Trump Desak Israel Tarik Pasukan dari Suriah dan Lebanon
Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara langsung dan tegas meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk segera menarik seluruh pasukan militer Zionis dari wilayah Suriah...
Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara langsung dan tegas meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk segera menarik seluruh pasukan militer Zionis dari wilayah Suriah dan Lebanon. Desakan ini disampaikan dalam komunikasi tertutup beberapa hari terakhir, menandai tekanan paling tajam Washington terhadap Tel Aviv sejak Trump kembali menjabat. Trump menilai kehadiran militer Israel yang berkepanjangan di kedua negara justru menjadi pemicu eskalasi berbahaya dan mengancam kepentingan strategis AS di Timur Tengah.
Menurut tiga pejabat Gedung Putih yang mengetahui isi pembicaraan, Trump tidak menyampaikan permintaan itu secara diplomatik. Ia menekankan bahwa ia mendukung penuh hak Israel untuk mempertahankan diri, namun memperluas zona penyangga tanpa batas waktu yang jelas serta melakukan operasi harian di luar perbatasan yang disepakati internasional merupakan tindakan yang memperkeruh situasi. “Kita tidak bisa membiarkan ketegangan ini membesar menjadi perang regional yang akan menyedot sumber daya kita,” demikian salah satu poin yang disampaikan Trump, menurut seorang pejabat.
Konteks Perluasan Militer Israel
Sejak awal tahun 2025, militer Israel memperluas jangkauan operasinya di Suriah selatan, memanfaatkan kekosongan kekuasaan pasca runtuhnya rezim Assad. Pasukan Israel menduduki zona demiliterisasi di Dataran Tinggi Golan dan membangun pos-pos baru lebih dalam ke wilayah Suriah. Secara paralel, di Lebanon selatan, meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah, Israel masih melakukan puluhan serangan udara dan mempertahankan kehadiran pasukan darat di sejumlah desa strategis. Tel Aviv beralasan bahwa langkah ini diperlukan untuk mencegah penyelundupan senjata dari Iran dan untuk menumpas sisa-sisa infrastruktur milisi.
Namun, data intelijen yang diterima Gedung Putih menunjukkan bahwa operasi tersebut tidak hanya gagal mengurangi kapasitas Hizbullah secara signifikan, tetapi malah memicu rekrutmen baru di kelompok bersenjata itu. Di Suriah, kehadiran Israel turut menghambat upaya pemerintah transisi yang dipimpin Hayat Tahrir al-Sham untuk mengonsolidasikan kontrol dan menarik bantuan rekonstruksi internasional. Trump, yang sejak kampanye berjanji mengakhiri perang tanpa akhir, menilai risiko yang muncul lebih besar daripada manfaat keamanan yang diklaim Netanyahu.
Isi Lengkap Desakan dan Argumentasi Trump
Dalam pembicaraan via saluran aman, Trump tidak hanya meminta penarikan bertahap namun juga menetapkan batas waktu implisit. Ia mengingatkan Netanyahu bahwa dukungan militer AS, termasuk pengiriman bom-bom berat yang sempat ditahan era Biden, tidak bisa dianggap sebagai kredit tanpa batas jika Israel terus mengabaikan kekhawatiran sekutu utamanya. “Presiden mengatakan dengan gamblang: kalian mengambil kebijakan yang bisa menyeret kami ke dalam konflik yang tidak kami inginkan,” ujar seorang mantan pejabat kementerian luar negeri yang masih terlibat dalam diskusi informal.
Trump juga menyoroti bagaimana ekspansi militer Israel mempersulit upaya normalisasi hubungan dengan Arab Saudi dan memperkuat posisi Iran di panggung internasional. Ia meyakini bahwa mundurnya Israel dari Suriah dan Lebanon selatan akan menciptakan kondisi bagi poros anti-Iran yang lebih solid, termasuk mendorong negara-negara Teluk untuk berinvestasi di rekonstruksi Lebanon. Bagi Trump, pendekatan ini sejalan dengan doktrin transaksionalnya: mengurangi kewajiban keamanan AS sambil membuka peluang bisnis.
Reaksi dan Dinamika Internal Israel
Desakan ini menempatkan Netanyahu dalam posisi terhimpit. Koalisi sayap kanan yang menopang pemerintahannya, terutama faksi-faksi seperti Otzma Yehudit dan Religious Zionism, telah lama mendorong pendudukan permanen atas zona penyangga di Suriah dan penghancuran total Hizbullah di Lebanon. Jika Netanyahu mematuhi permintaan Trump, ia berisiko kehilangan mayoritas parlementer. Di sisi lain, mengabaikannya bisa mengorbankan hubungan dengan sekutu paling vital yang kini kembali menunjukkan ketegasan.
Para analis politik di Tel Aviv menilai Netanyahu kemungkinan akan mencoba membeli waktu—menjalankan penarikan terbatas dan kosmetik sambil terus melakukan operasi melalui proxy lokal atau serangan udara sporadis. Namun Gedung Putih kali ini tampak lebih serius: Departemen Luar Negeri telah mengindikasikan akan mengaitkan bantuan militer tambahan dengan kemajuan penarikan yang terverifikasi melalui satelit pengintai dan laporan UNIFIL di Lebanon.
Tanggapan Regional dan Implikasi Geopolitik
Negara-negara Arab menyambut sinyal keras dari Washington ini. Pemerintah Mesir dan Yordania, yang selama setahun terakhir frustrasi dengan diplomasi pasif AS, menyebut langkah Trump sebagai koreksi yang sudah lama dinantikan. Arab Saudi mengirimkan pesan dukungan informal, menegaskan kembali bahwa normalisasi penuh dengan Israel hanya mungkin jika pendudukan dihilangkan dan solusi dua negara kembali dibahas. Di Beirut, Perdana Menteri Nawaf Salam menyatakan bahwa penarikan penuh Israel dari wilayah selatan merupakan prasyarat mutlak bagi stabilitas Lebanon dan implementasi penuh Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Sedangkan Iran, yang menjadi target utama strategi Israel, sejauh ini memilih merespons secara hati-hati. Teheran melalui saluran diplomatik Swiss mengisyaratkan bahwa penarikan Israel akan dianggap sebagai langkah deeskalasi positif, meskipun para pejabat intelijen AS menduga Iran akan terus mempersenjatai kembali Hizbullah melalui rute darat Suriah-Lebanon begitu Israel pergi. Trump, kata seorang pembantu dekatnya, menyadari risiko itu tetapi berhitung bahwa biaya untuk menahan Iran lebih rendah jika Israel tidak memprovokasi konfrontasi langsung.
Prospek dan Tantangan ke Depan
Meskipun desakan ini merupakan sinyal perubahan signifikan dalam kebijakan AS di bawah Trump, realisasinya menghadapi banyak rintangan. Di lapangan, tidak ada kekuatan yang dapat mengisi kekosongan segera setelah penarikan Israel. Pemerintah transisi Suriah masih lemah, tentara Lebanon belum mampu mengontrol perbatasan selatan secara efektif, dan pasukan penjaga perdamaian PBB kekurangan mandat serta sumber daya. Tanpa paket komprehensif yang melibatkan rekonstruksi, jaminan keamanan bagi komunitas perbatasan Israel, dan pengaturan diplomatik baru, penarikan yang terburu-buru bisa menciptakan kekacauan baru.
Namun Trump, yang dikenal dengan gaya pengambilan keputusan cepat dan fokus pada hasil jangka pendek, tampaknya akan terus mendorong. Pertemuan tingkat menteri dijadwalkan pekan depan di Washington untuk membahas peta jalan konkret. Yang jelas, masa kehadiran tanpa batas Israel di Suriah dan Lebanon kini berada di bawah sorotan tajam sekutu utamanya, dan Netanyahu mungkin harus memilih antara mempertahankan wilayah tak bertuan itu atau mempertahankan dukungan strategis dari Gedung Putih.
Comments (0)