Menhut: Modifikasi Cuaca Belum Bisa Diterapkan di Bromo Selama 10 Hari

Kabar kurang menggembirakan datang dari upaya penanganan kebakaran yang melanda kawasan Gunung Bromo. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni memastikan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) be...

Aug 11, 2026 - 20:39
0 0
Menhut: Modifikasi Cuaca Belum Bisa Diterapkan di Bromo Selama 10 Hari

Kabar kurang menggembirakan datang dari upaya penanganan kebakaran yang melanda kawasan Gunung Bromo. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni memastikan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) belum dapat diterapkan di wilayah tersebut, setidaknya hingga sepuluh hari ke depan.

Padahal, modifikasi cuaca kerap menjadi andalan pemerintah untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan yang sulit dijangkau petugas darat. Lantas, mengapa langkah tersebut justru belum bisa dilakukan di Bromo?

Kondisi Atmosfer Belum Mendukung

Raja Juli menjelaskan, keberhasilan operasi modifikasi cuaca sangat bergantung pada ketersediaan awan hujan atau awan konvektif di langit sekitar lokasi kebakaran. Tanpa keberadaan awan yang memadai, penyemaian bahan semai seperti garam tidak akan menghasilkan hujan buatan yang diharapkan.

"Berdasarkan hasil analisis BMKG, kondisi atmosfer di atas kawasan Bromo dalam sepuluh hari ke depan belum memungkinkan untuk dilakukan modifikasi cuaca. Awan-awan potensial yang dibutuhkan belum terbentuk," ujar Raja Juli.

Situasi ini tidak terlepas dari musim kemarau yang masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa Timur. Kekeringan yang berkepanjangan membuat tutupan awan di kawasan pegunungan seperti Bromo menjadi sangat minim, sehingga peluang menurunkan hujan buatan praktis tertunda.

Kebakaran di Kawasan Konservasi

Seperti diketahui, kebakaran beberapa kali melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Api umumnya membakar padang savana, semak belukar, dan vegetasi kering di sekitar kaldera maupun lereng gunung. Vegetasi yang mengering akibat kemarau membuat api mudah menyebar, apalagi ditambah hembusan angin kencang di dataran tinggi.

Medan yang terjal dan curam menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan. Tidak semua titik api bisa dijangkau dengan peralatan pemadaman konvensional, sehingga harapan untuk memadamkan api dari udara, termasuk melalui hujan buatan, sempat mengemuka.

Namun, dengan kepastian bahwa modifikasi cuaca belum bisa dilakukan dalam waktu dekat, pemerintah harus memaksimalkan cara-cara lain untuk mengendalikan kobaran api agar tidak semakin meluas dan mengancam ekosistem kawasan konservasi tersebut.

Kawasan TNBTS sendiri merupakan salah satu destinasi wisata unggulan nasional sekaligus rumah bagi beragam flora dan fauna khas pegunungan. Kebakaran yang berlarut-larut dikhawatirkan merusak habitat alami serta mengganggu lanskap yang menjadi daya tarik utama wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pemadaman Darat dan Udara Dimaksimalkan

Raja Juli menegaskan, meski hujan buatan belum bisa diwujudkan, upaya pemadaman tidak kendor. Petugas gabungan yang terdiri dari personel TNBTS, Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, hingga relawan terus bekerja memadamkan api secara manual di garis terdepan.

"Kami mengerahkan seluruh sumber daya yang ada. Pemadaman darat terus berjalan, dan bila memungkinkan akan dibantu dengan water bombing menggunakan helikopter," kata dia.

Selain pemadaman langsung, petugas juga membuat sekat bakar atau ilaran api untuk mencegah penjalaran ke kawasan yang lebih luas. Strategi ini dinilai penting mengingat karakteristik kebakaran di padang savana yang bisa bergerak cepat mengikuti arah angin.

Imbauan untuk Wisatawan dan Masyarakat

Kementerian Kehutanan juga mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Penggunaan flare, kembang api, api unggun, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan disebut bisa menjadi sumber titik api baru di tengah kondisi vegetasi yang sangat kering.

"Kesadaran bersama sangat dibutuhkan. Satu percikan kecil bisa berubah menjadi kebakaran besar di musim kemarau seperti sekarang," tegas Raja Juli.

Pemerintah pun terus memantau perkembangan cuaca dari waktu ke waktu. Apabila kondisi atmosfer sudah memungkinkan, operasi modifikasi cuaca diklaim akan segera dieksekusi untuk membantu mempercepat pemadaman di kawasan Bromo dan sekitarnya.

Hingga saat ini, kebakaran di kawasan TNBTS masih menjadi perhatian serius pemerintah pusat maupun daerah. Seluruh pihak diminta tetap waspada mengingat musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User