Petaka di Gunung Goa Kalibbong: Enam Mahasiswa Unhas Dievakuasi

Makassar – Sebuah insiden pendakian yang nyaris berujung petaka terjadi di kawasan Gunung Goa Kalibbong, Kelurahan Alloa, Kabupaten Maros, pada akhir pekan lalu. Enam mahasiswa Universitas Hasanuddi...

Jul 28, 2026 - 04:01
0 0
Petaka di Gunung Goa Kalibbong: Enam Mahasiswa Unhas Dievakuasi

Makassar – Sebuah insiden pendakian yang nyaris berujung petaka terjadi di kawasan Gunung Goa Kalibbong, Kelurahan Alloa, Kabupaten Maros, pada akhir pekan lalu. Enam mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) terpaksa dievakuasi setelah mengalami gangguan fisik serius berupa kram otot dan kelelahan ekstrem. Beruntung, respons cepat dari tim SAR gabungan membuat seluruh korban dapat diselamatkan tanpa korban jiwa.

Kronologi Pendakian yang Berujung Drama

Keenam mahasiswa yang tergabung dalam sebuah unit kegiatan pecinta alam di kampus tersebut memulai pendakian pada Sabtu pagi. Cuaca saat itu terpantau cukup bersahabat, sehingga mereka optimis dapat menaklukkan jalur pendakian Goa Kalibbong yang terkenal dengan medan berbatu dan tanjakan terjal. Namun, menjelang sore hari, situasi berubah drastis. Dua orang pendaki mulai mengeluhkan rasa nyeri dan kaku pada bagian kaki, sementara yang lain menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang tidak biasa.

Menurut keterangan salah satu anggota tim, kondisi fisik mereka memburuk setelah menempuh lebih dari lima jam perjalanan tanpa istirahat yang memadai. Dehidrasi dan kurangnya asupan elektrolit diduga menjadi pemicu utama kram otot yang melanda sebagian besar peserta pendakian. “Mereka sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan, bahkan untuk turun sekalipun,” ujar seorang pendaki lain yang ikut dalam rombongan.

Respons Cepat Tim SAR Gabungan

Mendapat laporan darurat dari rekan pendaki yang kondisinya lebih baik, Kantor SAR Makassar segera mengerahkan tim penyelamat. Operasi evakuasi melibatkan personel dari Basarnas, relawan lokal, serta aparat TNI dan Polri yang berada di sekitar wilayah Maros. Medan yang sulit dan minimnya sinyal komunikasi sempat menjadi hambatan, namun koordinasi yang baik membuat tim SAR berhasil mencapai lokasi korban dalam waktu sekitar dua jam setelah laporan diterima.

Proses evakuasi berlangsung dramatis. Para korban harus ditandu secara bergantian melewati jalur setapak yang sempit dan licin. “Kami mengerahkan peralatan rescue standar, termasuk tandu Stokes dan tali pengaman, mengingat kontur jalan yang ekstrem,” jelas Komandan Tim SAR di lapangan. Operasi ini memakan waktu hingga malam hari, namun semangat gotong-royong dari berbagai pihak berbuah manis. Satu per satu korban berhasil dibawa turun ke pos pendakian, lalu dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapat perawatan awal.

Kondisi Para Korban Pasca-Evakuasi

Setelah mendapat penanganan medis, keenam mahasiswa tersebut dilaporkan dalam kondisi stabil. Dokter yang menangani menyatakan bahwa mereka mengalami rhabdomyolysis ringan akibat kram yang berkepanjangan, serta dehidrasi sedang. Tidak ada tanda-tanda cedera serius atau patah tulang. “Mereka sangat beruntung, karena jika terlambat beberapa jam, kondisi bisa memburuk,” kata seorang tenaga medis.

Pihak universitas turut memberikan pendampingan psikologis kepada para mahasiswa pasca-insiden traumatis ini. Rektorat Unhas melalui juru bicaranya mengapresiasi kinerja tim SAR dan mengingatkan seluruh mahasiswa agar lebih memperhatikan keselamatan dalam setiap kegiatan di alam terbuka. “Kami bersyukur semuanya selamat. Ini menjadi pelajaran penting bagi komunitas pecinta alam kampus,” ucapnya.

Pelajaran Berharga bagi Pendaki

Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya persiapan fisik dan logistik sebelum mendaki. Gunung Goa Kalibbong, meski tidak setinggi gunung-gunung besar di Sulawesi, ternyata memiliki jalur yang menantang dan cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu. Para ahli kepecintaalaman menekankan bahwa pendakian bukan sekadar hobi, melainkan aktivitas berisiko tinggi yang membutuhkan perencanaan matang.

Beberapa pelajaran yang dapat diambil antara lain: pentingnya membawa cairan elektrolit yang cukup, tidak memaksakan diri saat tubuh sudah memberi sinyal lelah, serta selalu mendaki bersama rekan yang mengetahui teknik pertolongan pertama. “Kram dan kelelahan adalah sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan,” tegas seorang instruktur pendakian senior. Ia menyarankan agar setiap pendaki, terutama pemula, untuk melakukan pemanasan yang benar dan beristirahat secara teratur selama perjalanan.

Kejadian di Gunung Goa Kalibbong ini juga mendorong pihak berwenang untuk meningkatkan sosialisasi keselamatan pendakian. Pemerintah daerah setempat berencana memasang rambu-rambu tambahan serta posko darurat di sepanjang jalur pendakian populer, guna mencegah musibah serupa di masa mendatang.

Dengan seluruh korban yang kini telah pulang dan melanjutkan aktivitas akademik, kisah ini menjadi bukti nyata bahwa kerja sama antara instansi SAR, relawan, dan masyarakat mampu menyelamatkan nyawa di tengah situasi kritis. Semoga tragedi ini tidak terulang dan para pendaki semakin bijak dalam menaklukkan alam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User