Dampak Kemarau, Puing Kampung Tenggelam di Bendung Karian Muncul Kembali

Rendahnya permukaan air di Bendung Karian, Kabupaten Lebak, Banten, menyibak kembali lembaran sejarah yang selama ini terkubur di kedalaman. Kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah tersebut membua...

Jul 28, 2026 - 01:32
0 0
Dampak Kemarau, Puing Kampung Tenggelam di Bendung Karian Muncul Kembali

Rendahnya permukaan air di Bendung Karian, Kabupaten Lebak, Banten, menyibak kembali lembaran sejarah yang selama ini terkubur di kedalaman. Kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah tersebut membuat sisa-sisa perkampungan yang tenggelam puluhan tahun lalu perlahan menampakkan diri. Bagi sebagian orang, pemandangan ini ibarat mesin waktu yang membawa mereka bernostalgia ke masa lalu.

Fenomena ini menjadi perbincangan hangat warga sekitar yang berdatangan untuk melihat langsung bekas-bekas rumah, jalan, dan fasilitas umum yang dulu menjadi pusat kehidupan. Bangunan-bangunan itu kini hanya menyisakan pondasi batu, tiang-tiang kayu yang lapuk, dan pecahan genting yang berserakan. Namun di balik kondisi yang memprihatinkan, tersimpan memori kolektif tentang sebuah komunitas yang pernah tumbuh dan berkumpul di sana.

Kampung yang Dikorbankan demi Kemajuan

Kampung yang kini kembali muncul ke permukaan itu dahulunya bernama Kampung Cisalak, sebuah permukiman yang dihuni sekitar 150 kepala keluarga. Letaknya di lembah subur yang dialiri sungai kecil, sehingga menjadi lokasi strategis untuk pertanian dan peternakan. Warga setempat menggantungkan hidup dari padi, palawija, dan hasil hutan. Namun, pada awal 1990-an, pemerintah memutuskan membangun Bendung Karian untuk memenuhi kebutuhan irigasi dan air baku di wilayah Banten dan sekitarnya. Proyek strategis nasional itu memaksa seluruh penduduk direlokasi ke daerah yang lebih tinggi.

Proses relokasi berjalan dengan beragam dinamika. Sebagian warga menerima dengan lapang dada karena mendapat ganti rugi yang memadai, sementara yang lain harus merelakan tanah leluhur mereka ditenggelamkan. “Waktu itu rasanya berat sekali meninggalkan kampung halaman. Tapi kami paham, ini demi kepentingan yang lebih besar,” kenang Sukirman (67), salah satu mantan warga yang kini menetap di Desa Karangkamulyan. Kini, saat melihat kembali kampungnya, ia tak kuasa menahan haru.

Di sela-sela reruntuhan, sejumlah warga tampak menyusuri kembali jalan setapak yang dulu mereka lalui setiap hari. “Rasanya seperti mimpi. Tiba-tiba semuanya kembali, meskipun hanya bayangan,” ujar seorang ibu yang membawa serta anak dan cucunya. Dengan mata berkaca-kaca, ia menunjuk sudut rumah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Suasana haru bercampur bahagia menyelimuti area yang biasanya hanyut dalam keheningan air.

Jejak-jejak yang Tersisa

Surutnya air hingga menyentuh level terendah dalam satu dekade terakhir menguak banyak artefak masa lalu. Selain pondasi rumah, nampak pula sumur-sumur tua yang masih menganga, bekas balai desa, dan bahkan fondasi sebuah musala kecil yang dulu menjadi tempat ibadah warga. Di sudut lain, pohon-pohon yang dulunya menjadi batas kebun kini menjulang kering, menandakan bahwa area tersebut pernah dihuni.

Fenomena ini menjadi daya tarik sekaligus pengingat akan pentingnya keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan pelestarian ingatan kolektif. Banyak pengunjung yang mengabadikan momen dengan kamera ponsel, mengunggahnya ke media sosial, hingga memicu diskusi tentang dampak jangka panjang pembangunan bendungan. Sejarawan lokal, Dadang Hermawan, menyebut bahwa kemunculan Kampung Cisalak ini bisa menjadi bahan edukasi sejarah lingkungan bagi generasi muda.

Kemarau dan Urgensi Tata Kelola Air

Di sisi lain, menurunnya debit air Bendung Karian menimbulkan kekhawatiran akan krisis air bersih bagi wilayah hilir. Bendung dengan kapasitas tampung 115 juta meter kubik ini sejatinya menjadi sumber utama irigasi ribuan hektare sawah dan pasokan air minum untuk Kota Serang dan Cilegon. Penurunan drastis ini memicu pemerintah daerah untuk mengimbau masyarakat agar hemat air dan mewaspadai potensi kebakaran lahan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak mencatat bahwa kemarau tahun ini lebih kering dari rata-rata, dengan beberapa desa mulai mengalami kesulitan air bersih. “Kami terus memantau kondisi bendung dan mendistribusikan bantuan ke wilayah yang terdampak. Fenomena kampung tenggelam yang muncul ini memang menjadi pemandangan langka, tapi juga menjadi alarm bagi kita semua,” ujar Kepala BPBD Lebak, Asep Hidayat.

Selain itu, para ahli hidrologi mengingatkan bahwa perubahan iklim memperparah siklus kering, sehingga kejadian serupa bisa berulang di masa mendatang. Masyarakat pun diharapkan mulai beradaptasi dengan menampung air hujan dan memperbaiki sistem irigasi secara swadaya.

Nostalgia dan Pembelajaran Masa Depan

Kemunculan kembali Kampung Cisalak bukan sekadar tontonan alam yang unik, melainkan juga ajang refleksi. Bagi para mantan penghuni, ini adalah kesempatan untuk mengajak anak-cucu melihat asal-usul keluarga. Bagi pemerintah, ini menjadi momentum mengevaluasi kembali dampak sosial dan lingkungan dari proyek-proyek besar.

Seiring berjalannya waktu, air akan kembali naik dan sisa-sisa kampung itu akan tenggelam lagi. Namun ingatan tentang kehidupan yang pernah ada di sana tidak akan hilang. Justru, dari puing-puing yang tersingkap, lahir kesadaran bahwa sejarah dan alam seringkali berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang mau mendengar.

Dengan semburat senja di ujung bendung, warga satu per satu meninggalkan area tersebut, membawa pulang foto dan rasa syukur atas perjalanan hidup yang telah dilalui. Kampung Cisalak mungkin telah tiada, tapi cerita dan pelajarannya akan terus mengalir seperti air yang suatu saat nanti kembali mengisi lembah itu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User