MANILA — Jurnalis Olahraga Veteran Recah Trinidad Meninggal Dunia Usia 83 Tahun
MANILA — Dunia jurnalistik olahraga Filipina kembali berduka. Wartawan olahraga veteran yang sangat dihormati, Ricardo “Recah” Trinidad, dikabarkan meningg
MANILA — Dunia jurnalistik olahraga Filipina kembali berduka. Wartawan olahraga veteran yang sangat dihormati, Ricardo “Recah” Trinidad, dikabarkan meninggal dunia dalam usia 83 tahun pada Minggu, 13 September. Sosok legendaris yang menjadi saksi bisu berbagai peristiwa olahraga bersejarah dunia tersebut mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang di tengah tidur.
Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh menantunya, Nice Trinidad, melalui sebuah unggahan resmi di media sosial. Berdasarkan keterangan pihak keluarga, Recah berpulang sekitar pukul 06.00 pagi waktu setempat setelah beberapa bulan berjuang keras melawan komplikasi kesehatan pascaserangan jantung yang dialaminya pada Juni lalu.
“Setelah mengalami serangan jantung pada bulan Juni, Ayah berjuang dengan sangat berani selama beberapa bulan terakhir hingga akhirnya menemukan kedamaian. Beliau berpulang dengan tenang dalam tidurnya, bebas dari rasa sakit dan penderitaan,” tulis Nice dalam pernyataan emosionalnya.
Jejak Emas dan Ring VIP Sejarah Olahraga
Recah Trinidad bukan sekadar jurnalis biasa; ia adalah maestro narasi olahraga yang telah mengabadikan berbagai momen paling fenomenal dalam sejarah dunia. Selama dekade emas kariernya, tulisan-tulisan tajam, lugas, dan puitisnya menghiasi koran-koran nasional ternama di Filipina, termasuk Daily Express, Tempo, dan Malaya.
Salah satu pencapaian puncaknya sebagai wartawan lapangan adalah ketika ia mendokumentasikan pertarungan tinju paling ikonik abad ke-20, “Thrilla in Manila”, pada tahun 1975. Kala itu, Recah berada di barisan terdepan untuk melaporkan duel sengit antara dua raksasa kelas berat dunia, Muhammad Ali dan Joe Frazier. Laporannya yang mendalam dan kaya akan nuansa emosional mampu membawa pembaca merasakan atmosfer panas di dalam arena. Tak hanya itu, ia juga meliput berbagai ajang multievent bergengsi seperti Olimpiade dan Asian Games, menjadikannya salah satu sosok yang paling disegani oleh atlet maupun sesama jurnalis.
Pujangga di Balik Pena Olahraga
Keistimewaan Recah Trinidad terletak pada kemampuannya memadukan ketajaman analisis teknis olahraga dengan keindahan sastra. Tulisan-tulisannya tidak hanya menyajikan angka dan skor akhir, tetapi juga menggali sisi kemanusiaan, perjuangan, serta drama emosional di balik kompetisi.
Bakat kearsitekturan kata yang dimilikinya terbukti lewat pengakuan di bidang literatur. Pada tahun 1978, Recah berhasil meraih penghargaan bergengsi Palanca Awards (Don Carlos Palanca Memorial Awards for Literature) kategori puisi, di mana karyanya yang berjudul “Rule Acrobat from Planet F” menyabet juara kedua. Prestasi ini mengukuhkan posisinya sebagai wartawan serbabisa yang mampu menyeberangi batas antara jurnalisme lapangan dan karya sastra bernilai tinggi.
Warisan Keluarga dan Duka yang Berulang
Kecintaan mendalam Recah terhadap dunia olahraga menular kuat kepada putranya, Manolo Trinidad, yang lebih dikenal publik dengan nama Chino Trinidad. Mengikuti jejak sang ayah, Chino tumbuh menjadi jurnalis olahraga kenamaan, bahkan pernah menjabat sebagai komisioner Philippine Basketball League (PBL) serta menjadi salah satu pendiri federasi bola basket Filipina, Samahang Basketbol ng Pilipinas (SBP).
Namun, takdir membawa duka mendalam bagi keluarga Trinidad. Dua tahun sebelum kepergian Recah, Chino telah lebih dahulu tutup usia. Kehilangan putra tercintanya menjadi cobaan berat bagi Recah di masa-masa akhir hidupnya. Meski demikian, warisan intelektual dan dedikasi pasangan ayah-anak ini tetap tercatat emas dalam sejarah olahraga Filipina.
| Aspek Catatan | Detail Informasi |
|---|---|
| Nama Lengkap | Ricardo "Recah" Trinidad |
| Usia Berpulang | 83 Tahun |
| Peristiwa Kunci Diliput | Thrilla in Manila (1975), Olimpiade, Asian Games |
| Penghargaan Sastra | Juara 2 Palanca Awards 1978 (Kategori Puisi) |
| Media Utama | Daily Express, Tempo, Malaya |
Kepergian Recah Trinidad menandai berakhirnya sebuah era emas jurnalisme cetak di Asia Tenggara. Dedikasi tanpa kompromi terhadap kebenaran berita, dipadu dengan gaya penulisan yang elegan, menjadikan sosoknya sebagai standar tertinggi bagi jurnalis olahraga generasi penerus. Dunia olahraga Filipina kini tidak hanya kehilangan seorang pelapor berita, tetapi juga seorang penjaga sejarah.




Comments (0)