri. Berbagai upaya pengiriman barang haram melalui jalur laut maupun udara berulang kali digagalkan aparat di kawasan tersebut.
Kini, nasib Mayor Laut Faisal Mulia berada di tangan majelis hakim. Persidangan akan menguji seluruh bukti dan keterangan saksi sebelum vonis dijatuhkan. Perkara ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang kebal hukum, termasuk mereka yang berseragam dan menyalahgunakan wewenangnya untuk kejahatan.
Comments (0)