Kemarau Panjang Singkap Jejak Kampung di Bendungan Karian
Lebak, Banten – Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali warga melihat rumah, jalan, dan ladang yang dulu menjadi tempat mereka hidup. Kini, untuk pertama kalinya, pemandangan itu kembali mencua...
Lebak, Banten – Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali warga melihat rumah, jalan, dan ladang yang dulu menjadi tempat mereka hidup. Kini, untuk pertama kalinya, pemandangan itu kembali mencuat dari dasar Bendungan Karian yang surut drastis. Menyusul kemarau panjang yang melanda wilayah Banten, air waduk turun ke level terendahnya pasca penggenangan pada 2023, menguak kembali sisa-sisa permukiman yang telah lama dianggap tinggal kenangan.
Fenomena langka ini bukan sekadar peristiwa alam; bagi ribuan mantan penghuni yang direlokasi, ini adalah pertemuan yang memantik kenangan, campur aduk antara rindu dan kehilangan. Bangunan semi permanen, fondasi masjid, hingga pohon-pohon besar yang dulu menaungi pekarangan kini tampak seperti museum alami di tengah gurun lumpur yang retak-retak. Dari kejauhan, siluet atap seng berkarat dan pagar bambu yang sudah lapuk menjadi saksi bisu kehidupan yang terpaksa dipadamkan demi proyek strategis nasional.
Bekas Kampung yang Muncul ke Permukaan
Pemandangan paling mencolok berada di titik koordinat yang dulunya dikenal sebagai pusat aktivitas warga. Deretan rumah—dulu dicat putih dan biru—kini berdiri sebagai kerangka tak beratap, diselimuti lumpur kering setebal jari. Beberapa batang tiang listrik masih berdiri, seolah menunggu aliran listrik yang tak akan pernah kembali. Seorang warga yang datang menyaksikan mengaku tertegun melihat sumur tua yang masih bisa dikenali, meski kini hanya berisi tanah pecah-pecah dan enceng gondok yang mengering.
Tidak cuma rumah. Bekas jalan desa yang dulu ramai dilalui motor dan gerobak pedagang sayur masih menyisakan aspal yang terkelupas, membentuk alur yang langsung dikenali oleh mereka yang pernah tinggal. Di sudut lain, fondasi sebuah madrasah tampak jelas; papan tulis hitam yang dulu penuh kapur kini hanya tinggal serpihan kayu yang ditumbuhi jamur. Fenomena ini seketika viral di media sosial setelah foto-foto amatir yang diambil menggunakan ponsel menyebar luas, memicu perbincangan tentang kenangan yang tak bisa ditenggelamkan begitu saja.
Proyek Bendungan dan Pengorbanan Warga
Bendungan Karian di Kabupaten Lebak merupakan salah satu infrastruktur strategis yang diresmikan untuk memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi di Banten serta DKI Jakarta. Dengan kapasitas tampung lebih dari 300 juta meter kubik, waduk ini menenggelamkan sedikitnya enam desa di tiga kecamatan. Ribuan keluarga harus meninggalkan tanah leluhur yang telah dihuni lintas generasi, menerima kompensasi dan hunian pengganti di tempat baru.
Proses relokasi saat itu berlangsung dramatis. Banyak warga menolak meninggalkan rumah, terutama para sepuh yang lahir dan menua di tempat yang sama. Hingga detik-detik terakhir sebelum air naik, masih terdengar suara tangis dan doa di sudut-sudut kampung. “Rumah boleh dibeli, tapi kenangan tidak,” begitu kalimat yang sering diucapkan dan kini kembali terngiang ketika puing-puing itu terlihat lagi.
Penggenangan selesai pada 2023, dan sejak itu tidak ada lagi yang menyaksikan langsung daratan yang kini menjadi dasar waduk. Ketinggian air normal berada di angka yang mustahil dijangkau tanpa alat selam. Baru setelah musim kering tahun ini berlangsung ekstrem—dengan curah hujan jauh di bawah rata-rata dan penguapan tinggi—permukaan air surut hingga puluhan meter, menguak lanskap yang sebelumnya terkubur.
Antara Nostalgia dan Risiko Lingkungan
Kemunculan kembali bekas kampung ini langsung menarik perhatian warga sekitar, bahkan dari luar daerah. Sejumlah mantan penghuni rela menempuh perjalanan jauh untuk melihat langsung rumah masa kecil mereka. Seorang ibu setengah baya terlihat berdiri lama di depan sisa dapur rumahnya, memegang keramik berwarna hijau yang masih menempel di dinding retak. Ia tak kuasa menahan air mata saat mengenali kembali motif lantai yang dulu ia pel setiap pagi.
Namun, fenomena ini juga memunculkan kekhawatiran. Dinas terkait mengimbau agar masyarakat tidak mendekati area tersebut karena struktur bangunan yang rapuh berpotensi ambruk, dan lumpur kering bisa menyembunyikan rongga berbahaya. Selain itu, timbul isu sanitasi: kotoran ternak dan material organik yang mengering bisa menjadi sumber penyakit bila tertiup angin. Pejabat setempat menyatakan akan segera melakukan kajian untuk memastikan tidak ada dampak buruk terhadap kualitas air di waduk yang menjadi sumber air minum jutaan orang.
Di sisi lain, sejarawan lokal melihat momen ini sebagai kesempatan berharga untuk mendokumentasikan jejak peradaban yang hampir sirna. Sebuah komunitas pegiat sejarah berinisiatif merekam kondisi terkini bekas permukiman menggunakan kamera 3D, dengan harapan dapat menyusun arsip digital yang bisa menjadi referensi bagi generasi mendatang. “Ini bukan sekadar bangkai rumah; ini jejak sosial yang merekam bagaimana masyarakat agraris bertransformasi menjadi bagian dari pembangunan modern,” ujar seorang peneliti yang ikut dalam tim pendokumentasian.
Mengantisipasi Siklus Selanjutnya
Siklus hidrologi di wilayah tropis seperti Banten memang kerap menghadirkan anomali. Para ahli memperkirakan fenomena surutnya Bendungan Karian tidak akan berlangsung lama; bila hujan mulai turun secara normal pada akhir tahun, air akan kembali naik dan menutup semua yang kini tersingkap. Pertanyaan yang muncul adalah apakah kejadian ini akan terulang di masa mendatang, dan bagaimana pemerintah menyiapkan mitigasi terhadap dampak sosial-psikologis warga terdampak yang harus kembali menyaksikan rumah mereka hilang untuk kedua kalinya.
Beberapa aktivis masyarakat mengusulkan agar pemerintah membangun monumen kecil atau plakat di titik pandang tertentu di sekitar bendungan, sebagai penghormatan simbolik terhadap komunitas yang telah direlokasi. Ide ini mendapat respons positif dari sejumlah pihak sebagai cara untuk tidak melupakan pengorbanan warga, sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik megahnya infrastruktur modern, selalu ada cerita tentang tanah dan manusia yang menjadi fondasinya.
Untuk saat ini, pemandangan langka ini hanya akan bertahan beberapa pekan. Warga yang ingin mengenang kampung halaman diimbau untuk menjaga jarak aman dan tidak mengambil benda-benda dari lokasi. Sebab, begitu musim hujan tiba, seluruh jejak yang hari ini ramai dibicarakan akan kembali tenggelam ke dalam sunyi, menunggu siklus alam berikutnya yang entah kapan akan mengungkapnya lagi ke permukaan.
Comments (0)