Application Name Application Name

Patokan

DI Yogyakarta

YOGYAKARTA — Rangkaian Peringatan 14 Tahun UU Keistimewaan Resmi Ditutup

Suasana hangat dan meriah menyelimuti kawasan Teras Malioboro Beskalan, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (12/9) malam. Setelah berlangsung maraton selama 30 har

YOGYAKARTA — Rangkaian Peringatan 14 Tahun UU Keistimewaan Resmi Ditutup

Suasana hangat dan meriah menyelimuti kawasan Teras Malioboro Beskalan, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (12/9) malam. Setelah berlangsung maraton selama 30 hari berturut-turut, rangkaian peringatan 14 tahun Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UU Keistimewaan DIY) secara resmi diakhiri. Helatan kebudayaan bertajuk Memetri Kaistimewan ini sukses menggerakkan dinamika sosial dan ekonomi masyarakat hingga ke tingkat tapak.

Puncak penutupan tersebut memperlihatkan betapa keistimewaan Yogyakarta bukan sekadar narasi hukum atau struktur kewenangan tata negara, melainkan napas kehidupan masyarakat sehari-hari. Terhitung sebanyak 298 kegiatan kebudayaan berhasil digelar secara masif di lima kabupaten/kota hingga menjangkau seluruh kalurahan (desa) se-DIY, menjadikannya salah satu festival kebudayaan berbasis komunitas terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Panggung Inklusif dan Ekspresi Budaya Rakyat

Penutupan festival di Teras Malioboro menampilkan pertunjukan seni dan musik yang unik, inklusif, dan menyentuh. Acara tersebut tidak hanya menghadirkan seniman-seniman kenamaan, tetapi juga memberikan panggung seluas-luasnya bagi anak-anak serta kelompok penyandang disabilitas (difabel). Unsur inklusivitas ini menegaskan pesan kuat bahwa keistimewaan Yogyakarta adalah milik seluruh elemen masyarakat tanpa ada yang ditinggalkan.

Kehadiran para pengolah seni dari kalangan difabel membuktikan bahwa nilai kebudayaan Jogja terus hidup dan adaptif terhadap nilai kemanusiaan universal. Momen ini memantik riuh tepuk tangan dari ribuan warga lokal maupun wisatawan yang memadati pusat perbelanjaan kerajinan khas Yogyakarta tersebut.

Pesan Sultan: Makna Filosofis Keistimewaan DIY

Hadir mewakili Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menyampaikan amanat penting terkait esensi sejati dari status keistimewaan wilayah ini.

"Tema Mulyaning Manah, Mukti Ing Bumi, Wibawaning Jagad memberi pesan yang dalam, kemuliaan hati menjadi dasar dalam membangun kehidupan sosial yang tentram. Kemakmuran bumi mengingatkan kita bahwa pembangunan harus berpijak pada kelestarian, keadilan, dan keberlanjutan," ujar Ni Made saat membacakan sambutan tertulis Gubernur DIY, Sabtu (12/9) malam.

Ni Made menegaskan bahwa status keistimewaan DIY tidak boleh dipahami hanya sebagai agenda seremonial tahunan semata. "Keistimewaan DIY harus terus dirawat melalui kerja bersama, tidak hanya dalam kegiatan seremonial, tetapi juga dalam kebijakan, pelayanan, karya, dan perilaku masyarakat sehari-hari," tambahnya menekankan komitmen Pemprov DIY.

Relevansi UU Keistimewaan dan Dampak Ekonomi Masyarakat

Sejak disahkannya UU No. 13 Tahun 2012, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki landasan hukum yang kokoh dalam mengelola lima pilar keistimewaan, yaitu tata cara pengisian jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur, kelembagaan, kebudayaan, pertanahan, serta tata ruang. Pengalokasian Dana Keistimewaan (Dana Keis) secara berkelanjutan diarahkan untuk mengikis ketimpangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan warga di pelosok desa.

Berikut adalah ringkasan capaian pelaksanaan rangkaian peringatan 14 tahun UU Keistimewaan DIY:

Indikator Pelaksanaan Capaian & Data Kunci
Durasi Kegiatan 30 hari penuh tanpa henti
Total Acara 298 kegiatan kebudayaan dan kemasyarakatan
Jangkauan Wilayah Seluruh Kalurahan di 5 Kabupaten/Kota se-DIY
Fokus Partisipasi Inklusif (Seniman, Anak-anak, Komunitas Difabel, Pelaku UMKM)

Pemilihan lokasi penutupan di Teras Malioboro Beskalan juga memberikan dampak ekonomi secara langsung bagi para pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang telah direlokasi ke tempat tersebut. Tingginya antusiasme pengunjung yang memadati area acara terbukti mendorong perputaran transaksi ekonomi lokal, menegaskan bahwa pemajuan kebudayaan berbanding lurus dengan penguatan ekonomi rakyat.

Merawat Keistimewaan di Masa Depan

Melalui momentum peringatan ke-14 ini, Pemerintah Daerah DIY mengajak seluruh warga untuk terus menjaga nilai gotong royong dan kesederhanaan yang menjadi identitas khas Yogyakarta. Nilai-nilai luhur kebudayaan diharapkan tetap kokoh dan tidak meluntur di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi.

Dengan resminya penutupan perayaan Memetri Kaistimewan, keistimewaan Yogyakarta kembali ditegaskan sebagai fondasi sosial yang kuat. Pembangunan di DIY dipastikan akan terus mengedepankan asas kemanusiaan, kelestarian lingkungan, dan kemakmuran bersama demi mewujudkan Yogyakarta yang berbudaya, sejahtera, dan bermartabat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer3
TENTANG PENULIS writer3

Bacaan Terkait

Comments (0)

User