Jemaah Haji Indonesia Gelontorkan Rp1,96 Triliun untuk Oleh-Oleh

Angka belanja jemaah haji asal Indonesia kembali mencuri perhatian. Sepanjang musim haji 2026, para tamu Allah dari Tanah Air tercatat mengeluarkan dana hingga Rp1,96 triliun hanya untuk membeli oleh-...

Aug 07, 2026 - 02:32
0 0
Jemaah Haji Indonesia Gelontorkan Rp1,96 Triliun untuk Oleh-Oleh

Angka belanja jemaah haji asal Indonesia kembali mencuri perhatian. Sepanjang musim haji 2026, para tamu Allah dari Tanah Air tercatat mengeluarkan dana hingga Rp1,96 triliun hanya untuk membeli oleh-oleh. Nilai fantastis tersebut setara dengan 46,1 persen dari keseluruhan pengeluaran pribadi jemaah selama berada di Arab Saudi, menjadikan belanja buah tangan sebagai pos pengeluaran terbesar dibandingkan kebutuhan lainnya.

Temuan ini memperlihatkan bahwa aktivitas berbelanja bukan sekadar kegiatan sampingan di sela-sela ibadah, melainkan sudah menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari perjalanan haji masyarakat Indonesia. Jika dihitung lebih jauh, total pengeluaran pribadi jemaah diperkirakan menembus lebih dari Rp4 triliun, dengan hampir separuhnya mengalir ke kantong-kantong pedagang di Tanah Suci.

Oleh-Oleh, Wujud Berbagi Berkah Sepulang dari Tanah Suci

Bagi masyarakat Indonesia, pulang haji tanpa membawa buah tangan terasa belum lengkap. Oleh-oleh dipandang sebagai simbol berbagi keberkahan kepada keluarga, tetangga, rekan kerja, hingga kerabat jauh yang turut mendoakan keberangkatan sang jemaah. Tak heran bila banyak jemaah yang rela menyisihkan porsi besar dari uang saku mereka demi memastikan tak ada orang terdekat yang terlewat mendapatkan tanda mata.

Tradisi ini telah mengakar kuat secara turun-temurun. Kedatangan jemaah haji di kampung halaman kerap disambut dengan acara syukuran, dan oleh-oleh yang dibagikan menjadi pelengkap momen bahagia tersebut. Bagi sebagian orang, menerima buah tangan dari Tanah Suci bahkan dianggap membawa keberkahan tersendiri, sehingga permintaan terhadap barang-barang khas haji tak pernah surut dari tahun ke tahun.

Daftar belanjaan jemaah umumnya tak jauh dari barang-barang ikonik. Kurma berbagai jenis, air zamzam, sajadah, tasbih, mukena, hingga parfum khas Timur Tengah selalu masuk dalam keranjang belanja. Selain itu, cokelat, kacang-kacangan, minyak wangi, gamis, dan aksesori bertuliskan kaligrafi juga diburu, terutama saat jemaah menyambangi kawasan perbelanjaan di sekitar Masjidil Haram di Mekkah maupun area Masjid Nabawi di Madinah.

Lokasi Belanja Favorit dan Perilaku Konsumtif Jemaah

Pusat-pusat perbelanjaan di dua kota suci tersebut nyaris tak pernah sepi dari jemaah Indonesia. Kios-kios di sekitar pelataran masjid, pasar tradisional, hingga mal modern menjadi destinasi wajib, terutama menjelang waktu kepulangan. Para pedagang di sana bahkan banyak yang fasih berbahasa Indonesia, sebuah bukti betapa besarnya kontribusi jemaah Tanah Air terhadap denyut ekonomi ritel di Arab Saudi.

Perilaku belanja jemaah juga dipengaruhi faktor psikologis. Banyak yang merasa kesempatan beribadah haji mungkin hanya datang sekali seumur hidup, sehingga muncul keinginan kuat untuk memaksimalkan momen, termasuk dalam hal berbelanja. Ditambah lagi, harga sejumlah barang di Tanah Suci kerap dianggap lebih terjangkau dibandingkan membeli produk serupa di Indonesia, yang semakin mendorong jemaah berburu dalam jumlah besar.

Di sisi lain, alokasi bagasi yang terbatas sering kali tak menyurutkan semangat belanja. Tak sedikit jemaah yang justru membeli koper tambahan di Arab Saudi demi menampung seluruh oleh-oleh yang telah diborong. Fenomena ini menjadi pemandangan lumrah di bandara jelang kepulangan rombongan ke Tanah Air.

Dampak Ekonomi yang Mengalir ke Dua Negara

Perputaran uang sebesar Rp1,96 triliun tentu memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Di Arab Saudi, sektor ritel, perhotelan, dan transportasi turut kecipratan rezeki dari tingginya daya beli jemaah Indonesia. Sementara di dalam negeri, geliat ekonomi juga terasa melalui industri pendukung, mulai dari produsen perlengkapan haji, jasa pengiriman barang, hingga pedagang lokal yang menjual kembali produk-produk khas Timur Tengah.

Indonesia sendiri dikenal sebagai pengirim jemaah haji terbesar di dunia dengan kuota lebih dari 200 ribu orang setiap tahunnya. Dengan jumlah sebesar itu, daya beli jemaah Tanah Air menjadi perhatian serius, baik bagi pemerintah maupun pelaku usaha. Data pengeluaran semacam ini kerap dijadikan bahan evaluasi untuk merumuskan kebijakan bimbingan manasik, termasuk edukasi pengelolaan keuangan selama beribadah.

Pentingnya Mengatur Keuangan Selama Berhaji

Meski membeli oleh-oleh adalah hal yang wajar, pengamat penyelenggaraan ibadah haji kerap mengingatkan agar jemaah tetap cermat mengatur anggaran. Pengeluaran yang berlebihan dikhawatirkan mengganggu kebutuhan pokok selama di Tanah Suci, seperti konsumsi, transportasi, hingga dana darurat kesehatan. Apalagi, kondisi fisik jemaah lansia membutuhkan perhatian ekstra yang tak jarang menuntut biaya tambahan.

Beberapa langkah sederhana bisa diterapkan agar keuangan tetap terkendali. Pertama, membuat daftar belanjaan sejak sebelum berangkat dan menentukan batas maksimal anggaran. Kedua, mendahulukan kebutuhan ibadah dan kesehatan sebelum belanja. Ketiga, membandingkan harga di beberapa toko karena selisih harga antarpenjual bisa cukup jauh. Terakhir, memperhatikan ketentuan bagasi maskapai agar tidak terkena biaya kelebihan barang yang justru menguras kantong.

Angka Rp1,96 triliun pada musim haji 2026 pada akhirnya bukan sekadar statistik. Di baliknya tersimpan cerita tentang tradisi, rasa syukur, dan keinginan berbagi kebahagiaan sepulang dari Baitullah. Dengan perencanaan yang matang, berbelanja oleh-oleh tetap bisa dilakukan tanpa mengorbankan esensi ibadah maupun kesehatan keuangan jemaah itu sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User