Kubu Rogers Tolak Bantuan AIPAC, Tarif 50 Persen AS-Kanada Resmi Berlaku
Dua badai politik besar menerpa Amerika Serikat dalam hitungan hari. Pertama, sebuah perpecahan luar biasa antara kubu Mike Rogers—calon senator AS dari Pa
Dua badai politik besar menerpa Amerika Serikat dalam hitungan hari. Pertama, sebuah perpecahan luar biasa antara kubu Mike Rogers—calon senator AS dari Partai Republik untuk Michigan—dan komite lobi pro-Israel AIPAC yang selama puluhan tahun dikenal sebagai mesin pendanaan kampanye paling ditakuti di Washington. Kedua, runtuhnya perundingan dagang antara AS dan Kanada pada Jumat malam waktu setempat, yang kini berujung pada pemberlakuan tarif tambahan hingga 50 persen atas berbagai produk Kanada. Kedua peristiwa tersebut, meski berbeda ranah, sama-sama memperlihatkan pergesean besar dalam lanskap politik Amerika menjelang pemilihan umum 3 November.
Kubu Rogers Minta AIPAC Tak Beriklan, Hubungan Retak
Berdasarkan keterangan sejumlah pihak yang mengetahui jalannya komunikasi kedua kubu, sekutu-sekutu Rogers secara eksplisit meminta AIPAC untuk tidak menayangkan iklan pendukung pencalonannya di Senat AS. Permintaan itu disampaikan usai Rogers bertemu langsung dengan Ketua AIPAC Michael Tuchin di Los Angeles pekan lalu. Sehari setelah pertemuan tersebut, AIPAC memutuskan menyimpan iklan video yang sudah diproduksi dan semula ditujukan untuk menyerang rival Demokrat Rogers, kritikus vokal kebijakan Israel, Abdul El-Sayed.
Langkah kubu Rogers itu membuat murka para pejabat AIPAC, yang telah menggelontorkan lebih dari 30 juta dolar AS demi menggagalkan El-Sayed dalam pemilihan pendahulu Demokrat, dan semula bersiap menghabiskan belanja jutaan dolar lagi untuk membantu Rogers terpilih. Bagi sebuah organisasi yang lazimnya dipandang sebagai aset elektoral, penolakan terbuka semacam ini merupakan momen yang nyaris tak pernah terjadi sebelumnya.
"Bahkan Rogers—seorang Republikan yang sangat pro-Israel—khawatir dukungan publik AIPAC justru bisa menjadi beban di hadapan pemilih Michigan," demikian inti pelaporan sejumlah sumber yang akrab dengan jalannya percakapan kedua kubu.
Kekhawatiran itu tidak lahir dari ruang hampa. Kemarahan publik AS atas perang di Gaza telah mengikis daya tarik politik AIPAC secara drastis. Kelompok yang dahulu sering diasosiasikan dengan pengaruh tak terbantahkan kini justru dipandang sebagian pemilih sebagai label polarisasi—sesuatu yang berpotensi memindahkan suara, alih-alih menambahkannya.
El-Sayed, Kritikus Vokal Israel, Jadi Titik Balik Persaingan
Akar konflik ini dapat ditelusuri ke pemilihan pendahulu Demokrat Michigan pada 4 Agustus. El-Sayed menjadikan AIPAC sebagai pusat narasi kampanyenya, memanfaatkan belanja iklan raksasa kelompok tersebut untuk melawan lawan sesuai partainya, Haley Stevens. Setiap dolar yang dibelanjakan AIPAC untuk mendukung Stevens dimanfaatkan El-Sayed sebagai bukti bahwa rivalnya tunduk pada agenda lobi yang tidak populer di kalangan basis pemilih progresif.
- El-Sayed pernah menyebut Israel sebagai "negara nakal", menuduhnya melakukan genosida dan apartheid, serta menolak menyatakan apakah Israel berhak ada sebagai negara Yahudi.
- Rekam jejak itu menjadikan kekalahan El-Sayed sebagai prioritas mutlak bagi AIPAC, yang jarang menggelontorkan belanja besar pada pemilihan umum dan lebih sering bermain di babak pendahulu.
- Kemenangan El-Sayed justru memaksakan dilema baru bagi AIPAC: melanjutkan perlawanan dengan biaya besar di pemilu umum, atau mundur dengan wajah penuh luka.
Namun yang terjadi melampaui skenario mana pun: calon yang hendak mereka dukung, Rogers, meminta mereka menjauh. AIPAC pun terjebak dalam posisi ganda—ditolak oleh kandidat yang ingin dibantunya, dan dikalahkan oleh kandidat yang gagal mereka tumbangkan.
Runtuhnya Perundingan Dagang AS–Kanada
Sementara itu, di arena kebijakan ekonomi, hubungan dagang AS–Kanada mencapai titik terendah tanpa preseden. Presiden Donald Trump bulan lalu mengancam akan menggunakan Pasal 338 Undang-Undang Tarif 1930—instrumen yang tak pernah digunakan presiden mana pun sejak diundangkan—untuk memberlakukan tarif tambahan 50 persen atas sejumlah barang Kanada, termasuk alkohol, perlengkapan hoki, semen, dan produk susu.
Tarif semula dijadwalkan berlaku pukul 00.01 waktu Timur hari Rabu, dengan pengecualian bagi ekspor kunci Kanada seperti energi, potash, dan mineral kritikal. Pada hari Selasa, Trump menunda pemberlakuan selama tiga hari dan mengklaim kedua negara telah mencapai kesepakatan. Klaim itu kemudian runtuh: perundingan kolaps pada Jumat malam, dan kedua belah pihak saling menuduh sebagai penyebab kegagalan.
"Kanada membuat tuntutan menit terakhir yang menggagalkan kesepakatan," kata Wakil Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer, sebagaimana dilansir Bloomberg.
Versi cerita Ottawa berbeda. Perdana Menteri Kanada Mark Carney, dalam pernyataan yang diunggah di X, justru menuduh Washington melakukan perubahan mendadak atas ketentuan yang telah disepakati, dan menyatakan telah mengambil langkah balasan. Dengan runtuhnya kesepakatan, tarif 50 persen kini resmi berlaku—menandai keretakan belum pernah terjadi sebelumnya dengan mitra dagang terbesar kedua Amerika Serikat.
Momentum Ganda yang Menggoyang Politik AS
Bagi pengamat, dua peristiwa ini bukan sekadar kebetulan kalender. Keduanya merefleksikan gesekan antara kekuatan politik mapan dan arus baru yang lebih populis: satu di ranah lobi kebijakan luar negeri, satunya lagi di ranah proteksionisme ekonomi. AIPAC, yang selama ini dianggap tak tersentuh, kini harus hidup dengan kenyataan bahwa dukungannya bisa berubah menjadi racun elektoral. Sementara itu, pelaku usaha di kedua sisi perbatasan harus menanggung ongkos diplomasi dagang yang berubah menjadi perang tarif.
Menjelang pemilu 3 November, para kandidat di seluruh AS tengah menghitung ulang siapa yang layak diajak bersekutu dan siapa yang kehadirannya justru mengundang gelombang kemarahan pemilih. Bagi Rogers, menjaga jarak dari AIPAC merupakan kalkulasi politis yang dingin namun rasional. Bagi AIPAC, luka ini sulit disembuhkan dalam satu siklus pemilu. Dan bagi konsumen di dua negara, harga barang sehari-hari—dari keju hingga minuman beralkohol—berpeluang merambat naik dalam waktu dekat.
[SOCIAL_TWEET]: Dua guncangan di AS: kubu Mike Rogers menolak bantuan iklan AIPAC jelang pemilu Senat Michigan, sementara tarif 50% untuk produk Kanada resmi berlaku usai perundingan dagang kolaps. #AS #Kanada #AIPAC #TarifDagang[SOCIAL_TG]: 📰 BACA: Kubu Rogers Tolak Bantuan AIPAC, Tarif 50 Persen AS-Kanada Resmi Berlaku — Perpecahan antara calon senator RI Mike Rogers dan AIPAC memperlihatkan menurunnya pengaruh lobi pro-Israel di tengah kemarahan soal Gaza. Di ranah ekonomi, perundingan dagang AS–Kanada kolaps dan tarif 50% kini berlaku tanpa preseden. Detail lengkap di Patokan.com.



Comments (0)