Mobil Terbang X2 Curi Perhatian di GIIAS, Buatan Pabrikan China

Pengunjung pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) dibuat terkesima oleh kehadiran sebuah kendaraan yang tampak seperti keluar dari film fiksi ilmiah. Di tengah deretan mob...

Aug 08, 2026 - 10:26
0 0
Mobil Terbang X2 Curi Perhatian di GIIAS, Buatan Pabrikan China

Pengunjung pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) dibuat terkesima oleh kehadiran sebuah kendaraan yang tampak seperti keluar dari film fiksi ilmiah. Di tengah deretan mobil konvensional dan kendaraan listrik, sebuah unit bernama X2 menjadi magnet perhatian karena kemampuannya mengudara. Kendaraan ini merupakan mobil terbang yang dipamerkan langsung di hadapan publik Tanah Air.

Kehadiran X2 di arena pameran seketika memicu rasa penasaran. Banyak pengunjung mengerumuni area display untuk melihat dari dekat wujud kendaraan masa depan tersebut, mengambil gambar, serta mengajukan berbagai pertanyaan kepada petugas yang berjaga. Antusiasme tinggi ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan besar terhadap inovasi transportasi udara.

Sosok di Balik Mobil Terbang X2

Kendaraan pengangkut udara ini ternyata merupakan hasil pengembangan XPeng AeroHT, sebuah perusahaan teknologi asal China yang berada di bawah naungan grup otomotif XPeng. Perusahaan tersebut memang berfokus menggarap segmen mobilitas udara perkotaan atau yang kerap disebut urban air mobility. X2 menjadi salah satu produk andalan mereka yang sudah diuji terbang di berbagai negara.

XPeng AeroHT bukan pemain baru dalam pengembangan kendaraan terbang listrik. Perusahaan ini telah menghabiskan bertahun-tahun untuk riset dan pengembangan demi menghadirkan kendaraan yang mampu lepas landas serta mendarat secara vertikal. Teknologi yang digunakan dikenal dengan istilah eVTOL atau electric vertical take-off and landing, yang memungkinkan kendaraan mengudara tanpa memerlukan landasan pacu panjang.

Spesifikasi dan Kemampuan Mengudara

Secara tampilan, X2 memiliki desain kabin menyerupai kapsul dengan kapasitas dua penumpang. Struktur bodinya menggunakan material serat karbon sehingga bobotnya tetap ringan namun kokoh. Kendaraan ini ditopang delapan baling-baling yang tersebar di empat lengan, dan seluruhnya digerakkan oleh motor listrik bertenaga baterai.

Untuk performa, X2 diklaim mampu terbang dengan kecepatan maksimal sekitar 130 kilometer per jam. Durasi terbangnya berkisar 35 menit dalam sekali pengisian daya, tergantung beban dan kondisi cuaca. Ketinggian jelajahnya dapat mencapai sekitar 1.000 meter, meski pengoperasian idealnya berada di kisaran 300 hingga 500 meter di atas permukaan tanah.

Menariknya, X2 menawarkan dua mode kendali. Pengguna dapat menerbangkannya secara manual layaknya seorang pilot, atau memanfaatkan mode otonom yang memungkinkan kendaraan terbang sendiri mengikuti rute yang sudah diprogram. Berbagai sensor dan sistem keselamatan disematkan untuk memastikan perjalanan udara berlangsung aman, termasuk fitur parasut darurat.

Regulasi Indonesia Belum Siap

Meski kehadirannya disambut meriah, X2 belum bisa langsung mengaspal apalagi mengudara bebas di Indonesia. Pasalnya, kerangka regulasi untuk kendaraan terbang di Tanah Air masih belum tersedia. Pemerintah melalui kementerian terkait belum memiliki aturan spesifik mengenai sertifikasi, lisensi pengemudi, hingga pengaturan jalur udara untuk kendaraan semacam ini.

Kondisi tersebut membuat kehadiran X2 di GIIAS lebih bersifat pengenalan teknologi kepada publik. Pihak penyelenggara dan produsen ingin mengukur seberapa besar minat masyarakat Indonesia terhadap moda transportasi udara masa depan, sekaligus membuka diskusi mengenai kesiapan infrastruktur dan aturan yang dibutuhkan.

Sejumlah negara lain seperti China dan Uni Emirat Arab sudah lebih dulu menyusun regulasi serta menggelar uji coba komersial kendaraan eVTOL. Indonesia dinilai masih memerlukan waktu untuk mengejar ketertinggalan tersebut, mulai dari aspek hukum, keselamatan penerbangan, hingga kesiapan ruang udara di kawasan perkotaan yang padat.

Prospek Mobilitas Udara di Tanah Air

Kendati demikian, potensi pasar kendaraan terbang di Indonesia dianggap cukup menjanjikan. Kondisi geografis berupa negara kepulauan serta kemacetan parah di kota-kota besar menjadi alasan mengapa mobilitas udara bisa menjadi solusi transportasi di masa mendatang. Jakarta yang kerap dilanda macet, misalnya, bisa menjadi kandidat lokasi penerapan taksi terbang.

Para pengamat menilai, kehadiran X2 di pameran otomotif terbesar di Indonesia ini bisa menjadi titik awal bagi pemerintah dan pelaku industri untuk mulai serius membahas ekosistem kendaraan udara. Tanpa persiapan regulasi dan infrastruktur sejak dini, Indonesia berisiko tertinggal dari negara tetangga yang sudah bergerak lebih cepat.

Untuk saat ini, masyarakat yang penasaran hanya bisa menyaksikan X2 dari dekat di area pameran. Belum ada informasi mengenai kapan kendaraan ini akan benar-benar dipasarkan atau dioperasikan di Indonesia. Yang pasti, kehadirannya berhasil mencuri sorotan dan membuka imajinasi publik tentang masa depan transportasi Tanah Air.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User