Tewas di Depan Klinik Mordent: Saksi Ungkap Detik-Detik Terakhir Sutrimo
Kebayoran Baru diguncang peristiwa tragis pada Senin (27/7/2026). Seorang pria bernama Sutrimo (45) ditemukan tidak bernyawa di area depan Klinik Mordent, Jalan Panglima Polim Raya. Kejadian ini sonta...
Kebayoran Baru diguncang peristiwa tragis pada Senin (27/7/2026). Seorang pria bernama Sutrimo (45) ditemukan tidak bernyawa di area depan Klinik Mordent, Jalan Panglima Polim Raya. Kejadian ini sontak menarik perhatian warga sekitar, terutama setelah saksi mata membeberkan detik-detik terakhir korban sebelum terkapar.
Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian dari Polres Metro Jakarta Selatan masih menyelidiki penyebab pasti kematian pria yang diketahui bekerja sebagai pengemudi ojek daring itu. Namun, kesaksian sejumlah warga sudah memberikan gambaran awal yang cukup dramatis.
Kronologi Menurut Saksi
Menurut Suparno, seorang penjual minuman keliling yang sudah lima tahun mangkal di seberang klinik, Sutrimo pertama kali terlihat datang sendirian sekitar pukul 10.00 WIB. Ia memarkirkan motor matic merah miliknya di depan klinik, lantas berjalan dengan langkah agak goyah menuju pintu masuk. "Saya kira dia datang buat periksa gigi, karena klinik itu memang spesialis gigi. Tapi jalannya sudah sempoyongan seperti orang mabuk," ujar Suparno saat ditemui di lokasi.
Pintu klinik saat itu belum sepenuhnya terbuka untuk pasien, sehingga Sutrimo sempat duduk di kursi tunggu luar yang tersedia. Saksi lain, seorang petugas parkir bernama Edi, melihat korban beberapa kali memegangi dada kiri dan terlihat napasnya tersengal. "Tangannya gemetar, keringat dingin mengucur deras. Saya sempat tanya mau dibantu apa, dia cuma menggeleng," kata Edi menambahkan.
Puncaknya terjadi sekitar sepuluh menit kemudian. Sutrimo tiba-tiba berdiri, lalu ambruk ke beton. Tubuhnya tergeletak dengan posisi punggung menghadap ke atas. Sejumlah warga panik dan berteriak memanggil petugas klinik. Seorang resepsionis dan perawat klinik bergegas keluar dan mencoba mengecek kesadaran korban, namun nyawa pria tersebut sudah tidak tertolong.
Respons Klinik dan Pihak Berwenang
Pihak manajemen Klinik Mordent melalui kuasa hukumnya, Marudut Siregar, menyampaikan rasa duka dan menegaskan bahwa pihaknya telah bertindak sesuai protokol darurat. "Begitu mendengar teriakan dari luar, tim medis kami langsung keluar dan melakukan pengecekan. Sayangnya, korban sudah meninggal. Kami langsung menghubungi polisi dan ambulans," ungkap Siregar. Ia menambahkan, klinik akan kooperatif penuh dalam penyelidikan, termasuk menyerahkan rekaman CCTV yang mencakup area tempat kejadian.
Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol Andi Wijaya, yang tiba di lokasi bersama tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor), menjelaskan bahwa petugas langsung memasang garis polisi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). "Kami menemukan jenazah dengan posisi telungkup. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Barang-barang korban seperti dompet dan ponsel masih utuh, sehingga besar kemungkinan ini kejadian medis," jelasnya. Meski demikian, pihaknya tetap akan melakukan autopsi untuk memastikan penyebab kematian, sembari menunggu hasil toksikologi jika diperlukan.
Jenazah Sutrimo telah dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati guna pemeriksaan lebih lanjut. Hingga kini, keluarga korban belum memberikan keterangan resmi. Salah seorang tetangga yang ditemui di kediaman korban di kawasan Gandaria Utara mengaku terkejut. "Dia baik, tidak punya musuh. Memang akhir-akhir ini sering mengeluh cepat lelah dan pusing. Mungkin punya hipertensi," tutur tetangga yang enggan disebutkan namanya.
Kejadian ini mengingatkan kembali soal pentingnya kewaspadaan terhadap gejala penyakit jantung dan pembuluh darah yang bisa menyerang mendadak. Menurut data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di ibukota. Dr. Ratna Sari, seorang kardiolog yang dihubungi terpisah, menuturkan bahwa nyeri dada mendadak, keringat dingin, dan sesak napas merupakan tiga serangkai gejala utama serangan jantung yang kerap diabaikan. "Banyak yang berpikir itu masuk angin biasa. Padahal, menunda penanganan hanya akan memperburuk prognosis," katanya.
Sementara itu, aktivitas di Klinik Mordent sempat dihentikan sementara selama proses olah TKP berlangsung. Puluhan warga berkumpul di sekitar lokasi, menyaksikan petugas mengenakan rompi putih sibuk mengumpulkan barang bukti. Beberapa di antaranya merekam momen itu dengan ponsel. Polisi mengimbau warga untuk tidak menyebarkan video korban demi menghormati privasi keluarga.
Hingga sore hari, klinik kembali beroperasi setelah mendapatkan izin dari kepolisian. Selembar kertas pengumuman sempat ditempel di pintu depan yang bertuliskan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dan doa bagi almarhum Sutrimo. Di lokasi yang kini telah bersih, hanya tersisa sedikit bekas kapur polisi di aspal sebagai pengingat bahwa tragedi baru saja terjadi.
Pihak keluarga Sutrimo dijadwalkan datang ke Mapolsek Kebayoran Baru esok hari untuk memberikan keterangan sekaligus mengambil barang-barang pribadi korban. Sementara itu, komunitas ojek daring tempat korban bergabung berencana mengadakan penggalangan dana untuk pemakaman. "Kami kehilangan salah satu anggota terbaik. Sutrimo dikenal rajin dan tidak pernah membuat masalah. Biarlah urusan dunia diserahkan kepada yang berwenang, kami fokus meringankan beban keluarganya," ujar koordinator wilayah Mitra Ojek Daring, Rudi.
Hingga kini, teka-teki penyebab pasti kematian Sutrimo masih menunggu hasil resmi. Publik pun berharap proses penyelidikan berlangsung transparan, agar tidak ada spekulasi liar yang berkembang di media sosial yang justru menyakiti perasaan keluarga yang ditinggalkan.
Comments (0)