Keringnya Bendungan Karian Singkap Kampung Lama, Warga Bernostalgia
Pemandangan tak biasa menyapa warga di sekitar Bendungan Karian, Banten, dalam beberapa pekan terakhir. Debit air yang menyusut drastis akibat kemarau panjang menyingkap sisa-sisa permukiman yang tela...
Pemandangan tak biasa menyapa warga di sekitar Bendungan Karian, Banten, dalam beberapa pekan terakhir. Debit air yang menyusut drastis akibat kemarau panjang menyingkap sisa-sisa permukiman yang telah lama tenggelam. Deretan rumah, jalan setapak, dan bangunan publik yang dulu menjadi denyut kehidupan kini muncul kembali dari dasar waduk, membangkitkan kenangan bagi mereka yang pernah menempati kampung tersebut.
Jejak Peradaban yang Muncul dari Dasar Waduk
Fenomena ini menjadi magnet bagi warga, khususnya generasi tua yang dahulu tinggal di lembah sebelum area tersebut digenangi proyek strategis nasional itu. Salah seorang saksi, Odon (61), menuturkan bahwa biasanya di musim penghujan, hanya puncak menara masjid yang bisa dikenali. "Tapi sekarang, hampir seluruh struktur rumah bisa dilihat, termasuk bekas dapur dan sumur-sumur tua," ungkapnya. Kondisi ini memicu luapan emosi—percampuran antara rindu dan haru—karena banyak dari mereka terpaksa meninggalkan tanah leluhur saat pembangunan bendungan dimulai.
Bendungan Karian sendiri dibangun untuk memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi di wilayah barat Jawa. Proyek yang rampung beberapa tahun silam itu menenggelamkan sedikitnya tiga desa. Ribuan keluarga direlokasi dan mendapat kompensasi, namun memori tentang kampung halaman tetap melekat kuat. Kemunculan kembali puing-puing ini menjadi semacam ruang nostalgia terbuka. Setiap sore, terutama akhir pekan, puluhan orang datang sekadar duduk di tepi waduk, memandangi rumah masa kecil mereka yang kini tampak seperti kota hantu.
Dampak Kekeringan dan Reaksi Masyarakat
Penurunan muka air bendungan merupakan imbas langsung dari musim kemarau yang lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Data dari Balai Besar Wilayah Sungai menunjukkan bahwa tinggi muka air turun hingga belasan meter dari ambang normal. Meski demikian, pihak pengelola memastikan bahwa stok air baku untuk pelanggan masih dalam batas aman. "Ini siklus tahunan, hanya saja tahun ini surutnya lebih dalam sehingga bangunan yang sebelumnya tersembunyi jadi terekspos," jelas seorang petugas teknis.
Bagi sebagian warga, fenomena ini bukan sekadar tontonan. Sejumlah komunitas pegiat sejarah lokal mulai mendokumentasikan sisa-sisa kampung itu dengan foto dan video sebelum air kembali naik. Mereka merekam tata ruang perkampungan, mencatat posisi bekas balai desa, dan mengidentifikasi pohon-pohon besar yang dulu menjadi penanda batas dusun. Upaya ini, kata mereka, penting agar generasi mendatang memiliki rekam jejak tentang tanah leluhur yang kini berada di dasar waduk.
Di sisi lain, kehadiran reruntuhan ini juga menimbulkan tantangan keamanan. Beberapa bagian bangunan menyisakan lubang dan besi berkarat yang membahayakan jika diinjak. Pemerintah setempat memasang rambu peringatan dan mengimbau warga agar tidak masuk ke area bekas permukiman, terutama yang berlumpur dalam. "Kami paham rasa penasaran warga, tetapi faktor keselamatan tetap utama," ujar seorang aparat desa.
Kenangan yang Tak Ikut Tenggelam
Di antara para pengunjung, terlihat pasangan lansia yang dulu memiliki rumah tepat di tikungan jalan yang kini bisa disusuri kembali. Mereka mengisahkan bahwa di sanalah anak-anak mereka lahir, di sudut dapur yang kini hanya menyisakan fondasi batu bata. Cerita seperti ini mengalir deras, menghidupkan kembali suasana kampung yang damai sebelum tergusur. Beberapa warga bahkan melakukan ritual kecil—membawa bunga atau sekadar menggelar tikar—sebagai bentuk penghormatan pada tanah yang telah memberi kehidupan bagi mereka.
Fenomena ini juga memicu diskusi tentang rekayasa lingkungan dan biaya sosial dari proyek infrastruktur. Meski Bendungan Karian telah memberi manfaat besar bagi pasokan air di Banten dan sekitarnya, kehilangan kampung halaman adalah luka yang sulit pulih. Sejumlah akademisi menilai bahwa peristiwa ini bisa menjadi titik tolak untuk merumuskan kebijakan pengadaan tanah yang lebih manusiawi di masa depan, termasuk pendekatan restorasi memori kolektif warga yang terdampak.
Untuk saat ini, warga hanya bisa menikmati momen langka ini sebagai jendela waktu yang singkat. Begitu hujan kembali turun dan debit air pulih, kampung itu akan kembali tenggelam, mungkin untuk selamanya. Maka, setiap kunjungan terasa seperti pertemuan kembali yang intim, antara manusia dan sejarahnya yang tidak benar-benar hilang, melainkan hanya tidur di bawah permukaan air.
Dengan kamera ponsel di tangan, Odon merekam setiap sudut lorong yang dulu menjadi tempatnya berlari semasa kecil. "Setidaknya, anak-cucu saya bisa melihat dari mana kami berasal," katanya pelan. Kini, rekam jejak itu bukan lagi sekadar cerita pengantar tidur, tapi puing-puing nyata yang berbicara tentang masa lalu dan ketahanan sebuah komunitas.
Comments (0)