Longsor Morowali Utara: Dua Desa Terisolir, 2.104 Warga Terputus Akses

Bencana tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, pekan lalu masih menyisakan dampak serius. Hingga saat ini, sebanyak 2.104 jiwa yang bermukim d...

Jul 28, 2026 - 04:01
0 0
Longsor Morowali Utara: Dua Desa Terisolir, 2.104 Warga Terputus Akses

Bencana tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, pekan lalu masih menyisakan dampak serius. Hingga saat ini, sebanyak 2.104 jiwa yang bermukim di dua desa di wilayah tersebut masih hidup dalam keterisolasian akibat putusnya jalur transportasi utama.

Akses darat menuju kedua desa benar-benar terputus total. Material longsor berupa tanah, batu, serta pohon tumbang telah menutup ruas jalan penghubung yang vital bagi mobilitas warga. Kondisi geografis yang berbukit dan curam membuat proses penanganan darurat berjalan lambat. Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Morowali Utara bersama TNI, Polri, serta relawan terus berupaya membuka jalur, namun terkendala cuaca buruk dan potensi longsor susulan.

Kondisi Terkini di Dua Desa Terisolir

Berdasarkan laporan yang diterima, kedua desa yang terdampak berada di daerah pedalaman dengan akses terbatas bahkan sebelum bencana. Longsor yang dipicu hujan deras dengan intensitas tinggi pada pekan lalu menyebabkan akses satu-satunya menuju pemukiman warga tertimbun material longsoran. Akibatnya, warga tidak dapat keluar maupun menerima pasokan kebutuhan pokok dari luar. Sinyal telekomunikasi juga dilaporkan mengalami gangguan, sehingga koordinasi dengan warga di lokasi menjadi sangat minim.

Seorang petugas BPBD yang berada di posko darurat menyebutkan bahwa hingga kini belum ada laporan korban jiwa, namun kekhawatiran muncul terkait ketersediaan bahan makanan, air bersih, dan obat-obatan. “Kami menduga stok pangan warga masih bisa bertahan untuk beberapa hari ke depan, tetapi jika akses tidak segera dibuka, situasi bisa memburuk,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa upaya pengiriman bantuan melalui jalur udara terkendala kabut tebal dan hembusan angin kencang yang membahayakan penerbangan helikopter.

Hujan Deras dan Ancaman Longsor Susulan

Wilayah Morowali Utara memang dikenal sebagai salah satu kawasan rawan longsor, terutama saat memasuki musim penghujan. Data dari BMKG menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah ini masih akan fluktuatif dalam sepekan ke depan, sehingga potensi tanah kembali bergerak tetap tinggi. Pemerintah daerah telah mengimbau warga di dua desa tersebut untuk sementara waktu menjauhi titik-titik rawan dan tetap waspada.

Kondisi terisolasi ini juga memicu kekhawatiran jika terjadi keadaan darurat medis. Tanpa akses jalan, warga yang sakit atau membutuhkan perawatan mendesak tidak dapat dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat. Puskesmas pembantu di salah satu desa dikabarkan masih bisa melayani pasien, tetapi persediaan obat dan tenaga medis sangat terbatas.

Operasi Bantuan: Dari Jalur Laut hingga Udara

Untuk menembus isolasi, tim penanggulangan bencana mencoba alternatif jalur laut melalui pesisir yang berada sekitar 12 kilometer dari lokasi desa. Namun, gelombang tinggi dan kondisi perahu tradisional warga yang kurang memadai menjadi hambatan tersendiri. Beberapa anggota tim sempat mencoba menempuh jalur setapak yang melintasi hutan lebat, namun perjalanan memakan waktu hingga 8 jam dan berisiko tinggi.

Seorang perwira TNI yang ikut dalam operasi kemanusiaan ini mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan pasukan khusus untuk membuka jalur darurat secara manual. “Kami akan mengerahkan alat berat jenis ekskavator setelah medan memungkinkan. Saat ini sedang dilakukan assessment dari udara menggunakan drone untuk memetakan titik longsor paling parah,” jelasnya. Ia mengakui bahwa cuaca buruk menjadi musuh utama dalam setiap upaya penanganan.

Di samping itu, pemerintah kabupaten berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk mendatangkan bantuan logistik melalui droping udara. Namun, rencana ini membutuhkan ketersediaan helikopter yang memenuhi spesifikasi dan kondisi cuaca yang bersahabat. Sementara itu, para relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan juga sudah mulai bergabung di posko utama, membawa bantuan berupa tenda, selimut, dan makanan siap saji untuk didistribusikan begitu akses terbuka.

Tanggapan Pemerintah Daerah

Bupati Morowali Utara, yang dihubungi melalui sambungan telepon, menyatakan bahwa peristiwa ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Ia mengatakan, “Kami mohon doa dan dukungan semua pihak. Pemda akan berusaha sekuat tenaga untuk membuka akses dan menyalurkan bantuan secepat mungkin.” Pemerintah daerah juga telah menetapkan status siaga darurat untuk memudahkan mobilisasi sumber daya dan peralatan.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat turut mendesak percepatan penanganan dan meminta agar jalur alternatif permanen segera dibangun sebagai antisipasi bencana serupa di masa depan. Salah satu anggota DPRD menyebutkan bahwa kejadian isolasi pasca-longsor ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Morowali Utara. “Kita perlu infrastruktur jalan yang lebih tangguh dan sistem peringatan dini yang memadai,” ucapnya.

Harapan Warga dan Upaya Rehabilitasi

Di tengah keterbatasan, warga yang terisolir masih berusaha bertahan. Dari informasi terbatas yang berhasil dihimpun, warga mengandalkan cadangan beras dan hasil kebun untuk makan sehari-hari. Beberapa di antara mereka terpaksa mengonsumsi air hujan setelah persediaan air bersih menipis. Kehidupan normal benar-benar lumpuh; aktivitas ekonomi seperti perdagangan hasil pertanian maupun perikanan tidak mungkin dilakukan karena akses pasar terputus.

Setelah akses jalan berhasil dibuka, pemerintah menjanjikan akan segera mengirimkan bantuan material untuk perbaikan rumah warga yang terdampak, serta memulihkan fasilitas publik seperti sekolah dan tempat ibadah yang mungkin mengalami kerusakan. Diperkirakan, proses pemulihan penuh akan memakan waktu berminggu-minggu, terutama jika cuaca tidak mendukung.

Kejadian ini kembali mengingatkan betapa rentannya daerah-daerah terpencil di Sulawesi Tengah terhadap bencana alam. Perlu ada sinergi antara kewaspadaan warga, kesiapan pemerintah, dan dukungan seluruh elemen masyarakat agar dampak serupa tidak terus berulang. Hingga berita ini diturunkan, upaya pembukaan jalur darat masih terus dilakukan, dan seluruh pihak berharap agar 2.104 jiwa yang terisolir segera dapat kembali terhubung dengan dunia luar dan memperoleh bantuan yang sangat mereka butuhkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User