DENPASAR — Kalender Bali Sukra Umanis Menail Tentukan Hari Baik Perikanan
Dua sisi kehidupan di Pulau Dewata senantiasa berjalan beriringan: ritme keseharian modern dan kepatuhan yang mendalam terhadap tatanan kosmologis spiritua
Dua sisi kehidupan di Pulau Dewata senantiasa berjalan beriringan: ritme keseharian modern dan kepatuhan yang mendalam terhadap tatanan kosmologis spiritual. Pada Jumat ini, masyarakat Hindu di Bali kembali merujuk pada penanggalan tradisional Wariga untuk menentukan arah dan jenis kegiatan harian. Berdasarkan perhitungan kalender Bali, hari ini bertepatan dengan perpaduan petung Sukra Umanis Menail, sebuah kombinasi hari yang diyakini membawa energi spesifik bagi penciptaan sarana kerja bahari.
Sistem penanggalan Bali tidak sekadar mencatat perputaran waktu, melainkan menjadi panduan hidup yang merinci *Ala Ayuning Dewasa*—tata aturan mengenai hari baik dan hari buruk untuk melakukan berbagai aktivitas. Bagi masyarakat pesisir maupun para perajin perkakas tradisional, perhitungan hari ini memberikan petunjuk khusus yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
Filosofi Wariga dan Penentuan Ala Ayuning Dewasa
Penanggalan Bali mengombinasikan beberapa elemen sekaligus, yakni Sapta Wara (tujuh hari dalam seminggu), Panca Wara (lima hari pasaran), serta Wuku (siklus 210 hari). Pada kombinasi Sukra (Jumat), Umanis (pasaran Umanis), dan Wuku Menail, muncul watak hari yang sangat mendukung pembuatan benda-benda tajam berunsur logam atau kayu yang difungsikan untuk berburu di perairan, khususnya senjata atau alat penangkap ikan seperti tombak.
Kearifan lokal ini memandang bahwa setiap benda yang diciptakan manusia harus menyelaraskan energi pembuatnya dengan energi alam semesta. Jika sebuah alat dibuat pada hari yang tepat, fungsi teknis perkakas tersebut dipercaya akan maksimal, sekaligus memberikan keselamatan bagi penggunanya.
"Perhitungan Ala Ayuning Dewasa merupakan wujud rasa hormat manusia Bali terhadap hukum alam. Ketika seseorang membuat alat tangkap ikan pada hari Sukra Umanis Menail, ia tidak hanya merakit fisik peralatan tersebut, tetapi juga memohon izin kepada penguasa lautan agar alat itu mendatangkan kelimpahan tanpa merusak ekosistem," ujar pakar kebudayaan Bali saat diwawancarai mengenai pentingnya tata waktu tradisional.
Karakteristik Hari dan Relevansinya bagi Masyarakat Pesisir
Aktivitas bahari di Bali memiliki keterikatan spiritual yang sangat kuat dengan Dewa Baruna sebagai penguasa samudera. Pembuatan tombak penangkap ikan atau alat penunjang bahari lainnya pada hari ini diyakini memiliki nilai metafisika yang tinggi. Peralatan yang ditempa atau dirakit pada hari baik dipercaya memiliki daya tahan lebih kuat, akurasi tinggi saat digunakan, serta membawa keberuntungan saat melaut.
Proses pembuatan alat ini biasanya ditindaklanjuti dengan ritual penyucian atau Aji Pasupati. Ritual tersebut bertujuan untuk "menghidupkan" fungsi spiritual dari perkakas yang telah selesai dibuat, sehingga ada sinergi antara pemilik alat dan alam lingkungan tempatnya mengadu nasib.
| Unsur Kalender Bali | Nilai / Nama | Implikasi Tradisional |
|---|---|---|
| Sapta Wara | Sukra (Jumat) | Hari yang dipengaruhi oleh energi keindahan dan ketenangan. |
| Panca Wara | Umanis | Melambangkan arah timur dan sifat pengayoman serta ketelitian. |
| Wuku | Menail | Menaungi aktivitas pembuatan senjata dan sarana berburu/menangkap ikan. |
| Rekomendasi Utama | Pembuatan Tombak Ikan | Sangat baik untuk memulai perakitan atau penempaan alat perikanan. |
Harmoni Alam dan Kearifan Lokal di Era Modern
Di tengah pesatnya modernisasi dan modernisasi teknologi perikanan, sebagian besar nelayan dan masyarakat adat Bali masih mempertahankan tradisi ini. Penggunaan kalender Bali bukan bentuk keterikatan pada mitos, melainkan sebuah metode ekologis kuno yang mengajarkan kesadaran penuh (mindfulness) dalam mengeksploitasi sumber daya alam.
Dengan mengikuti panduan Wariga, masyarakat diajarkan untuk tidak bersikap serakah. Ada hari untuk melaut, ada hari untuk beristirahat, dan ada hari khusus untuk merawat serta membuat peralatan. "Masyarakat Bali tidak sekadar hidup dari alam, melainkan bernapas bersama ritme kosmologis yang telah diwariskan turun-temurun," yang menjadikan kebudayaan ini tetap bertahan melintasi jaman.
Keberadaan kalender tradisional ini membuktikan bahwa modernitas tidak harus menghapuskan identitas budaya. Kepatuhan terhadap hari baik dalam pembuatan alat perikanan menjadi bukti nyata bagaimana spiritualitas, kearifan lokal, dan mata pencaharian dapat menyatu secara harmonis di Pulau Dewata.




Comments (0)