Orang Tua di Pontianak Desak Sekolah Diliburkan Imbas Asap Karhutla

Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Pontianak dalam beberapa hari terakhir memicu kekhawatiran serius di kalangan orang tua murid. Mereka mulai menyuarak...

Aug 21, 2026 - 23:14
0 1
Orang Tua di Pontianak Desak Sekolah Diliburkan Imbas Asap Karhutla

Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Pontianak dalam beberapa hari terakhir memicu kekhawatiran serius di kalangan orang tua murid. Mereka mulai menyuarakan permintaan agar Dinas Pendidikan mengambil langkah cepat dengan meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah, menyusul memburuknya kualitas udara yang dinilai telah memasuki kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Kualitas Udara yang Semakin Mengkhawatirkan

Pantauan di lapangan menunjukkan lapisan asap pekat menggantung di langit Pontianak hampir sepanjang hari. Jarak pandang berkurang drastis, sementara bau menyengat khas asap kebakaran tercium jelas bahkan di dalam ruangan. Kondisi ini membuat aktivitas warga, termasuk anak-anak yang harus berangkat ke sekolah, menjadi terganggu dan berisiko.

Berdasarkan data kualitas udara yang beredar, konsentrasi partikel halus di udara Pontianak tercatat berada pada level yang membahayakan bagi kelompok rentan. Anak-anak termasuk golongan yang paling mudah terdampak karena sistem pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan. Paparan asap dalam durasi panjang dapat memicu gangguan pernapasan akut, iritasi mata, hingga memperparah penyakit seperti asma dan infeksi saluran pernapasan atas.

Kekhawatiran Orang Tua Murid

Sejumlah orang tua yang ditemui mengungkapkan kekhawatiran mereka setiap kali melepas anak berangkat ke sekolah. Mereka menilai kegiatan belajar mengajar yang tetap berjalan di tengah kondisi udara yang buruk tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang harus ditanggung anak-anak.

Beberapa orang tua bahkan memilih mengambil langkah mandiri dengan tidak mengirim anaknya ke sekolah selama beberapa hari terakhir. Namun, mereka berharap keputusan tersebut tidak bersifat individual, melainkan diatur secara resmi melalui kebijakan dari Dinas Pendidikan agar seluruh sekolah menerapkan ketentuan yang sama.

Para orang tua juga menyoroti minimnya fasilitas pelindung di lingkungan sekolah. Tidak semua ruang kelas dilengkapi alat pembersih udara, dan sebagian besar kegiatan seperti olahraga serta upacara tetap dilakukan di lapangan terbuka yang langsung terpapar asap. Hal ini membuat anak-anak semakin rentan menghirup udara yang telah tercemar.

Harapan agar Kebijakan Segera Ditetapkan

Permintaan untuk meliburkan sekolah disampaikan dengan harapan agar Dinas Pendidikan merespons cepat kondisi darurat yang sedang berlangsung. Orang tua menginginkan adanya kejelasan prosedur, termasuk kriteria kualitas udara yang menjadi dasar pengambilan keputusan, sehingga kebijakan serupa dapat diterapkan secara konsisten apabila situasi memburuk kembali di masa mendatang.

Mereka juga berharap kebijakan peliburan tidak sekadar menjadi respons sesaat, melainkan diiringi dengan strategi pembelajaran pengganti yang tetap berjalan efektif. Opsi belajar dari rumah dinilai dapat menjadi solusi sementara yang menjaga keberlangsungan pendidikan tanpa mengorbankan kesehatan siswa.

Dampak Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Paparan asap kebakaran hutan mengandung berbagai zat berbahaya, termasuk karbon monoksida, partikel halus, dan senyawa kimia hasil pembakaran. Pada kadar tinggi, campuran zat tersebut dapat menyebabkan sesak napas, batuk berkepanjangan, sakit kepala, hingga penurunan fungsi paru-paru.

Bagi anak-anak, dampak yang muncul bisa lebih serius karena mereka menghirup udara dalam volume yang lebih besar dibandingkan berat badan mereka. Aktivitas fisik di luar ruangan semakin memperbesar jumlah polutan yang masuk ke dalam tubuh. Oleh karena itu, membatasi aktivitas di luar ruangan menjadi langkah perlindungan paling sederhana yang bisa dilakukan selama kualitas udara masih buruk.

Peran Bersama dalam Mengatasi Karhutla

Di tengah dorongan agar sekolah diliburkan, sejumlah pihak mengingatkan bahwa penyelesaian masalah ini tidak cukup hanya dengan kebijakan jangka pendek. Pencegahan kebakaran hutan dan lahan harus menjadi prioritas bersama, mulai dari edukasi masyarakat, pengawasan ketat terhadap aktivitas pembakaran lahan, hingga penegakan hukum bagi pelaku pembakaran.

Musim kemarau yang berkepanjangan dan praktik pembakaran lahan untuk membuka area pertanian menjadi kombinasi yang kerap memicu meluasnya titik api. Tanpa langkah pencegahan yang serius, siklus kabut asap diprediksi akan terus berulang setiap tahun dan kembali mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.

Menunggu Keputusan Resmi

Hingga berita ini ditulis, keputusan resmi terkait peliburan sekolah masih dinantikan oleh para orang tua. Mereka berharap kebijakan yang diambil didasarkan pada data kualitas udara terkini dan mempertimbangkan keselamatan siswa sebagai prioritas utama.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa kualitas udara yang baik adalah hak dasar setiap warga, termasuk anak-anak yang setiap pagi harus menempuh perjalanan menuju sekolah. Keputusan yang cepat, jelas, dan berbasis data menjadi harapan besar di tengah kepungan asap yang kian pekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User