Megawati Kenang 30 Tahun Kudatuli: 'Peristiwa Kelam Itu Jangan Terulang'

Jakarta — Tiga dekade berlalu, luka Lama itu belum pudar. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memperingati 30 tahun tragedi Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) dengan penuh khidma...

Jul 28, 2026 - 08:38
0 0
Megawati Kenang 30 Tahun Kudatuli: 'Peristiwa Kelam Itu Jangan Terulang'

Jakarta — Tiga dekade berlalu, luka Lama itu belum pudar. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memperingati 30 tahun tragedi Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) dengan penuh khidmat, seraya menegaskan bahwa peristiwa berdarah tersebut jangan pernah kembali terjadi di Indonesia.

Pada peringatan yang berlangsung di bekas Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Megawati meresmikan Monumen Kudatuli, simbol perlawanan dan pengingat akan pengorbanan para kader partai yang menjadi korban represi Orde Baru. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan bahwa ingatan tentang serangan pada 27 Juli 1996 itu tak akan pernah terhapus dari benaknya.

"Saya tidak akan pernah lupa. Kejadian itu sangat membekas dan menjadi pelajaran penting bagi perjalanan demokrasi kita," ujar Megawati di hadapan ratusan hadirin yang terdiri dari keluarga korban, aktivis, dan simpatisan partai. Ia berharap monumen tersebut dapat menjadi saksi abadi agar generasi mendatang memahami harga mahal kebebasan.

Tragedi Kelam di Pusat Ibu Kota

Kudatuli tercatat sebagai lembaran gelap sejarah politik Indonesia. Pada hari itu, massa pendukung pemerintah yang diduga direkayasa bersama aparat keamanan menyerbu Kantor DPP PDI yang saat itu dikuasai pendukung Megawati. Gedung yang menjadi basis perlawanan setelah Megawati digulingkan sebagai ketua umum dalam Kongres PDI 1993 di Medan itu diserbu secara brutal, mengakibatkan lima orang tewas, puluhan luka-luka, dan sejumlah aktivis hilang hingga kini.

Insiden tersebut memicu kerusuhan besar di Jakarta dan menjadi titik awal gerakan reformasi yang akhirnya menumbangkan pemerintahan Presiden Soeharto pada 1998. Banyak kalangan menilai Kudatuli sebagai simbol kebiadaban kekuasaan yang menggunakan kekerasan untuk membungkam oposisi.

Kini, 30 tahun kemudian, PDI Perjuangan kembali menempati lokasi bersejarah tersebut sebagai kantor pusat. Keberadaan monumen di tempat yang sama menjadi pernyataan tegas bahwa partai dan rakyat tidak akan membiarkan sejarah kelam itu terulang.

Pesan Megawati: Jangan Pernah Ada Lagi

Dalam pidatonya, Megawati berkali-kali menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai demokrasi dan menghindari politik kekerasan. Menurutnya, harga yang telah dibayar oleh para pahlawan demokrasi terlalu mahal untuk disia-siakan. "Jangan sampai anak cucu kita mengalami apa yang kami alami. Ini bukan sekadar kenangan, melainkan peringatan bagi siapa pun yang berniat mengkhianati konstitusi dan kedaulatan rakyat," tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap demokrasi tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama seperti 1996, tetapi bisa menjelma melalui berbagai intimidasi dan pembungkaman terhadap suara kritis. Oleh karena itu, kewaspadaan kolektif mutlak diperlukan.

Megawati tak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada para keluarga korban yang selama 30 tahun tetap tegar dan setia pada cita-cita perjuangan. "Air mata ibu-ibu, istri, dan anak-anak yang kehilangan orang tercinta adalah saksi bisu yang tak boleh dilupakan oleh negara ini," ucapnya.

Monumen Kudatuli: Simbol Daya Tahan dan Penghormatan

Monumen yang diresmikan Megawati dirancang secara khusus untuk merepresentasikan semangat perlawanan. Terletak di pelataran gedung DPP PDI Perjuangan, monumen tersebut menampilkan sejumlah elemen simbolis, termasuk prasasti bertuliskan nama-nama korban yang gugur dan hilang. Api abadi kecil dinyalakan di tengah struktur sebagai lambang bahwa semangat mereka tak pernah padam.

Keluarga korban yang hadir terlihat terharu. Salah satu perwakilan keluarga, Anita, yang kehilangan ayahnya dalam insiden tersebut, menyatakan, "Kami lega akhirnya ada pengakuan resmi. Monumen ini bukan cuma untuk kami, tapi untuk seluruh rakyat Indonesia agar tahu apa yang terjadi di sini." Puan Maharani, Ketua DPR RI dan putri Megawati, juga tampak mendampingi ibunya sepanjang acara, menambah makna regenerasi perjuangan.

Setelah peresmian, Megawati menaburkan bunga di depan monumen dan memimpin doa bersama. Suasana hening menyelimuti lokasi, hanya diisi isak tangis dan lantunan doa.

Refleksi dan Harapan ke Depan

Tigapuluh tahun berlalu sejak peristiwa Kudatuli, Indonesia telah melalui reformasi dan mengalami perubahan besar. Namun, sejumlah pengamat menilai warisan autoritarianisme masih membayangi. Megawati pun mengingatkan bahwa pekerjaan rumah demokrasi belum selesai. "Reformasi bukan sekadar ganti rezim, tapi perubahan budaya politik. Kita harus pastikan negara hadir sebagai pelindung, bukan ancaman bagi rakyatnya," katanya.

Monumen Kudatuli diharapkan menjadi pengingat abadi bahwa kekuasaan tanpa akuntabilitas dapat berubah menjadi alat represi. Ia sekaligus menjadi destinasi edukasi bagi generasi muda untuk belajar dari masa lalu. Sejumlah sekolah dan komunitas telah merencanakan kunjungan ke lokasi tersebut sebagai bagian dari program pendidikan sejarah.

Menutup rangkaian peringatan, Megawati kembali menyerukan agar seluruh elemen bangsa bersatu menjaga demokrasi. "Kita boleh berbeda pilihan politik, tapi kita tidak boleh saling menghancurkan. Demokrasi kita terlalu berharga untuk dipertaruhkan," pungkasnya.

Malam itu, ribuan lilin dinyalakan di sekitar monumen oleh para peserta aksi, membentuk formasi "27 Juli" yang terlihat dari udara. Isyarat tersebut seakan menjadi bisikan lirih tetapi tegas: Kudatuli tak boleh dilupakan, dan tak boleh terjadi lagi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User