PARIS — Titiou Lecoq Soroti Ketimpangan Ekonomi Gender Dalam Hubungan
PARIS — Masalah kesetaraan gender sering kali berfokus pada hak-hak politik dan sosial, namun mengabaikan dinamika keuangan di dalam ranah domestik. Jurnal
PARIS — Masalah kesetaraan gender sering kali berfokus pada hak-hak politik dan sosial, namun mengabaikan dinamika keuangan di dalam ranah domestik. Jurnalis dan penulis ternama asal Prancis, Titiou Lecoq, menegaskan bahwa gerakan feminisme di negaranya telah terlalu lama menutup mata terhadap persoalan ekonomi mikro yang dihadapi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sebuah wawancara mendalam bersama harian Le Monde, penulis buku tersohor Le Couple et l’argent (Pasangan dan Uang) tersebut menguraikan bagaimana perbedaan pola pendidikan finansial sejak dini menciptakan jurang kesejahteraan yang lebar antara pria dan wanita ketika mereka membangun rumah tangga.
Tabu Keuangan dan Ketimpangan Domestik
Menurut Lecoq, pengelolaan uang dalam hubungan asmara sering dianggap tabu atau tidak romantis jika dibahas secara rinci. Padahal, ketertutupan ini justru memicu kerentanan ekonomi yang serius bagi pihak perempuan. Banyak pasangan yang membagi pengeluaran secara rata tanpa memperhitungkan kesenjangan pendapatan dasar, sehingga pihak dengan gaji lebih rendah—yang mayoritas adalah perempuan—kehilangan kemampuan untuk menabung dan berinvestasi.
Selain perbedaan pendapatan langsung, perempuan juga secara konsisten menanggung beban kerja domestik tak berbayar yang tidak pernah masuk dalam kalkulasi pembentukan aset keluarga. Hal ini berdampak buruk secara jangka panjang pada nilai akumulasi dana pensiun dan kemandirian finansial mereka di kemudian hari.
| Aspek Ekonomi | Dinamika Pria | Dinamika Perempuan |
|---|---|---|
| Pola Pengeluaran Rumah Tangga | Cenderung dialokasikan untuk investasi dan aset permanen (rumah, kendaraan). | Cenderung dialokasikan untuk konsumsi harian (makanan, kebutuhan anak). |
| Investasi & Tabungan Mandiri | Memiliki porsi dana sisa yang lebih tinggi untuk investasi jangka panjang. | Kapasitas menabung tergerus oleh pengeluaran operasional harian keluarga. |
| Dampak Kerja Domestik | Fokus penuh pada pengembangan karier dan peningkatkan pendapatan. | Sering mengambil kerja paruh waktu demi mengurus rumah tangga. |
Blind Spot Sejarah Feminisme Prancis
Secara historis, Lecoq menilai terdapat kejanggalan dalam wacana kesetaraan di Prancis. Gerakan pemikiran kritis di negara tersebut dinilai terlalu berorientasi pada konsep-konsep abstrak dan mengesampingkan realitas finansial nyata yang dihadapi perempuan setiap harinya.
"Untuk waktu yang sangat lama, feminisme Prancis memiliki masalah besar dengan ekonomi. Kita terbiasa membicarakan hak-hak tubuh dan politik, tetapi lupa bahwa tanpa kemandirian finansial yang nyata, kebebasan seorang perempuan hanyalah ilusi," ujar Titiou Lecoq.
Lecoq menekankan bahwa ketimpangan ini diawali dari pendidikan finansial keluarga sejak kecil. Anak laki-laki lebih sering diajarkan tentang manajemen risiko dan pengelolaan investasi, sementara anak perempuan dididik untuk sekadar bersikap hemat dan berhati-hati. Perbedaan stereotip gender ini terus terbawa hingga usia dewasa dan memengaruhi keputusan finansial strategis dalam keluarga.
Desakan Reformasi Konkret dan Forum Publik
Melihat munculnya kesadaran publik yang kian meningkat belakangan ini, Lecoq mendesak perlunya reformasi konkret, baik dari sisi regulasi hukum maupun edukasi budaya. Ia mendorong adanya transparansi akuntansi dalam rumah tangga, perlindungan hukum yang lebih kuat bagi perempuan berpenghasilan rendah dalam pembagian harta bersama, serta penegakan kesetaraan upah di dunia kerja yang lebih ketat.
Guna memperdalam wacana kritis ini, Titiou Lecoq dijadwalkan hadir dan berpartisipasi dalam diskusi panel khusus pada 20 September mendatang dalam rangkaian acara bertajuk Festival du Monde di Paris. Diskusi tersebut diharapkan dapat membuka mata masyarakat luas mengenai pentingnya merevolusi cara pasangan mengelola keuangan demi mewujudkan kesetaraan gender yang hakiki.
Pengakuan atas kontribusi ekonomi perempuan dalam ranah domestik bukan sekadar isu keadilan sosial, melainkan syarat mutlak pertumbuhan ekonomi yang inklusif di era modern saat ini.




Comments (0)