PATI — Volume Air Waduk Gembong Menyusut Drastis Akibat Musim Kemarau
Musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah mulai memberikan dampak serius terhadap ketersediaan pasokan air baku di Kabupaten Pati.
Musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah mulai memberikan dampak serius terhadap ketersediaan pasokan air baku di Kabupaten Pati. Waduk Gembong, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama sistem irigasi pertanian dan pasokan air masyarakat lokal, mengalami penyusutan volume air secara drastis dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada Senin, kondisi fisik waduk menunjukkan penurunan elevasi air yang memprihatinkan. Area tepi waduk yang biasanya terendam air kini berubah menjadi hamparan tanah mengering dan merekah. Fenomena ini terlihat jelas dari sejumlah rakit bambu dan perahu penangkap ikan milik warga setempat yang terdampar di dasar waduk akibat surutnya garis pantai air secara signifikan.
Kronologi Penurunan Debit Air Waduk Gembong
Proses penurunan volume air di reservoir yang juga dikenal sebagai Waduk Seloromo ini berlangsung secara bertahap seiring minimnya curah hujan di kawasan tangkapan air lereng Gunung Muria. Berikut adalah tahapan penurunan debit air waduk selama periode kemarau tahun ini:
- Fase Awal Kemarau (Mei - Juni): Intensitas hujan di wilayah tangkapan air hulu mulai menurun drastis. Pasokan air masuk (inflow) ke waduk berkurang hingga 40 persen, namun pelepasan air untuk irigasi awal musim tanam masih beroperasi normal.
- Fase Penyusutan Menengah (Juli - Agustus): Elevasi air waduk mengalami penurunan secara konstan sekitar 5 hingga 10 sentimeter per hari. Pihak pengelola mulai memberlakukan pembatasan alokasi air irigasi untuk menghemat cadangan air baku.
- Fase Kritis (September - Oktober): Volume air waduk menyusut hingga titik terendah. Genangan air menyisa hanya di bagian tengah bentangan waduk, menyebabkan rakit dan perahu nelayan terdampar di daratan dasar waduk yang mengering.
Ancaman Krisis Air Pertanian dan Pengurangan Suplai Irigasi
Penyusutan air Waduk Gembong yang sangat masif ini mengancam keberlangsungan sektor pertanian di daerah penyangga. Waduk bersejarah ini memiliki peran vital dalam mengairi ribuan hektare lahan persawahan yang tersebar di beberapa sub-distrik di sekitarnya.
Berdasarkan data teknis pengelolaan air, kapasitas tampung normal Waduk Gembong mencapai sekitar 9,5 juta meter kubik. Namun, akibat kemarau yang berkepanjangan, volume air saat ini diperkirakan telah menyusut lebih dari 60 persen hingga 70 persen dari kapasitas optimalnya. Hal ini memaksa para petani dan petugas pengairan mengambil tindakan penyesuaian yang ketat.
"Kondisi debit air saat ini sudah menyentuh level yang sangat terbatas. Jika pasokan air terus dipaksakan mengalir ke seluruh saluran irigasi secara penuh, cadangan air mati (dead storage) akan tersentuh dan ini sangat berbahaya bagi struktur waduk serta pasokan jangka panjang," ujar salah seorang petugas pengelola pintu air di kawasan Gembong.
Dampak langsung dari penyusutan ini dirasakan oleh para petani di Kecamatan Gembong, Margorejo, hingga sebagian wilayah Pati Kota. Sebagian petani terpaksa membiarkan lahan mereka bero (tidak ditanami) atau beralih ke tanaman pengganti yang membutuhkan lebih sedikit air guna menghindari risiko gagal panen total.
Langkah Mitigasi dan Imbauan Pemerintah Daerah
Menanggapi krisis air yang terus berlanjut, pemerintah daerah bersama instansi terkait telah menyiapkan serangkaian opsi darurat demi menjaga ketahanan air di wilayah Kabupaten Pati. Langkah-langkah tersebut mencakup penataan manajemen distribusi air hingga penyediaan infrastruktur pendukung.
- Penerapan Sistem Gilir Air Irigasi: Pembagian jadwal alokasi air secara bergilir antarwilayah pertanian guna memastikan seluruh sektor mendapatkan akses air secara adil meski dalam jumlah terbatas.
- Pengoptimalan Sumur Dalam dan Pompa Air: Mendorong penggunaan sarana pompa air darurat untuk memanfaatkan sisa-sisa cekungan air di dasar waduk serta sumber air tanah terdekat.
- Sosialisasi Pola Tanam Hemat Air: Memberikan edukasi kepada komoditas petani agar beralih dari tanaman padi ke jenis palawija atau jagung selama masa kemarau belum berakhir.
Pemerintah daerah mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih dan tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan secara destruktif di area waduk yang sedang mengering. Fenomena penurunan volume air Waduk Gembong menjadi pengingat pentingnya mitigasi perubahan iklim dan perlindungan kawasan resapan air di hulu pegunungan demi menjaga kesinambungan sumber daya air di masa mendatang.




Comments (0)