BANDUNG — Akademisi Bedah Dua Buku Karya Politikus Gerindra Daddy Rohanady
Suasana riuh nan sarat nuansa intelektual menyelimuti Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat di Jalan Kawaluyaan, Kota Bandun
Suasana riuh nan sarat nuansa intelektual menyelimuti Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat di Jalan Kawaluyaan, Kota Bandung. Di tengah barisan rak buku dan antusiasme ratusan pegiat literasi yang menghadiri Festival Literasi Jawa Barat, sebuah diskusi mendalam berlangsung hangat. Panggung utama festival tersebut menjadi saksi perjumpaan antara dunia politik praktis dan pemikiran akademis saat dua buku karya politikus senior Partai Gerindra Jawa Barat, Daddy Rohanady, secara resmi dibedah oleh jajaran akademisi terkemuka.
Langkah Daddy mempublikasikan karyanya dianggap sebagai fenomena yang relatif langka di ranah politik lokal. Ketika mayoritas pejabat publik lebih sering menuangkan gagasannya lewat pidato panggung politik atau unggahan singkat di media sosial, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat ini justru memilih jalur literasi yang mengendap: meramu pengalaman, catatan kebijakan, serta dinamika pembangunan Jawa Barat ke dalam bentuk buku cetak yang komprehensif.
Rekam Jejak Pembangunan dalam Untaian Kata
Dua buku yang dibedah dalam perhelatan tersebut memotret secara mendalam pelbagai dimensi pembangunan di Jawa Barat dari sudut pandang seorang legislator. Sebagai figur yang telah menduduki kursi DPRD Jawa Barat selama beberapa periode dan aktif di komisi yang membidangi infrastruktur serta anggaran, Daddy Rohanady menguraikan tantangan nyata yang dihadapi provinsi bertetangga dengan ibu kota ini.
Buku pertama berfokus pada dinamika perumusan kebijakan publik dan pengawasan anggaran daerah, sementara buku kedua lebih banyak menyoroti realitas sosial serta aspirasi masyarakat arus bawah yang berhasil dihimpun selama masa reses. Kehadiran dua karya ini memberikan warna tersendiri dalam ruang diskursus publik di Tatar Pasundan.
Para akademisi yang hadir sebagai pembedah menilai bahwa karya ini berhasil menjembatani jurang komunikasi antara pembuat kebijakan dan masyarakat luas. Buku tersebut tidak hanya berisi retorika politik, melainkan menyajikan data faktual, rekam jejak pengawasan APBD, hingga analisis kritis atas proyek-proyek strategis daerah.
Perspektif Akademisi dan Bedah Kritis Ketenagakerjaan Pembangunan
Dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, para panelis dari kalangan perguruan tinggi memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi Daddy dalam menulis. Menurut mereka, mendokumentasikan kerja-kerja parlementer ke dalam bentuk buku merupakan bentuk pertanggungjawaban publik yang sangat tinggi nilainya.
"Menulis buku bagi seorang politisi aktif adalah bentuk akuntabilitas moral dan intelektual. Apa yang dilakukan Saudara Daddy Rohanady membuktikan bahwa politik tidak selalu berjarak dengan dunia pemikiran. Buku ini menjadi dokumen sejarah yang sangat berharga untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan pembangunan di Jawa Barat," ungkap salah seorang akademisi pembedah di lokasi acara.
Diskusi tersebut juga menyoroti bagaimana gagasan-gagasan yang tertuang dalam buku mampu memicu perdebatan konstruktif. Keberanian untuk membuka dapur penyusunan kebijakan publik kepada khalayak ramai dianggap sebagai tradisi baru yang patut dicontoh oleh para pejabat publik lainnya.
Analisis Perbandingan: Pendekatan Komunikasi Politik Legislatif
Berikut adalah matriks perbandingan antara pendekatan komunikasi politik konvensional dengan pendekatan berbasis literasi sebagaimana yang diterapkan dalam karya Daddy Rohanady:
| Indikator | Komunikasi Politik Konvensional | Pendekatan Berbasis Literasi (Buku) |
|---|---|---|
| Media Utama | Orasi, baliho, dan siaran pers singkat | Buku dokumentatif komprehensif |
| Kedalaman Informasi | Permukaan, cenderung normatif dan populis | Mendalam, berbasis data APBD dan argumen teknis |
| Daya Tahan Informasi | Sangat singkat (kebutuhan momen) | Jangka panjang (dapat diakses akademisi & peneliti) |
| Tingkat Akuntabilitas | Sulit diverifikasi secara sistematis | Tinggi, dapat diuji dan dibedah publik secara kritis |
Mendorong Budaya Literasi di Kalangan Pejabat Publik
Penyelenggaraan bedah buku di Kantor Dispusipda Jabar ini tidak sekadar menjadi ajang promosi karya pribadi, melainkan bagian dari gerakan besar untuk memperkuat ekosistem literasi di Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui berbagai kegiatan festival terus mendorong agar ruang perpustakaan menjadi pusat pergolakan ide dan pemikiran kritis.
Daddy Rohanady dalam kesempatannya menyampaikan bahwa proses penulisan kedua buku ini memakan waktu yang tidak sebentar di tengah padatnya agenda kedewanan. Namun, niat untuk melegasi catatan kritis demi kemajuan daerah menjadi pemantik utama yang menyemangatinya untuk terus menggoreskan pena.
Dengan terlaksananya pembedahan dua buku ini, diharapkan lahir kesadaran baru di lingkaran elite politik bahwa gagasan yang tertulis akan abadi dan terus memberi manfaat bagi generasi mendatang, jauh melampaui masa jabatan politik yang diemban.




Comments (0)