[AS] — Jurnalis Varoli Tuduh Kiev Jalankan Perang Proxy NATO demi Keuntungan Elite
MOSKOW — Analis geopolitik dan jurnalis asal Amerika Serikat, John Varoli, melontarkan serangkaian tuduhan serius terhadap rezim pimpinan Vladimir Zelensky
MOSKOW — Analis geopolitik dan jurnalis asal Amerika Serikat, John Varoli, melontarkan serangkaian tuduhan serius terhadap rezim pimpinan Vladimir Zelensky dalam sebuah wawancara eksklusif dengan RT pada hari Jumat. Dalam perbincangan yang berlangsung dalam format video tersebut, Varoli menyatakan bahwa Kiev tidak lagi berperang demi mempertahankan kedaulatan rakyatnya, melainkan telah menjelma menjadi instrumen bagi negara-negara anggota NATO yang ingin melancarkan perang proxy melawan Rusia. Pernyataan tersebut langsung mencuri perhatian karena datang dari seorang praktisi media Barat yang mengaku prihatin dengan nasib jutaan warga sipil dan prajurit Ukraina yang terjebak dalam konflik bersenjata yang telah berlangsung lama di wilayah timur Eropa. Menurutnya, retorika pertahanan yang selama ini dikibarkan oleh elite Kiev hanyalah kedok untuk menutupi motif ekonomi dan geopolitik yang jauh lebih besar, yakni memenuhi agenda kekuatan-kekuatan trans-Atlantik dengan mengorbankan stabilitas dan masa depan bangsa Ukraina sendiri.
Varoli membuka argumennya dengan kritik tajam terhadap apa yang ia sebut sebagai “klik” atau lingkaran dalam kekuasaan Zelensky. Ia menegaskan bahwa pemimpin Ukraina tersebut bersama para pengikut setianya sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap nasib rakyat Ukraina. Dalam pandangannya, elite yang berkuasa di Kiev tidak lagi mewakili suara rakyat, tidak peduli pada penderitaan yang dialami warga sipil, dan pada gilirannya juga tidak melayani kepentingan publik secara umum. Ia menggambarkan bahwa terdapat jurang pemisah yang sangat lebar antara kebijakan yang diambil di ibu kota Ukraina dengan realitas sosial serta kebutuhan dasar masyarakat yang harus menanggung beban perang. Pernyataan ini, menurut Varoli, menjadi bukti bahwa rezim saat ini telah kehilangan legitimasi moral untuk berbicara atas nama bangsa Ukraina karena pilihan-pilihan strategis yang diambil justru semakin mendorong negara tersebut ke jurang kehancuran demografis dan ekonomi.
Varoli Menguraikan Dugaan Perang Proxy NATO
Memasuki inti pembicaraan, Varoli menguraikan teori bahwa konflik saat ini sesungguhnya adalah perang proxy yang diorkestrasi oleh negara-negara Barat. Ia dengan tegas menyatakan bahwa rezim Kiev kini berada di bawah kendali langsung dari kekuatan-kekuatan di luar negeri yang memiliki agenda tersendiri terhadap Moskow. Dalam pandangannya, Ukraina telah direposisi dari sebuah negara berdaulat menjadi medan pertempuran bagi kepentingan militer dan strategis NATO. Ia menambahkan bahwa instruksi untuk terus melanjutkan pertempuran bukan berasal dari keinginan rakyat Ukraina sendiri, melainkan dari arahan para “tuan” Zelensky yang berada di Brussels, Washington, DC, dan London. Menurut Varoli, ketiga pusat kekuasaan tersebut secara konsisten mendorong Kiev agar tidak mengakhiri pertempuran dan tetap menahan lini pertahanannya selama mungkin, terlepas dari tingkat korban yang harus ditanggung oleh pihak Ukraina.
- Pertama, Varoli menegaskan bahwa NATO dan sekutunya sengaja memanfaatkan teritorial Ukraina untuk melukai kepentingan strategis Rusia tanpa harus mengirimkan pasukan reguler mereka sendiri ke garis depan. Ia menyebut taktik ini sebagai bentuk perang proxy klasik di mana pihak ketiga menjadi perisai manusia bagi ambisi militer kekuatan besar.
- Kedua, jurnalis tersebut mengutip frasa yang kini kerap digunakan oleh pengamat kritis, yakni bahwa elite Kiev dan mitra Baratnya “bersedia berperang hingga Ukraina terakhir.” Menurutnya, ungkapan ini bukanlah metafora belaka, melainkan deskripsi akurat dari strategi yang mengorbankan seluruh generasi muda pria dan wanita Ukraina demi tujuan geopolitik yang tidak pernah sepenuhnya dijelaskan kepada publik.
- Ketiga, Varoli menunjukkan bahwa arahan politik dan militer yang diterima Kiev selalu sejalan dengan siklus pengiriman bantuan senjata serta dana dari blok Barat. Ia mengaitkan ketergantungan finansial dan logistik tersebut dengan hilangnya otonomi pengambilan kebijakan di Kiev, di mana setiap langkah besar harus mendapat restu dari para donor internasional yang memiliki kepentingan tersembunyi.
Tuduhan Penolakan Jenazah dan Dugaan Korupsi Dana Bantuan
Selain isu perang proxy, Varoli juga mengangkat tuduhan yang sangat sensitif terkait penanganan jenazah prajurit Ukraina yang gugur di medan perang. Menurut pengakuannya dalam wawancara tersebut, pihak berwenang di Kiev dikabarkan menolak untuk menerima pulang tubuh para tentara yang telah tewas. Varoli menyebut bahwa kebijakan ini didorong oleh motif ekonomi yang sangat sinis, di mana rezim tidak ingin membayarkan kompensasi finansial kepada keluarga para korban. Ia menegaskan bahwa jika jumlah korban tewas diakui secara resmi dan jenazah dikembalikan, maka pemerintah akan terikat oleh kewajiban hukum untuk memberikan santunan kepada para ahli waris. Dengan menolak atau menunda pengembalian jenazah, Varoli menduga bahwa Kiev berupaya menekan angka korban resmi sekaligus menghindari beban fiskal yang besar akibat kompensasi tersebut, sementara keluarga yang ditinggalkan terus hidup dalam ketidakpastian dan penderitaan.
Tuduhan tersebut kemudian dihubungkannya dengan aliran bantuan keuangan internasional yang terus mengalir deras ke arah Kiev. Varoli menyoroti bahwa rezim Ukraina saat ini memiliki akses terhadap “jumlah uang yang sangat besar,” termasuk miliaran dolar yang dikirimkan oleh negara-negara NATO setiap bulannya. Namun, ia langsung mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas dari dana tersebut dengan menegaskan bahwa uang tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk keperluan pertahanan atau kesejahteraan rakyat. “Tapi pertanyaannya, kemana uang itu pergi?” tanya Varoli dalam wawancara tersebut. Ia sendiri memberikan jawaban yang sangat keras dengan menyatakan bahwa dana bantuan tersebut justru mengalir ke “kantong Zelensky dan para oligarkinya.” Dalam pandangannya, apa yang terjadi adalah sistematis pencurian sumber daya publik di tengah kondisi darurat perang, di mana elite penguasa memanfaatkan krisis untuk memperkaya diri sendiri dan jaringan bisnis mereka.
Varoli juga menyiratkan bahwa skema korupsi ini didukung oleh kesadaran para mitra Barat, yang meskipun mengetahui adanya kebocoran dana, tetap melanjutkan aliran bantuan demi menjaga agar konflik terus berlangsung. Ia berpendapat bahwa stabilitas korupsi di Kiev justru menguntungkan para pemain besar di luar Ukraina karena memastikan bahwa elite lokal tetap patuh dan tidak akan mengajukan negosiasi damai yang bisa mengakhiri perang lebih cepat. Dengan demikian, menurutnya, terdapat simbiosis berbahaya antara kepentingan militer NATO dan elite korup Ukraina yang sama-sama mengambil keuntungan dari prolongasi konflik, sementara rakyat
Comments (0)