Tragedi Bendungan Gleno: Runtuh Usai Dibangun, Ratusan Tewas
Pada 1 Desember 1923, sebuah tragedi besar mengguncang kawasan pegunungan Lombardy, Italia utara. Bendungan Gleno yang baru saja dinyatakan selesai dibangun di wilayah Bergamo roboh secara mendadak, m...
Pada 1 Desember 1923, sebuah tragedi besar mengguncang kawasan pegunungan Lombardy, Italia utara. Bendungan Gleno yang baru saja dinyatakan selesai dibangun di wilayah Bergamo roboh secara mendadak, melepas jutaan meter kubik air ke lembah di bawahnya. Peristiwa yang kelak dikenal dengan nama Disastro del Gleno ini menewaskan ratusan orang dan meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh bagi warga setempat hingga hari ini.
Bendungan Gleno dibangun untuk keperluan pembangkit listrik tenaga air, sebuah proyek yang dianggap strategis bagi percepatan industrialisasi kawasan utara Italia pada masa itu. Struktur beton setinggi sekitar 53 meter ini berdiri di atas aliran Sungai Gleno, anak sungai Dezzo, di tengah medan pegunungan yang terjal dan sulit dijangkau. Proses pembangunannya berlangsung beberapa tahun lamanya, melibatkan ratusan pekerja yang bekerja di ketinggian, hingga akhirnya struktur tersebut dinyatakan rampung pada 1923 dan waduk mulai diisi air untuk menggenangi area di belakang dinding bendungan.
Kronologi Keruntuhan
Memasuki akhir November 1923, hujan deras mengguyur kawasan pegunungan tersebut tanpa henti selama berhari-hari. Waduk yang baru saja terisi penuh pun menerima tekanan tambahan dari curah hujan yang luar biasa besarnya. Pada pagi hari 1 Desember, sekitar pukul 07.15 waktu setempat, salah satu bagian tubuh bendungan akhirnya jebol. Kegagalan pada satu lengkung beton itu dengan cepat merambat ke bagian-bagian lainnya, membuat seluruh struktur ambruk dalam waktu yang sangat singkat.
Dinding air setinggi puluhan meter kemudian mengalir deras menuruni lembah dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Desa-desa yang berada di sepanjang aliran Sungai Dezzo hingga pertemuannya dengan Sungai Oglio, seperti Dezzo, Corna di Darfo, dan kawasan sekitar Angolo Terme, tidak sempat menyelamatkan diri. Banyak warga yang masih tertidur atau sedang bersiap memulai hari tersapu oleh banjir bandang yang datang tanpa peringatan sama sekali. Dalam hitungan menit, rumah-rumah, jembatan, dan lahan pertanian di sepanjang jalur air hancur berantakan.
Jumlah korban tewas diperkirakan mencapai ratusan jiwa, dengan angka yang bervariasi menurut sumber. Beberapa catatan sejarah menyebut kisaran 350 hingga 500 orang meninggal dunia, termasuk banyak perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia yang tak sempat menyelamatkan diri. Ribuan warga lainnya kehilangan rumah, ternak, serta mata pencaharian mereka. Lembah yang sebelumnya hijau dan tenang berubah menjadi hamparan lumpur, puing, dan penderitaan dalam sekejap mata.
Akar Penyebab Bencana
Investigasi yang digelar setelah bencana mengungkap sejumlah kelemahan yang serius. Bendungan Gleno menggunakan desain lengkung ganda yang pada masa itu masih tergolong baru dan belum teruji dalam skala sebesar itu. Lebih jauh lagi, proses konstruksinya disebut berjalan terburu-buru dan kualitas materialnya dipertanyakan. Ada indikasi bahwa ketinggian struktur sempat ditambah dari rencana awal tanpa penguatan yang memadai, sehingga kemampuan bendungan menahan tekanan air tidak sebanding dengan beban yang harus ditanggungnya.
Proses hukum pun akhirnya berjalan di pengadilan Italia. Pihak-pihak yang bertanggung jawab atas perancangan dan pengawasan proyek diadili atas kelalaian yang menyebabkan jatuhnya korban dalam jumlah besar. Insinyur yang memimpin proyek, Lorenzo Santangelo, dijatuhi hukuman penjara atas perannya dalam bencana tersebut. Kasus ini menjadi pelajaran pahit bagi dunia teknik sipil Eropa dan mendorong evaluasi ulang terhadap standar keselamatan bendungan yang berlaku kala itu.
Warisan bagi Generasi Kini
Reruntuhan Bendungan Gleno masih berdiri kokoh di lembah pegunungan itu hingga hari ini, menjadi semacam museum terbuka yang mengingatkan betapa mahalnya harga dari kelalaian. Setiap tahun, upacara peringatan sederhana digelar untuk mengenang para korban. Monumen dan plakat peringatan dipasang di sejumlah lokasi yang terdampak agar tragedi yang sama tidak pernah dilupakan masyarakat.
Bagi warga Bergamo dan Italia secara umum, peristiwa ini bukan sekadar angka dalam buku sejarah. Kisah tentang air bah yang datang tanpa peringatan diturunkan dari generasi ke generasi, dan jejak kesedihannya masih terasa dalam ingatan kolektif masyarakat setempat. Bencana itu kerap disebut sebagai salah satu tragedi paling kelam yang pernah dialami kawasan pegunungan Italia utara.
Pelajaran dari Gleno dinilai tetap relevan hingga kini. Kecepatan pembangunan tidak boleh mengalahkan keselamatan, dan setiap struktur besar yang menahan kekuatan alam harus dirancang dengan kehati-hatian, diawasi dengan ketat, serta diuji secara menyeluruh sebelum dinyatakan layak digunakan. Jika tidak, sejarah kelam seperti yang terjadi di Lembah Scalve lebih dari satu abad lalu berisiko terulang kembali di tempat lain.




Comments (0)