Kemarahan Kim Yo Jong: Seruan ASEAN Dinilai 'Bodoh' dan Mimpi Liar

Diplomasi kawasan Asia Timur kembali diuji oleh retorika keras dari Pyongyang. Kim Yo Jong, sosok perempuan paling berpengaruh di hierarki Korea Utara, mengamuk terhadap ASEAN setelah blok regional it...

Jul 27, 2026 - 20:58
0 0
Kemarahan Kim Yo Jong: Seruan ASEAN Dinilai 'Bodoh' dan Mimpi Liar

Diplomasi kawasan Asia Timur kembali diuji oleh retorika keras dari Pyongyang. Kim Yo Jong, sosok perempuan paling berpengaruh di hierarki Korea Utara, mengamuk terhadap ASEAN setelah blok regional itu menyerukan denuklirisasi Semenanjung Korea. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah, ia tidak hanya menolak seruan itu, tetapi juga merendahkan ASEAN dengan menyebutnya sebagai kumpulan negara yang "bodoh" dan mengejar "mimpi liar" yang tidak realistis.

Menurut Kim Yo Jong, permintaan agar Korea Utara meninggalkan program nuklirnya adalah bentuk penghinaan terhadap kedaulatan negara. Ia menekankan bahwa program nuklir negaranya adalah "penangkal mutlak" terhadap apa yang disebutnya sebagai kebijakan bermusuhan Amerika Serikat. Dengan nada sinis, ia mengatakan bahwa para pemimpin ASEAN "tidak tahu apa-apa tentang penderitaan dan perjuangan rakyat Korea" dan hanya mengikuti arahan dari Washington. Serangan verbal ini sontak memicu kekhawatiran di kalangan diplomat kawasan.

Serangan Pribadi yang Sarat Muatan Politik

Kim Yo Jong dikenal karena gaya komunikasinya yang blak-blakan dan sering kali emosional. Sebagai adik kandung Kim Jong Un, ia memiliki akses langsung ke pemimpin tertinggi dan kerap menjadi ujung tombak dalam menyampaikan pesan-pesan keras kepada dunia luar. Kali ini, ia tampak melepaskan seluruh kekesalannya kepada ASEAN, sebuah organisasi yang biasanya dianggap lebih netral dibandingkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat atau Jepang. Namun bagi Pyongyang, tidak ada pihak yang netral ketika menyangkut soal senjata nuklir—semua seruan untuk denuklirisasi dianggap sebagai ancaman eksistensial.

Pernyataan terbaru itu muncul setelah para menteri luar negeri ASEAN mengeluarkan komunike bersama yang mendesak agar Korea Utara sepenuhnya meninggalkan program nuklir dan rudalnya. Komunike tersebut, yang biasa dirilis seusai pertemuan tingkat tinggi, menekankan pentingnya perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea. Namun respon dari Kim Yo Jong jauh dari harapan para diplomat. Ia justru menjadikan komunike itu sebagai bukti bahwa ASEAN "tidak berdaya dan hanya menjadi boneka kekuatan imperialis".

Korea Utara di bawah Kim Jong Un telah menghabiskan lebih dari satu dekade terakhir untuk memperkuat persenjataan nuklirnya. Uji coba rudal balistik antarbenua yang mampu menjangkau daratan Amerika Serikat, peluncuran rudal dari kapal selam, hingga pengembangan hulu ledak hipersonik menjadi rangkaian pencapaian yang terus dipamerkan. Dalam konteks ini, Kim Yo Jong menegaskan bahwa "tidak akan ada negosiasi, tidak akan ada kompromi, dan tidak akan ada denuklirisasi". Ia justru memproyeksikan bahwa kapasitas nuklir Korut "hanya akan tumbuh semakin kuat, semakin mematikan".

Dampak bagi Kawasan dan Respon Internasional

Amarah Kim Yo Jong ini menambah daftar panjang ketegangan di Asia Timur. Amerika Serikat dan Korea Selatan, yang selama ini menjadi target utama kritik Pyongyang, segera menyatakan keprihatinan atas eskalasi retorika. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa pernyataan itu menunjukkan "sikap isolasionis Korea Utara yang semakin dalam", sementara Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyebutnya sebagai "penghinaan terhadap komunitas internasional". Jepang, melalui pernyataan resminya, juga mengutuk keras sikap Korut dan menyerukan solidaritas yang lebih kuat di antara negara-negara Asia.

Namun demikian, ASEAN sebagai organisasi cenderung bersikap hati-hati. Prinsip non-intervensi dan pengambilan keputusan melalui konsensus sering kali membuat blok ini lambat merespon provokasi verbal. Belum ada pernyataan resmi dari Sekretariat ASEAN mengenai kecaman Kim Yo Jong tersebut. Meski begitu, para analis menilai bahwa insiden ini dapat memperkeras posisi ASEAN terhadap Korea Utara di masa depan, terutama jika Pyongyang terus menunjukkan sikap permusuhan terhadap tetangganya.

Di tengah situasi tersebut, kekhawatiran terbesar adalah bahwa siklus provokasi dan pembalasan akan terus berputar tanpa akhir. Korea Utara baru-baru ini juga meningkatkan frekuensi uji coba rudalnya setelah jeda singkat, sebuah langkah yang sejalan dengan janji Kim Yo Jong untuk memperkuat kemampuan nuklir. Sementara itu, latihan militer gabungan antara AS dan Korea Selatan tetap berjalan, yang oleh Pyongyang dianggap sebagai latihan invasi. Semua ini menciptakan dinamika yang sangat eksplosif di salah satu kawasan paling termiliterisasi di dunia.

Pertanyaan besarnya kini: apakah ada ruang untuk dialog? Kim Yo Jong secara jelas menutup pintu untuk perundingan apa pun yang mensyaratkan denuklirisasi. Bagi rezim Kim, senjata nuklir telah menjadi jaminan kelangsungan hidup politik dan identitas nasional. Mereka melihat nasib para pemimpin seperti Saddam Hussein atau Muammar Khadafi sebagai pelajaran bahwa tanpa senjata pemusnah massal, sebuah rezim bisa dengan mudah digulingkan. Dalam kerangka berpikir seperti itu, seruan ASEAN bukan hanya dianggap naif, tetapi juga berbahaya.

Oleh karena itu, kemarahan Kim Yo Jong terhadap ASEAN bukanlah sekadar ledakan emosi sesaat. Itu adalah sinyal strategis bahwa Korea Utara tidak akan pernah menyerahkan senjata nuklirnya, apa pun yang dikatakan oleh komunitas internasional. Pesannya jelas: lebih baik dianggap "bodoh" oleh dunia, tetapi tetap hidup dan berkuasa, daripada mengikuti jejak mereka yang menyerah lalu hancur. Bagi Pyongyang, mimpi liar itu justru milik pihak-pihak yang berharap Semenanjung Korea bebas nuklir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User